Menunggu Restu (Pengangguran Merindukan Kerja)

Wahyu Wibowo

 

Aku menulis di dinding fajar
Berharap mentari lembut berujar
Tentang kisah yang belum usai
Ilalang sunyi di tepi sebuah pantai

Langit seolah menjadi pembeda
Tangan tangan yang mencoba menjamah ceria
Sepenuh rasa senyum yang terbaca
Tak pernah mampu mengusap remah airmata

Ombak berderai membawa laraku
Keping keping mimpi berwajah pilu
Kelopak kelopak jingga pucat bersayu
Bernyanyi sumbang tak tentu tuju

Buih buih letih perlahan berpusara
Menjemput harap tanpa kata-kata
Rimbun cerita bercampur jelaga
Rindu yang sempurna untuk sebuah usia

Kaki kaki gemetar tertancap di bumi
Berharap kehidupan mengecup kembali
Kejujuran dalam hangat genggaman
Semua berai kembali berpulang ke dekapan

Daun daun lirih berbisik doa
Di antara derap cahya fatamorgana
Sesederhana sebuah restu
Menanti indah di ujung waktu

 

 

One Response to "Menunggu Restu (Pengangguran Merindukan Kerja)"

  1. James  24 November, 2017 at 10:14

    kalau Pengangguran Tidak Merindukan Kerja = Pemalasan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *