Narimo Ing Pandum

Dian Nugraheni

 

Hampir Thanksgiving’s Day. Tepatnya, besok hari Kamis ini. Bisa dikatakan, bahwa Thanksgiving’s Day, dirayakan oleh semua orang, tidak memandang agama, ras, atau pun asal negara dari orang-orang yang tinggal di Amrik.

Kalau di Indonesia, kayak Idul Fitri, di mana hampir semua orang, akan mudik, bahkan mereka yang bukan orang Islam, dan nggak merayakan Idul Fitri pun, ikutan mudik.

Sama, di Amrik, akan terjadi eksodus besar-besaran, terutama dari pusat kota, bagi para perantau, mereka akan mudik pulang ke rumah keluarga besar mereka.

Nah, ini kisah di apartemen si Mak. Apartemen yang ditinggali si Mak, meski bangunan dan peralatannya nampak mewah, ya emang standard building jaman now, ya begini ini. Dan apartemen si Mak ini usianya kan emang baru satu tahun lebih sedikit, jadi emang beneran building model baru.

Tapi, yang boleh tinggal di sini, adalah cuma orang-orang yang berpenghasilan paling rendah dalam “range” penghasilan yang berlaku di Amerika.

Tentu saja harga sewa per roomnya, jelas lebih murah jika dibanding building apartemen lain, yang peruntukannya bukan buat kaum “dhuafa.” Katakanlah, si Mak sewa room dengan 2 kamar ini, seharga 1.200 dollar per bulan, untuk kualitas building yang setara dan jumlah kamar yang sama di apartemen lain, kemungkinan harga sewanya bisa lebih dari 1.800 dollar per bulan, atau bahkan lebih, bila di apartemen itu banyak fasilitas pendukungnya macam kafe, gym, kolam renang, dan lain-lain.

Bla..bla..bla..nya adalah, saat ini si Mak masih dalam kondisi miskin, ya nggak apa-apa, disyukuri saja…

Nahh, tadi pas si Mak pulang kerja, ada rame-rame di lobby, lalu Miss Venus, salah satu lady yang kerja di building apartemenku bilang, “naah, I’m waiting for you, lady…”

Waduh, digituin aku deg-degan deh, ada urusan apa lagi dengan apartemen nih. Yaa, orang miskin dan apa-apa dikasih oleh negara tuh bawaannya deg-degan kalau disapa “pemerintah” atau yang mewakilinya.

Miss Venus membawaku menepi dari kerumunan, katanya, “menjelang Thanksgiving ini, kami punya beberapa buah Gift Card, tapi tidak banyak, jadi kami nggak bisa bagi ke setiap keluarga…, nahh, ada satu yang akan kamu dapatkan, sejumlah 40 dollar buat belanja di Harris Teeter…”

Idiih, mak plong hati nih rasanya…, ya sudah aku terima, sambil bilang makasiiih…Rejeki orang narimo ing pandum…

Yaa, apartemen-apartemen low income, panti jompo, dan yang begitu-begitu, biasanya akan disumbang macam-macam oleh community di sekitarnya menjelang hari-hari besar macam Thanksgiving atau Christmas, kayak dari gereja, organisasi-organisasi, perusahaan-perusahaan, dan lain-lain. Salah satu bentuk sumbangan itu adalah berupa Gift Card.

Maturnuwun GustiAllah…rejeki malam ini, besok buat belanja Turkey dan ubarampenya di (groseri) Harris Teeter….

Rasanya, kayak malam lebaran, belom beli ayam buat Opor karena nggak ada budget, lalu tiba-tiba ada yang ngasih duit buat belanja ayam…

 

 

6 Comments to "Narimo Ing Pandum"

  1. Anton Pratikno Wijaya  14 December, 2017 at 07:02

    Narimo Ing Pandum, setahu saya kurang lebih artinya : sifat seseorang yang selalu menerima, apapun situasi, keadaan atau materi (benda, uang dll) yang ia terima /dapatkan.

  2. Lani  29 November, 2017 at 00:40

    James: Pentulise jelas membaca komentar………….hanya kdg datang dan kumat malasnya menjawab kkkkkkkkkk………….

    Artinya kira2 begitu menerima yg sdh dititahkan oleh Gusti Allah

  3. James  28 November, 2017 at 08:43

    mbak Lani, kalau tanya langsung ke penulis kadang gak jawab, gak tahu apa pasif saja atau apa gitu, saya buma tau nya narimo doang = menerima, ing pandum = yang pardon gitu ?

  4. Lani  26 November, 2017 at 13:08

    James: tanya langsung ke sipentulis krn dia orang Jawa juga ok.

    Dian: aku mau share ttg perayaan Thanksgiving sejak pindah ke Hawaii tdk pernah masak2 dan merayakan lagi klu tdk ada undangan ya ndak ikut ber Turkey ria, nah utk tahun ini aku rencananya akan ke restaurant saja beli sepiring rampung.

    Pulang kerja langsung ke restaurant pesan utk dibawa pulang, ktk akan bayar aku bilang minta white meat only krn aku mmg tdk suka dark meat, e sama servernya ditolak hrs mix, langsung aku bilang ke cashier cancel pesananku, aku tanpa tolah-toleh walked out dr restaurant, sama sekali tdk merasa kecewa malah spt beruntung krn tdk jd spend money utk sepiring Turkey diharga $ 22.00+tax! olala………….mahal banget!

  5. James  26 November, 2017 at 08:35

    menantikan Kenthirs yang dapat menterjemahkan judul artikelnya Narimo ing pandum

  6. James  24 November, 2017 at 10:03

    Ketimpa Rejeki yah bolehlah asal jangan ketimpa tangga aja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *