Jilbab: Surat untuk Rina

Chandra Sasadara

 

Assalamualikum Wr.wb

Dinda Rina Calon Istriku,

Terima kasih saja rasanya tak cukup, keluargamu begitu baik menerimaku sebagai calon menantu, calon pendamping hidupmu. Pun saat menerima kedua orangtuaku dalam pinangan kemarin. Orangtuaku terkesan dengan keramahan keuargamu. Namun ada satu hal yang masih menjadi pikiran kami: tentang jilbab!

Sejujurnya, meskipun tak menjadi syarat dalam pertunangan kita. Permintaan keluargamu agar ibuku mengenakan jilbab telah menjadi pikiranku. Aku tidak mau permintaan keluargamu kepada ibuku itu menjadi batas kekariban kedua keluarga kita kelak. Melalui surat ini, aku ingin jelaskan sedikit tentang jilbab agar kita sama-sama memahami perkara ini.

Dinda, pakaian tertutup seperti yang kita kenal sekarang sudah ada jauh sebelum abad ke-7, sebelum kenabian. Menurut Murthadha Muthahari dalam On the Islamic Hijab, di India dan Persia tuntutan untuk berpakaian tertutup jauh lebih keras dari pada yang dituntut dalam Islam. Menurut ilmuwan lain, Arab meniru Sumeria, Assyiria, dan masyarakat Byzantium dalam hal pakaian tertutup. Tradisi pakaian tertutup di Arab sendiri menjadi lebih kuat saat Pemerintahan Al-Walid II dari Dinasti Umawiyah pada abad ke-8.

Dalam al-Quran pakaian memiliki beberapa fungsi. Pertama, untuk menutup aurat dan untuk berhias/berkeindahan (Surah al-A’raf ayat 22, 26 dan 31). Kedua, untuk berlindung dari cuaca dan serangan musuh dalam peperangan (Surah an-Nahl ayat 81). Ketiga, untuk identitas diri dan identitas sosial (Surah al-Ahzab ayat 59).

Aku belum menemukan ayat–ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa pakaian bisa menjadikan seseorang lebih terhormat atau agar dihormati orang lain. Pun tak menemukan ayat-ayat yang menyebut fungsi pakaian untuk mendapat rasa aman, kecuali pakaian perang seperti Surah an-Nahl ayat 81 di atas. Mohon sekiranya Dinda Rina bisa memberitahukan kepadaku jika menemukan ayat-ayat yang menunjukan fungsi pakaian selain yang telah aku sebut di atas. Sebab salah satu alasan keluargamu meminta ibuku untuk berjilbab adalah “agar lebih terhormat dan dihormati” selain alasan bahwa berjilbab adalah perintah agama. Di bawah ini akan aku jelaskan tentang ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap sebagai dasar perintah berhijab dan berjilbab.

Pada salah satu point Surah al-Ahzab ayat 53 disebutkan bahwa “apabila kamu minta sesuatu kepada mereka hendaklah dari balik tabir/hijab”. Ada dua hal yang bisa didiskusikan mengenai redaksi ayat ini. Pertama, apakah perintah berhijab itu hanya ditujukan untuk istri-istri Nabi atau untuk umat Nabi? Kedua, apakah hijab bisa diartikan sebagai “pakaian” yang menutupi seluruh tubuh perempuan sebagaimana fungsi hijab/tabir?

Aku hanya akan membahas yang kedua saja, yaitu tentang fungsi hijab. Menurut penuturan Anas bin Malik, ayat itu turun saat pernikahan Nabi dengan Zainab Binti Jahsy di mana ada banyak tamu di rumahnya dan Nabi memasang hijab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Khatab mengusulkan kepada Nabi supaya istri-istrinya memasang hijab karena yang masuk rumah nabi bukan hanya orang baik, tapi juga orang-orang tidak baik.

Berdasarkan redaksi ayat dan sebab turunya ayat di atas bahwa hijab dimaksud adalah pembatas/penyekat atau sesuatu yang menghalangi antara dua “ruang”. Dalam hal ini hijab atau tabir tidak dimengerti sebagai pakaian yang melekat pada tubuh (mutahajjibah). Peratnyaannya, bagaimana bisa hijab bisa menjadi pakaian bagi perempuan yang diwujudkan dengan menutupi seluru tubuh, tak kecuali wajah?

Ayat kedua yang menjadi dalil tuntutan perempuan untuk berjilbab adalah al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 59. Point yang terkandung dalam ayat ini adalah perintah untuk berjilbab agar para istri-istri Nabi dan perempuan-perempuan muslimah mudah dikenali. Tafsir al-Qurthubi seperti di kutip al-‘Asymawi dalam Haqiqat al-hijab wa Hujjiyat al-Hadist disebutkan bahwa ayat ini turun terkait dengan kebiasaan iseng laki-laki Arab menggoda perempuan-perempuan saat buang air di luar lingkungan hunian. Mereka menggoda siapa saja: budak dan perempuan merdeka, tak terkecuali para muslimah dan istri-istri Nabi. Maka turun ayat perintah berjilbab sebagai identitas, untuk pembedahkan antara sahaya dan orang merdeka.

Kandungan ayat ini dikuatkan riwayat yang menyebutkan bahwa Umar bin Khatab pernah mencambuk perempuan sahaya/budak yang mengenakan jilbab. Pertanyaannya, apakah ayat ini masih bekerja ketika perbudakan –sebagai ‘illat hukum– sudah tak ada. Sekarang tak ada lagi segregasi dan diskriminasi perempuan akibat perbudakan. Lagi pula perempuan sekarang sudah jarang buang hajat di luar rumah.

Dinda Rina, hukum Islam bekerja berdasarkan ‘illat. Jika ‘illat hukum tidak ada lagi, maka hukum tidak bekerja. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa konsep bekerjanya ‘illat tidak berlaku pada hal-hal yang menyangkut ubbudiyah karena ghair ma’qul al ma’na (tidak dapat dijangkau maknanya oleh nalar), namun tidak dengan demikian terkait mu’amalah. Ulama-ulama komtemporer menyebut cara berpakaian, termasuk jilbab tidak bersifat ta’abbudi tapi masuk dalam kategori mu’amalah, oleh karena itu hilangnya ‘illat menjadi hilang juga sifat perintahnya.

Berikutnya adalah Surah an-Nur ayat 30-31 dimana salah satu poitnya perintah untuk “mengulurkan kain penutup kepala sampai menutupi lubang tempat masuk kepala” dengan redaksi ayat “wal yudribna bikhumurihina ala jhuyubihina”. Kata “khumur” merupakan bentuk jamak dari “khimar” yang berarti menutup, sedangkan “jhuyub” jamak dari “jhaibun” adalah lubang baju tempat memasuk kepala. Dalam beberapa terjemahan kata jhuyub diartikan sebagai dada perempuan, padahal bukan!

Dinda Rina, yang hendak ditutupi oleh kain penutup kepala dalam ayat itu adalah lubang baju tempat kepala masuk, mengapa begitu? Perempuan Arab saat itu biasa mengenakan penutup kepala tapi sisa kain yang menjuntai diletakkan di belakang tubuh /punggung. Saat mereka membungkuk atau jongkok maka terlihat dada mereka karena lubang baju untuk memasukan kepala sangat longgar.

Terkait dengan hal itu, ada dua hal yang pentig. Pertama, perintah dalam ayat itu bukan untuk menutup kepala, tapi menutup lubang baju dengan sisa kain penutup kepala agar tak nampak dada/payudara saat membungkuk atau jongkok. Mengapa begitu, sebab perempuan Arab saat itu sudah biasa menutup kepala. Tak mungkin ada perintah yang dutujukan untuk sesuatu yang sudah dikerjakan. Kedua, saat ini telah ditemukan teknologi kerah baju yang menempel di leher dan memungkinkan dada-dada perempuan tidak terlihat, lebih-lebih pada perempuan yang mengenakan bra. Bra membuat dada/payudara perempuan tak “tumpah” saat membungkuk, bahkan dengan kerah longgar sekalipun.

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa mengenakan jilbab atau hijab merupakan perintah wajib dalam agama bukan pendapat yang mujjma’ (disepakati semua ahli). Pembahasan bidang mu’amalah selama masih banyak selisih pendapat maka belum bisa disebut mujjma’ alaih (kesepakatan umum ulama). Dalam hal jilbab dan hijab banyak ulama yang tawaqquf (belum atau tidak memberikan pendapat). Jadi tidak bisa salah satu pihak memaksakan pendapatnya bahwa muslimah yang tidak mengenakan jilbab nilai keislamanya kurang, atau lebih para lagi mendapat status murtad.

Terkait mu’amalah tak semua perintah dalam al-Quran itu bersifat wajib. Misalnya perintah mencatat setiap utang-piutang dalam Surah al-Baqarah ayat 283. Perintah dalam ayat itu hanya danggap anjuran oleh umumnya ulama, artinya boleh dilakukan, boleh juga tidak. Dalam Surah al-Anfal ayat 60, Allah memerintahkan untuk menyiapkan persenjataan dalam menghadapi musuh, senjata yang dimaksud dalam ayat ini adalah panah. Dalam perang modern perintah ini tidak mungkin dilakukan sebab panah sebagai senjata canggih hanya berlaku saat senjata api belum ditemukan. Jadi perintah membuat dan menggunakan panah tak bersifat wajib.

Bagiku dan keluarga, jilbab dan hijab adalah mu’amalah bukan ta’abbudi. Dalam hal ini abang mengikuti pendapat moderat yang menyebutkan bahwa pakaian merupakan produk budaya yang ukurannya bergantung kewajaran dan kepentingan yang berlaku pada zamannya. Bagaimana dengan batas aurat?

Ada yang mengatakan al-mar’atuh aurah (tubuh perempuan adalah aurat) sehingga perlu ditutup seluruhnya. Pendapat ini menggunakan dalil Surah al-Ahzab ayat 53 dan hadist dari at-Thirmidzi. Namun hadist ini dianggap gharib oleh at-Thirmidzi dan hanya berstatus hasan. Menurutku mattan (substansi) hadist ini juga bertentangan dengan Surah an-Nur ayat 31 yang mengatakan “..hendaklah mereka (laki-laki) menahan pandangan..”

Kalau benar seluruh tubuh perempuan adalah aurat untuk apa ada perintah menahan/menundukkan pandangan terhadap mereka? Bukankah perintah itu menunjukkan bahwa ada bagian dari tubuh perempuan yang tidak masuk dalam kategori aurat sehingga siapapun yang melihatnya perlu menghindarinya/menundukkan padangnnya? Ayat ini juga mengkonfirmasi bahwa ada bagian dari tubuh perempuan yang tidak perlu ditutupi!

Ada juga hadist yang menyebutkan bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Hadist ini bercerita tentang Asma binti Abu Bakar, saudari Aisyah RA yang saat itu ditegur oleh Nabi karena berpakaian tipis. Pertanyaannya: Mungkinkah putri Abu Bakar, ipar Nabi berpakaian tipis di depan Nabi dan seseorang laki-laki yang dibonceng Nabi?

Hadist yang aku sebut terakhir itu diriwayatkan oleh Abu Daud dan Baihaqi, namun Abu Dawud sendiri menyebut hadist ini mursal, sebab Khalid bin Duraik yang menyebut dirinya menerima hadist itu dari Aisyah ternyata tidak hidup satu masa. Dalam Kitab Tahdzib at-Tahdzib karangan Ibnu Hajar al-Asqallani juga disebutkan bahwa salah satu perawi hadist itu ada orang bernama Sa’id bin Basyir yang dinilai dzhaif (lemah).

Imam Abu Hanifah seperti dikutip oleh Syaik Muhammad Ali ‘as-Sais mengatakan bahwa kedua kaki (betis) bukan aurat. Pakar hukum abad ke-8 yang juga sahabat Imam Abu Hanifah bernama Abu Yusuf menyebutkan bahwa kedua tangan (sebatas siku) bukan aurat. Mereka mentoleransi tangan dan kaki terkait dengan massyaqah (kesulitan) yang dihadapi perempuan saat melakukan aktivitas. Hal ini dikuatkan dengan salah satu hadist Bhukari yang menyebutkan bahwa Anas bin Malik dan Abu Thalha pernah melihat gelang kaki (di betis) Aisyah dan Ummu Salim saat mereka membantu memberikan minum prajurit dalam perang uhud.

Syaik Muhammad Su’ad Jalal, salah seorang ulama al-Azhar mengatakan bahwa apa yang boleh dan tak boleh nampak dari perempuan bergantung pada adat dan kebiasaan masyarakat. Hal itu relevan dengan prinsip “al-‘adat muhakkimah”, bahwa kebiasaan sebagai hukum. Misalnya terkait dengan aurat budak laki-laki dan perempuan, batas aurat mereka adalah pusar sampai lutut, karena memang begitu kebiasaan dan adat masyarakat Arab Islam saat itu.

Dinda Rina, penting memperhatikan dua ayat al-Qur’an berikut ini. al-Baqarah ayat 185 menyebutkan bahwa “Allah menghendaki kemudahan, tidak menghendaki kesulitan” sedangkan Al-Hajj ayat 78 mengatakan “Allah tidak menjadikan agama bagimu sebagai sesuatu yang menyulitkan”. Jika agama bisa memudahkan urusan keseharian manusia, untuk apa kita mempersulitnya, bahkan untuk hal-hal yang masih menjadi perdebatan?

Percayalah, meskipun ibuku tidak berjilbab seperti harapan keluargamu, dia tak akan mengurangi keislamannya, apalagi murtad seperti kata beberapa kerabatmu. Ibuku perempuan yang tidak putus puasa Senin dan Kamis, tidak berhenti mendzikirkan Nama-Nama Tuhan untuk melembutkan hatinya. Semua tetangga menghargai dan menghormati ibuku karena sikap sosialnya. Bagi kami libas at-taqwa (baju ketaqwaan) jauh lebih baik dibanding pamer penutup tubuh.

Dinda Rina, biarkan ibuku berpakaian seperti umumnya perempuan di kampung kami; menurut ukuran dan batas kesopanan yang berlaku di sini. Biarlah kami mengunakan prinsip “adat menjadi hukum”, Adat kami adalah hukum bagi kami. Adat berpakaian kami telah mempertimbangkan kesopanan dan aspek keindahan. Jangan paksa ibuku untuk berjilbab, aku pun tak akan memaksamu untuk melepaskan jilbab yang telah menjadi identitasmu.

 

Semoga Dinda Rina menjadi maklum.

Wasalammualaikum Wr.Wb

 

Buku Rujukan:
1. “Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah” karya M. Quraish Sihab.
2. “Jilbab: Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan” karya Fadwa El Guindi.
3. Beberapa buku lainnya.

 

 

3 Comments to "Jilbab: Surat untuk Rina"

  1. Sumonggo  18 November, 2017 at 11:49

    Mendengar nama Rina, jadi ingat Rina Nose … he he … Jadi ingat juga Umi Pipik. Tapi … jadi lupa sama tiang listrik dan bakpao …. ha ha ….

  2. Alvina VB  18 November, 2017 at 07:16

    Kalau saja muslimah Indonesia punya pemikiran spt tulisan ini, Indonesia gak spt saat ini, dah kaya para wanita di Arab, rindu dengan keadaan di Indonesia di thn 70an, 80an di Indonesia, para muslimahnya asik2 aja tuch pakaiannya.

  3. James  18 November, 2017 at 06:08

    Rumit, yang terpenting adalah Pernikahan itu sendiri membawa Kebahagiaan dan Kelanggengan serta Keharmonisan bagi kedua Mempelai, bukan Peraturan Adat Istiadat atau sekalipun Hukum Pernikahan itu sendiri, ini hanya komen loh

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *