Ketika Agama Jadi Mata Pelajaran

Wesiati Setyaningsih

 

Banyak orang protes kalo agama dihapus dari mata pelajaran di sekolah. Padahal ketika agama dijadikan pelajaran, sebenarnya justru muncul absurditas. Murid saya pernah mengeluh bahwa pelajaran agama itu enggak fair.

“Kok bisa?” tanya saya.
“Itu anak Kristen Katolik, soalnya kalo ulangan gampang. Pas tes bareng mereka selesai duluan. Lah pertanyaannya gampang-gampang. Kita disuruh hapal ayat-ayat, bacaan-bacaan tulisan Arab. Susaaaah…”

Rasanya bisa dimengerti. Ketika agama jadi pelajaran, sementara agama satu dengan yang lain isinya berbeda, maka bobot soal juga jadi beda. Belum lagi ketika muncul tanggung jawab memperbaiki ahlak yang harus ditanggung oleh guru agama. Sementara guru ini harus menangani 35-40 anak seminggu sekali. Apa yang dia ketahui tentang ahlak anak satu persatu?

Sempat ada orang tua yang komplain pada saya. Kebetulan saya walinya. Katanya beliau ini sebagai orang tua diminta membuat surat pernyataan untuk meningkatkan ahlak anak perempuannya. Ibu ini tersinggung luar biasa.
“Dikira akhlak anak saya rusak, apa?”

Lantas beliau menyebutkan kebaikan putrinya yang saya setujui juga dengan pengamatan saya sebagai wali kelasnya. Dengan keheranan yang sama, saya datangi guru yang bersangkutan.

Katanya, “namanya anak, ada saja kan Bu salahnya. Bisa aja anak itu main hape, duduk di meja, atau enggak solat pas waktunya solat. Itu kan termasuk ahlak yang tidak baik.”

Saya masih enggak ngerti. Okelah kalo itu anak lain. Sekelas itu ada anak-anak yang kadang melakukan hal-hal seperti itu. Tapi anak Ibu tadi, saya nggak percaya.

Jadi saya bilang pada teman saya ini, besok lagi kalau menemukan anak yang melakukan pelanggaran, tolong dicatat dan anak tersebut diminta paraf. Biar ada bukti bahwa benar-benar ada pelanggaran. Sehingga kalau mau membuat aturan seperti di atas, bukti tadi dikirim ke orang tua. Kalau orang tua mau protes, ada buktinya. Teman saya mengiyakan.

Saya melihat bahwa ini terjadi karena ada beban moral guru yang cukup berat sehingga agar kelihatan ada bukti kinerja, dibuatlah ide meminta orang tua meningkatkan ahlak anaknya. Sayangnya dilakukan tanpa dasar yang kuat. Juga kesannya agak random karena dari 38 anak, yang diminta membuat surat malah anak yang baik.

Ketika terima rapor, si Ibu masih kesal lantas curhat. Ternyata terjadi kehebohan di rumah. Anak dimarahi Ibunya sampai anak nangis-nangis sakit hati. Ibu kesal karena dulu SMP dari sekolah Islam, sehari-hari juga rajin solat. Si Ibu mengira anaknya pura-pura. Jangan-jangan anaknya memang nakal di sekolah. Anak merasa dia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Repot juga.

Kemarin ada lagi keluhan, ada anak yang dapat nilai ‘cukup’ dalam agama. Padahal anak ini setiap hari di rumah ngaji. Senin dan Kamis puasa. Solat tak pernah telat. Tapi entah kenapa guru memberi nilai C. Saya juga heran dan menduga bisa jadi nilai tesnya kurang bagus. Namun bukankah agama bukan sekedar apa yang tertulis di atas kertas?

Agama itu masalah keimanan. Iman kita, siapa yang tahu?

Di manakah letak agama?

Demikianlah kalau agama dijadikan mata pelajaran. Ada sesuatu yang rancu. Dengan menjadikannya sebuah mata pelajaran, maka syarat dan ketentuan berlaku. Akan ada materi yang disampaikan guru berdasar silabus. Padahal materi di kelas ini biasanya teori-teori. Sementara agama seharusnya berpatokan pada praktek. Bukan teori.

Kelas klasikal dengan jumlah siswa banyak juga tidak memungkinkan guru untuk mengamati anak satu per satu, bagaimana perilakunya sehari-hari pada orang lain. Sementara cerminan pemahaman agama yang baik justru pada bagaimana dia memperlakukan orang di sekitarnya. Bukan hal-hal yang bersifat hapalan.

Saya sendiri justru berpikir, bagaimana kalau pelajaran agama dihapuskan, tapi kolom nilai agama tetap ada. Nilai agama tidak didapat dari guru di sekolah lagi, tapi dari guru agama di luar sekolah. Yang Islam bisa ikut madrasah sore atau ngaji privat. Yang bukan Islam bisa ikut kegiatan di rumah ibadah masing-masing (saya nggak tahu kegiatannya apa saja, tapi pasti ada kan?). Nanti guru ngaji atau pembina kegiatan di rumah ibadah inilah yang memberikan nilai. Rasanya akan lebih fair.

Jadi kalau masih saja ada yang berkata, kalau agama dihapus dari sekolah, ahlak anak-anak gimana, dong? Well, anak-anak itu punya orang tua, kan? Biar orang tuanya yang mengurus ahlak anaknya. Jangan serahkan pada sekolah. Seorang guru yang menangani banyak murid itu anda percayai untuk mengurus anak anda? Ayolah… Ntar kejadian, anak yang rajin ibadah malah dapat C, anda protes lagi. Salah siapa kalau begini?

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Ketika Agama Jadi Mata Pelajaran"

  1. Tammy  28 November, 2017 at 18:48

    Untuk menjadi seorang yg berahlak ato bermoral, sebenarnya tidak diperlukan agama. There is a worldwide evidence of this. Indonesia aja yg suka mbulet ngurusi agama.

  2. Lani  26 November, 2017 at 13:14

    Wesi: Aku setuju dgn alinea plg bawah, pasrahkan saja para orang tua mendidik, membimbing anak2nya mengenai agama nya masing2 bukan diurus oleh guru disekolah

  3. James  24 November, 2017 at 10:08

    Rumit Ribet

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *