Bila Usia Senja Tiba (4)

Erna Manurung

 

Artikel sebelumnya:

Bila Usia Senja Tiba (1)

Bila Usia Senja Tiba (2)

Bila Usia Senja Tiba (3)

 

“As, kamu lihat Pak Djoko pagi ini? Biasanya beliau sudah nongkrong di sini selesai sarapan,” tanya Lestari. Pagi itu ia menyambangi meja besar dimana Astry sedang menyortir berkas-berkas laporan.

Yang ditanya cuma menggeleng.

Lestari merasa ada yang kurang kali ini. Biasanya, setiap kali masuk ruangan semi aula ini, Pak Djoko dan minimal satu orang dari geng-nya sudah duduk-duduk. Entah itu mengobrol, entah itu memelototi televisi, atau membaca koran dan jurnal. Lestari sudah punya stok sapaan cukup banyak untuk menghangatkan suasana pagi di asrama. Terutama di ruang besar di mana para bapak selalu ngumpul di sini–semi aula atau beranda depan– pagi sesudah sarapan dan sore sebelum makan malam.

Ritme hidup seperti ini bagi orang muda seperti Astry atau bahkan dirinya yang masuk kategori perempuan dewasa madya, mungkin membosankan. Tapi belum tentu bagi para bapak & ibu atau Oma dan Opa itu. Pagi, pukul 6 mereka berolah raga ringan, jam 7 sarapan. Kalau ada kegiatan bersama akan dimulai pukul 09.00 atau 09.30. Kegiatan apapun tidak akan terlalu lama mengingat daya tahan lansia yang melemah. Satu sampai satu setengah jam saja. Lalu satu jam sebelum makan siang, mereka beristirahat di unit/kamar masing-masing.

Pukul 12.30 makan siang, selebihnya tidur dan menjelang sore akan saling berkunjung ke unit teman, atau melanjutkan diskusi kemarin di beranda. Pukul 19.00 jadwalnya makan malam, selebihnya silahkan isi sendiri dengan aktivitas yang disukai.

Pak Djoko pagi ini absen mengisi waktu luang di beranda. Tentu saja ada yang kurang bagi Lestari. Biasanya Pak Djoko akan bersemangat mengikuti berita televisi, terutama berita-berita korupsi. Mungkin beliau kesepian karena dua teman baiknya sudah dijemput keluarganya kemarin malam. Lestari mendampingi ibu Yani saat keluarga besar Pak Situmeang minta izin untuk membawa Oppung mereka kembali ke rumah. Setelah berbasa-basi sesaat, mereka kemudian pergi. Diiringi tatapan sedih Pak Djoko yang bergabung saat-saat akhir ketika Pak Situmeang berpamitan.

Tatapan sedih Pak Djoko menimbulkan tanya dalam benak Lestari. Seperti itukah rasanya melewati hari tua? Apalagi ketika ha-hal yang dulu kita miliki, satu per-satu pergi. Entah itu teman sebaya, karir, bahkan anak-anak yang beranjak dewasa. Pak Sasongko, ayahnya, pernah mengasuh salah satu kemenakan jauh.  Namanya Brandon. Sejak Brandon kecil, beliau sudah sering mengantar sang kemenakan kemana saja. Termasuk ke sekolah dan mengikuti les. Sejak pagi ayahnya sudah sibuk menanyakan kepada si kecil apakah bekal makan siangnya sudah siap, apakah tidak ada buku pelajaran yang tertinggal, dan hal-hal remeh-temeh lainnya. Membuat siapapun yang tinggal di rumah besarnya akan menjadi anak manja.

Sekarang, sejak Brandon kuliah di kota lain, ayahnya menyibukkan diri dengan para tetangga. Bapak-bapak pensiunan itu. Bapak-bapak yang susah move on dari masa-masa indah saat menjabat atau saat menjadi orang yang dibutuhkan di kantor masing-masing. Tapi Lestari bersyukur, karena ayahnya mengisi fase post power syndromenya dengan menyibukkan diri bersama para tetangga. Lestari sungguh tidak percaya kalau ada orang yang tidak mengalami post power syndrome ketika memasuki masa pensiun, sebaik apapun persiapan mereka. Semua pasti mengalaminya, suka atau tidak suka.

Dipikir-pikir, barangkali asrama ini bisa jadi tempat yang pas untuk memfasilitasi para Oma dan Opa yang tengah menghadapi fase post power syndrome mereka. Ibu Yani pernah mewanti-wanti, katanya, kita mesti memahami dunia para lansia. Kalau mereka kerap bercerita masa-masa jaya atau masa lalunya, dengarkan saja. Memang itulah tahapan mereka. Kitapun akan berada di sana kelak. Lestari tidak butuh lama untuk setuju. Sudah ada contohnya, ayahnya sendiri.

***
Sudah pukul satu siang, tapi Lestari belum melihat Pak Djoko di ruang makan. Kemana ya beliau?

Ia mendatangi dapur. “Bu Nin, lihat Pak Djoko tidak?”

“Tadi pagi sih ada, sarapan,” jawab bu Nina. Ibu Nina adalah Kepala Dapur.

“Siang ini?”

Bu Nina menggeleng.

Tapi Irnum, juru masak menyela. “Pak Djoko tadi masuk jam sebelas mbak, ambil makan siang dengan rantang. Katanya mau makan di kamar saja.”

“Oohh ..”

Well, mengapa Pak Djoko tidak makan di ruang makan ya? Apa merasa sepi karena tidak ada lagi teman? Ruang makan adalah tempat kedua mereka setelah beranda untuk melanjutkan cengkrama. Tapi ruang makan lebih banyak dihuni oleh para ibu. Lesari menduga, tata letak ruangan berpengaruh pada kecocokan gender penghuninya.

Ah, tapi ini lagi. Kemana Pak Djoko ya?

Sore ini ia akan mendatangi unitnya dan mengajaknya ngobrol-ngobrol di beranda sambil menunggu jam makan malam. Semoga ibu Yani tidak melihat kalau dia bersama penghuni.

Selagi asyik merapikan lembaran buletin, Lestari dikejutkan sesosok bayangan berdiri di pintu beranda. Perempuan muda.

“Selamat pagi bu,” sapanya.

Lestari mendongak ke arah si tamu lalu menghampiri dia.”Pagi, silahkan duduk.”

“Anda dari mana?” lanjut Lestari setelah mereka duduk berhadapan.

“Saya Sarweni bu, mahasiswa keperawatan yang kemarin mengajukan permohonan praktek di sini.”

Lestari langsung ingat. Dalam rapat internal minggu lalu ibu Yani pernah memberitahu bahwa akan ada mahasiswa praktek yang akan magang di sini. Tapi bu Yani belum sempat memberitahu nama si mahasiswa. Mungkin ini orangnya.

Lestari segera mengurus administrasi berkaitan dengan penempatan dan tugas-tugas mahasiswa praktek. Sarweni akan menangani para lansia yang sakit dan membutuhkan perawat khusus. Tugas sebagai ‘HRD’ ia lakoni setelah ada kesepakatan dengan ibu Yani. Lestari memang pernah menawarkan diri untuk membantu dalam urusan HRD atau kepegawaian sekaligus ‘kepenghunian’ asrama. Ibu Yani membolehkan, tapi sekali lagi, asalkan urusan buletin tidak terabaikan. Buat Lestari, soal buletin itu bisa dikerjakan sambil tiduranlah, hehe. Pengalaman bertahun-tahun menangani media membuatnya semakin cepat mengerjalan buletin dan sejenisnya. Tanpa sepengetahuan ibu Yani, ia meminta beberapa orang untuk membantunya. Merekam dan membuat verbatim (transkrip) wawancara, mencari data, dan membuat ilustrasi tulisan. Tentu saja dengan selipan uang lelah yang diambil dari koceknya sendiri. Karena pegawai administrasi di kantor asrama terbatas, Lestari hanya sendirian mengerjakan buletin. Ibu Yani yang memeriksa dan menyetujui kontennya.

Selesai menerima surat tanda terima, Sarweni diantar oleh Pak Yamen ke kamarnya. Lestari menyuruh Sarweni istirahat saja dulu, siang nanti makan bersama-sama dan sekalian ketemu IbuYani untuk orientasi singkat. Kalau mau berkenalan dengan seluruh staf dan pegawai asrama, besok saja. Demikian instruksi yang diberikan kepada gadis itu.

***

Lestari mengetuk perlahan pintu kamar Pak Djoko. Tak lama, yang dicari keluar dan membukakan pintu. Sedikit terkejut karena baru kali ini Staf baru mencari sampai ke kamarnya.

“Selamat siang Pak Djoko, maaf mengganggu.”

“Oh, tidak. Ada apa mbak?”

“Tidak Pak. Hanya mau mengajak bapak makan siang di ruang makan. Beberapa hari ini kami tidak melihat bapak di beranda dan ruang makan kalau siang.”

Pak Djoko agak salah tingkah. Baru kali ini ada Staf penting seperti Lestari mau mencari dan menanyakan kabarnya. Bukankah di sini ada puluhan penghuni asrama yang, mungkin saja juga perlu diberi perhatian?

“Iya, saya akan makan siang di ruang makan sekarang. Beberapa hari ini saya makan di kamar. Sedang tidak enak badan,” tutur Pak Djoko seformal mungkin. Jabatan terakhirnya sebagai Deputy Director di salah satu instansi pemerintah membuatnya harus bersikap formal di mana saja. Siang dan malam. Apalagi di depan perempuan muda seperti Lestari.

“Mari Pak,” Lestari pamit.

“Silahkan mbak,” balas Djoko.

Lestari meninggalkan unit Pak Djoko dan melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sedikit bingung melihat sikap Pak Djoko yang mendadak formal. Padahal, selama mereka bersama-sama di beranda, Pak Djoko dan kawan-kawannya bersikap cair dan hangat. Apa karena beliau sekarang sendirian? Ia hanya mau memastikan bahwa Pak Djoko baik-baik saja sepeninggal kawan diskusinya, Pak Situmeang dan Pak Sinuraya.

Ups, Lestari menyadari sesuatu. Ia barusan mendatangi kamar Pak Djoko, yang notabene seorang duda. Ibu Yani pernah berpesan, khusus untuk Pak Djoko tak usah dilayani berlebihan. Ia akan menghubungi Pak Yamen melalui interkom atau ponsel kalau membutuhkan sesuatu.

 

(bersambung)

 

 

One Response to "Bila Usia Senja Tiba (4)"

  1. James  18 November, 2017 at 06:14

    liku-liku kehidupan dihari tua

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *