Between Us and Chimpanzee (-and Indonesian Scientist)

Kathryn Piper

 

Pasti deh kita sering dengar lelucon tentang kemiripan antara kita dengan simpanse, gorila atau orang utan. Memang tidak salah, hanya sedikit perbedaan genetik yang dibutuhkan untuk merubah wujud simpanse menjadi “the most ecological successful species“ – manusia.

Bahkan sebelumnya akhirnya diketathui kalau manusia terdiri dari 23 kromosom, manusia juga dianggap mempunyai 24 kromosom seperti halnya simpanse, gorilla dan orang utan.  Konon selama 50 tahun semua ilmuwan percaya manusia juga terdiri dari 24 kromosom, bahkan sampai ada group ilmuwan yang terpaksa membatalkan hasil risetnya karena hanya menemukan 23 kromosom di sel liver. Baru akhirnya pada tahun 1955 ada seorang peneliti dari Indonesia bernama Joe-Hin Tjio menyatakan terus terang bahwa ia hanya menemukan 23 kromosom.

“It was not, until 1955, when an Indonesian named Joe-Hin Tjio travelled from Spain to Sweden to work with Albert Levan, that the truth dawned”

Dr. Tjio bahkan kembali menghitung gambar kromosom di buku dan hanya menemukan 23 kromosom, meski keterangan gambar menyatakan ada 24.  Penemuan ini menjadi tonggak sejarah baru dalam ilmu kedokteran dan genetik.  Penemuan Dr. Tjio ini dipublikasikan hanya dalam waktu 1 bulan setelah penemuannya di Scandinavian journal Hereditas – one of the leading genetics journals.

Penemuan tersebut sekaligus mengagetkan karena kromosom manusia yang hanya 23 berarti lebih sedikit daripada simpanse, gorilla dan orang utan. Setelah diteliti, penyebabnya bukan karena kromosom keluarga kera hilang satu buah, tapi ternyata  ada 2 buah kromosom yang berfusi/bergabung menjadi satu. Kromosom nomor 2  pada manusia diduga merupakan gabungan dari dua buah kromosom kera.  Selain kromosom nomor 2 tersebut, perbedaan lainnya pada kromosom manusia dan kera hanya sedikit. Secara genetik  sekitar 96%- 98% kita identik dengan keluarga kera. Maybe we should believe that Charles Darwin is not wrong at all.

“Chromosome 2, the second biggest of the human chromosomes, is in fact formed from the fusion of two medium-sized ape chromosomes”.

(lihat gambar perbandingan antara kromosom manusia (s) dan simpanse (c))

Seandainya saja si kromosom nomor 2 itu tidak menyambung, mungkin saat ini kita tidak ada di depan komputer, main iPhone dan membaca artikel ini, tapi sedang berada di kebun binatang atau hutan. Jadi hargailah setiap individu manusia yang kita temui dan bersyukurlah atas kehidupan sebagai manusia yang kita terima.

 

** Dr. Joe-Hin Tjio, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada tahun 1919. Beliau mengenyam pendidikan di sekolah Belanda dan lulus dari Institut Pertanian Bogor. Dr. Tjio sempat dipenjara pada masa pendudukan Jepang pada era perang dunia ke-2. Selepas masa perang, beliau melanjutkan studi ke Belanda melakukan riset tentang kromosom pada tanaman dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Eropa. Ketika sedang liburan musim panas di Sweden-Lund, Dr. Tjio yang kebetulan sedang mengamati jaringan sel paru pada manusia menyadari bahwa jumlah kromosom yang ada hanya 23 buah.

“It was during one of his vacation stays in Lund that Tjio made his discovery of the correct human chromosome count. For fully a half century it had been accepted that humans normally have 48 chromosomes”.

 

References:

Image: http://genetics.thetech.org/sites/default/files/humanChimpChromosomes.gif

GENOME – The autobiography of a species in 23 chapters (Matt Ridley).

Joe-Hin Tjio:

https://www.washingtonpost.com/archive/local/2001/12/04/joe-hin-tjio/eb0e4ff7-5674-466b-90b5-7f9407b07e4e/?utm_term=.0f76f0c07e0f

https://en.wikipedia.org/wiki/Joe_Hin_Tjio

 

 

One Response to "Between Us and Chimpanzee (-and Indonesian Scientist)"

  1. James  13 November, 2017 at 09:45

    tidak salah bahwa Joe-Hin Tjio adalah salah satu orang Cerdas Pandai Indonesia, hanya saja belum tentu atau memang tidak diakui oleh Indonesia, sayang sekali

    Terima kasih Dr Kathryn Piper buat artikelnya yang menarik, salam untuk dua jagoan yah tetap sehat baik semua GBU all

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *