Wudangshan (1): Mengunjungi Kuil Tao

Ary Hana

 

Saya datang di musim yang salah, saat tidak ada kompetisi. Seharusnya saya datang pada minggu ketiga September, saat kompetisi antar para pendekar kungfu dan pendekar pedang berlangsung di Gunung Wudang. Itu kalau tujuan saya datang ke Gunung Wudang mencari pendekar dunia perkungfuan, atau hendak mencari guru di padepokan yang tepat.

Tapi tujuan saya ke gunung dan sekaligus TN Wudang adalah memahami ruh kelahiran Tao sekaligus membuktikan perkataan seorang kawan -yang juga lurah di Baltyra. com- Joseph Chen. Saat saya katakan hendak ke China September tahun lalu, dia segera bilang ‘tempat yang cocok bagimu adalah Gunung Wudang’. Saya tidak tahu saat itu kalau dia sendiri belum ke sana, dan referensinya berdasar cerita serial Kho Ping Ho atau film ‘Crouching Tiger Hidden Dragon’ dan serial Ip Man. Yang saya tahu, Gunung Wudang itu pusat ajaran Tao. Di sana Tao lahir dan dikembangkan.

Saya juga ingin memperdalam Qi Gong. Seorang guru Qi Gong terkenal di China, yang juga seorang penyembuh yang sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyembuhkan orang tanpa bayar, kini lebih banyak menghabiskan hidupnya di Gunung Wudang. Jadi saya juga ingin bertemu dengannya, walau kemungkinan itu kecil, karena saya tak paham bahasa Mandarin.

Pada hari ketiga di Wudang, saya bagun pagi-pagi sekali. Lega karena tak hujan -sehari sebelumnya hujan lebih 24 jam dan sangat dingiiin- saya bersiap masuk ke Taman Nasional Gunung Wudang. Penginapan saya hanya 200 meter dari pintu gerbang TN, jadi saya berangkat mepet pukul 08. 00. Setelah membeli minuman di minimarket terdekat, saya pun menuju TN. Rupanya sudah banyaaaak yang antri di sana, pengunjung dan grup trip atau tur dari luar kota. Tak tahu harus menuju ke mana -tak tahu letak loket- saya ikuti saja arus manusia, melewati barisan stan penjual suvenir.

Rupanya ada 2 pintu loket, yang kiri buat pengunjung via tur atau grup, yang kanan untuk pengunjung perorangan. Saya sempat dipikir ikut tur, karena orang asing. Namun petugas akhirnya melayani saat saya bersikukuh menyodorkan paspor di loket kanan. Harga karcis masuk 245 yuan, setara Rp. 490. 000. Itu kalau tak mau membayar cable car yang tarifnya mencapai 140 yuan pp. Dan harga itu belum termasuk tarif masuk 2 kuil, kuil emas dan kuil ungu (sebut saja begitu :P).

Tarif masuk TN Gunung Wudang memang luaaar biasa mahal, apalagi setelah ditetapkan menjadi warisan dunia versi UNESCO. Grade wisatanya IV A, termasuk wisata no. 1, sedikit di atas Terracota Warrior :D. Bahkan bagi warga China karcis masuk TN Gunung Wudang tergolong mahal, namun setiap hari pengunjung tempat wisata ini bisa mencapai puluhan ribu, bahkan ratusan ribu pengunjung saat ada kompetisi, dan mayoritas turisnya orang lokal. Luar biasa memang minat wisata warga China.

Setelah menyerahkan tiket ke petugas di sisi luar pintu masuk, saya memilih bus yang menuju Nanyan Village. Ada dua bus di sana, menuju Golden Temple via cable car -busnya berulis cable car- yang berarti mengelilingi sisi utara gunung. Satunya bus bertulis ‘Nanyan Village’ yang berarti mengelilingi sisi selatan gunung dan berakhir di Desa Nanyan, 26 km dari pintu gerbang TN.

Di atas bus saya masih belum tahu hendak turun di mana, tapi ikut arus saja. Saat bus berhenti di satu bus stop 20 menit kemudian, saya turun. Dalam pemikiran saya, ini pasti satu pemberhentian penting, dan pasti ada bangunan bersejarah di sini. Ikut arus dan petunjuk di sekitar, saya berjalan menuju Prince Templa Taizi Po, satu set bangunan kuil berwarna merah. Di kuil ini, saya mengirimkan doa buat moyang salah satu kawan di Indonesia.

Lama juga di kuil ini, lebih satu jam. Terbengong mengamati arsitektur dan kekunoan bangunan. Dasar udik :D.

Tentang kuil ini, ada keterangan sebagai berikut :

‘The history of Prince Hillside (Taizi Po/cliff) Prince Hillside is another name of Fuzhen Temple. Accroding to history, Zhudi, the emperor of Ming Dynasty, gave the order to build 29 palaces including Xuandi Dian, Shanmen, Langwu and so on in Yongle 10 However, ranging from Jiajing 32 in Ming to next 200 years, the palaces, which had experienced many extensions, damaged heavily for lack… ‘ (diambil dari http://www. taoistkungfu. com/gallery/albums-masonry )

Keterangan: 1. jalan masuk menuju Taizi Po Temple, 2. Kuil saat Gunung Wudang berkabut dan mendung. 3. Mendoakan arwah leluhur. 4. Dewa alam baik, satu dari dua dewa yang ‘gagal’ saya foto sebelum memberi mereka salam/hormat

Saya naik bus kedua, dengan jurusan yang sama -Nanyan Village- dan kemudian berhenti di pemberhentian berikutnya,   Istana ungu (Purple Cloud Temple Zixitao Gong). walau banyak penumpang yang memilih terus. Setelah celingukan, membaca petunjuk di kiri kanan dan di sebuah taman, saya menuju loket, mengangsurkan selembar 20 yuan sambil tangan membentuk angka 1. Maklum, gagu buta huruf. Si Mbak yang jaga -berpakaian ala pendekar kungfu jaman dulu- lalu menyerahkan selembar karcis dan uang kembalian 5 yuan. Lalu dengan langkah yakin saya menapaki tangga-tangga memasuki istana yang tampak sepi itu. Mungkin saat itu tak ada 10 orang pengunjung di dalamnya.

Dalam satu ruangan, mirip bangunan pembuka, lagi mbak berpakaian mirip pendekar jaman dulu menanyakan tiket. Saya ulurkan, dia robek dengan wajah cemberut. Mungkin dia marah karena saya tak menghormati dewa di ruangan itu, langsung ngeloyor begitu saja. (Namun saat hendak meninggalkan tempat itu kemudian, saya melihat wajah cantiknya dihiasi senyuman menyambut rombongan turis bule. Haii. . kadal, di sini juga ada diskriminasi ).

Tentang Kuil ungu ada keterangan di wikipedia sebagai berikut :

The Purple Cloud Temple, standing on Zhanqifeng Peak, is a Taoist temple of the Wudang Mountains Taoist complex. After being built in 1119-26, it was rebuilt in 1413 and extended in 1803-20. [1]

It consists of several halls and Daoist statues including the Dragon and Tiger Hall, the Purple Sky Hall, the East Hall, the West Hall, the Parent Hall and the Prince Cliff. The Purple Sky Hall is enshrined with statues of Zhen Wu at different stages of his life. Statues of Zhen Wu’s parents rest in the Parent Hall. On the left side is the Chinese deity Guan Yin, and on the right is the Shouzi Mother to whom couples traditionally pray for sons. The hall also houses cultural relics, some of which date back as far as the 7th century, including the Green Dragon Crescent Blade.

Istananya memang bagus, luas, kuno. Relief bangunannya benar-benar… (ah, mending lihat di foto saja).

Keterangan searah jarum jam : 1. keterangan tentang kuil ungu di halaman masuk. 2. kuil tertinggi di kompleks Purple Cloud Temple, 3. halaman tempat berlaga saat ada event. 4. fokus utama bukan gadis cantik ini, tapi dinding latar yang berisi tulisan kebijaksanaan -sayang, saya buta huruf di sini ). 5. relief atap kuil memang maut, ada bulatan ornamen hewan dan dua patang kecil di atas genting. 6. tempat membakar dupa dan mendoakan petinggi Tao di masa lalu. 7. dua gadis sedang berdoa (kemudian, mereka meminta saya memotret di dalam, gadis-gadis kota yang sopan). 8. seorang penjaga kuil, murid perguruan Tai chi yang sedang sepi event.

Lebih satu jam saya di sini, nyaman suasananya. Buat merenung, merasakan. Apalagi ada dua bangku dipajang di bagian luar setiap bangunan. Pengunjung mulai berdatanga, tapi tak melimpah dan tak berisik. Kalau Anda suka arsitektur dan bangunan lama, pasti betah di sini, walau tak bertemu pendekar berpedang.

Ketika akhirnya meninggalkan kuil ungu, berdiri menunggu bus di luar, seorang perempuan mendatangi saya dan menjulurkan kartu nama. Sebuah penginapan. Dia berkali2 menunjuk kartu dan berbicara, saat saya bilang saya bukan orang China, dia ganti berbicara dengan bahasa isyarat. Sejurus, dari yang saya tangkap penginapannya ada di dekat situ dan harganya bisa ditawar. Yang aneh, kenapa dia hanya mendekati saya bukan turis yang lain. Entahlah. Ah. . saya mulai paham situasi sekarang.

Setelah memberi tanda dengan bahasa isyarat bahwa saya sudah mendapat penginapan di bawah, perempuan itu meninggalkan saya. Lalu saya naik bus berikutnya dan segera melaju ke Nanyan Village.

Desa Nanyan walau hanya sepanjang 300-400 meter, memenuhi ruas kanan jalan menuju arah gunung, cukup ramai. Banyak lapak cendera mata dan lapak yang menjual penganan, buah, restoran, bahkan beberapa hotel dan perguruan kungfu. Dari informasi saat browsing, penginapan di Nanyan sangat mahal, apalagi saat ada kompetisi atau event. Antara 200-300 yuan semalam. Itu sebabnya saya putuskan menginap di bawah. Saya tak memperhitungkan bahwa ada penduduk lokal desa itu yang mau menerima tamu, meski bukan orang China. Bagi mereka, wajah Asia saya tidak cukup menakutkan dan dianggap bisa menjadi tamu yang tidak merepotkan. (Bukan rahasia lagi jika banyak penginapan di China banyak menolak orang asing, alasannya karena masalah regulasi -ketidakmampuan penduduk lokal berbahasa Inggris- juga banyaknya komplen dari tamu asing soal kebersihan jamban. )

Di Nanyan, selain berbelanja cendera mata, ada beberapa obyek wisata layak kunjung yang letaknya tersebar di berbagai tempat. Saya sempat mengunjungi Gua Dewa Hujan, lalu ke Kuil Chang, dan akhirnya ke Kuil Nanyan. Di sepanjang jalan menuju tempat-tempat bersejarah ini banyak pedagang dupa, pita, dan peralatan sembahyang. Beberapa menjual air minum, buah, jagung dan ubi bakar. Aroma panas ubi bakar membuat air liur meleleh, apalagi sepanjang hari berkabut dan dingin. Sayangnya, satu ubi sekepalan tangan harganya 10 yuan alias Rp. 20. 000. Ah. . jadi menahan diri, menunggu kesempatan makan ubi bakar di lain waktu saja. (Akhirnya saya dapat ubi bakar di Xian, 2 ubi panjang separo lengan, harganya 11 yuan dan baru saya habiskan setelah lima hari. Murah untuk ukuran China, sayangnya tidak manis. Masih manis ubi cilembu. .

 

(bersambung ke bagian 2)

 

Bisa juga dibaca di:

Wudangshan (1): Mengunjungi Kuil Tao

 

 

5 Comments to "Wudangshan (1): Mengunjungi Kuil Tao"

  1. Linda Cheang  1 December, 2017 at 13:26

    ubi mahal, wah.

    beruntungnya Indonesia punya Ubi Cilembu…

  2. Ah  30 November, 2017 at 06:37

    James : tks.. Kurang lama tinggal di wudang, harusnya seminggu baru puas.

  3. Ah  30 November, 2017 at 06:35

    Lani : belajare kilat.. Mung ndelokke wong latihan njur ngerti. Oh jurus ini arahnya ke sini.. Jurus itu ke situ.

  4. James  29 November, 2017 at 08:51

    artikel yang menarik untuk di ikuti dan dibaca, perihal Negara leluhur terutama Wudangshan

  5. Lani  29 November, 2017 at 00:25

    AH: Wah oleh2 kluyuran ke China……..membaca critanya menarik, melihat foto2nya merasa kedinginan………..berapa lama kamu belajar Qi Gong disana? Ora kepingin menimba ilmu silat sekalian………..biar semakin tanggung kkkkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *