Doktrin Teror

Chandra Sasadara

 

Siapa sebenarnya 305 Muslim termasuk 27 anak-anak yang dibantai di Masjid al-Rawdah Sinai Utara Mesir, Jumat 24 November pekan lalu? Mereka adalah para sufi dan para pengikutnya, orang-orang yang menjalankan tasawuf dari etnis al-Sawarka. Ibnu Arabi menyebut tasawuf sebagai konsistensi meneguhkan syariat secara lahir dan batin dengan menjalankan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela (Ensiklopedi Tasawuf jilid IIII huruf s-z). Apa salahnya dengan tasawuf? Tak ada yang salah! Mereka hanya melakukan tawassul (perantara untuk dekat kepada Allah) dan tabarruk (meminta berkah kepada orang-orang shaleh: nabi maupun wali). Dua amalan yang dianggap sebagai perilaku bidah dan musyrik oleh para pembunuh. Dari mana doktrin itu berasal?

Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri Wahabisme adalah orang paling keras penentang tasawuf abad ke-18. Khaled Abou El Fadl menulis bahwa Abdul Wahab hendak membebaskan Islam dari ajaran-ajaran perusak, di antaranya yang disebut perusak adalah tasawuf, doktrin tawassul, rasionalisme, dan syi’ah (Sejarah Wahabi Salafi: Mengerti Jejak Lahir dan Kebangkitan di Era Kita). El Fadl menambahkan, dengan mengikuti doktrin al-wala’ wa al-bara’ (loyalitas dan pemutusan) Abdul Wahab berpendapat: “Umat Islam tidak boleh bersahabat, menjalin aliansi dengan non-Muslim dan Muslim pelaku bidah”. Dengan mengutip buku al-Sayyid Muhammad al-Kutsayri yang berjudul “al-Salafiyah bayn Ahl al-Sunnah wa al-Imamiyah” El Fadl menulis bahwa sepanjang 1803-1806 tentara Wahabi membantai Muslim Syi’ah di Karbala dan Muslim Sunni di Mekah dan Madinah yang dianggap melakukan bidah.

Seorang ideolog pembunuhan Presiden Anwar Sadat dan Muhammad Adzahabi (seorang guru besar al-Azhar sekaligus Menteri Wakaf Mesir) yang bernama Muhammad Salam Faraj menulis buku berjudul “al-Faridlah al-ghaybah”, salah satu doktrinya: Harus dilakukan operasi militer besar-besaran terhadap para penguasa Muslim yang melakukan bidah. Faraj adalah pengagum pikiran-pikiran Abdul Wahab. Dalam buku El fadl di atas disebutkan bahwa Faraj setuju dengan cara Abdul Wahab mengucilkan, menyerang, dan menghukum orang-orang yang dianggap kafir; lebih efektif katanya.

Pada 1960, para pengikut Abdullah bin Baz (salah satu ulama Wahabi yang sangat berpengaruh di Arab Saudi saat itu) mendirikan kelompok bernama Jamaah Salafiyah al-Muhtasibah. Kelompok ini menjadi cikal bakal sebutan Wahabi menjadi “Salafi”. Said Ramadhan al-Buthi dalam bukunya “As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Madzhab Islam” menceritakan bahwa Wahabisme mengubah strategi dakwahnya dengan cara mengubah nama Wahabi menjadi “Salafi” karena mengalami banyak kegagalan. Perubahan itu membuat Wahabisme dikenal dengan sebutan “Salafi Wahabi” atau “Salafi” saja.

Apa hubungannya Salafi Wahabi dengan ISIS (Islamic State Iraq dan Syria) yang disebut sebagai pelaku pembantaian di Sinai Utara oleh para korbannya yang selamat?

Saat perang dingin, Amerika mengajak Arab Saudi menghadapi Tentara Merah Uni Soviet di front Afganistan. Saudi menyambut dengan tangan terbuka, sebab negara kaya minyak itu tak mau kalah dengan Iran yang telah membentuk kelompok-kelompok gerilyawan Syiah dari suku Hazara. Saudi segera memobilisasi penganut Salafi Wahabi dengan menggunakan doktrin jihad: Wajib hukumnya memerangi kaum kafir yang telah merampas tanah kaum Muslim. Dua orang Salafi yang kemudian paling menonjol memimpin kelompok gerilyawan di Afganistan adalah Syaikh Abdul Rasul Sayyaf dan Syaikh Abdullah Azzam. Nama terakhir itu adalah dosen di Universitas King Abdul Aziz sekaligus murid Abdullah bin Baz. Azzam kemudian menjadi mentor Jihad Usama bin Laden dan sama-sama mendirikan Maktab al-Khidmat untuk mendidik para relawan yang akan ikut berperang di Afganistan, termasuk orang-orang yang berasal dari Indonesia. Kelompok Salafi yang terlibat perang di Afganistan ini kemudian dikenal sebagai Salafi Jihadi.

Para Salafi Jihadi kemudian merumuskan doktrin Jihad yang mamadukan ajaran Abdullah Azzam dengan ajaran Muhammad Salam Faraj. Doktrin yang kemudian digunakan oleh al-Qaedah dan diadopsi oleh ISIS. Apa doktrin jihad mereka? Solahudin dalam buku “NII Sampai JI: Salafi Jihadisme di Indonesia” menyebut:

1. Qital fi sabilillah: Perang/membunuh adalah satu-satunya pengertian jihad secara syar’i.
2. Jihad Fardlu Ain: Saat ini berjihad hukumnya wajib, sebab tanah-tanah kaum Muslim telah diambil oleh orang-orang kafir.
3. Irhabiyah: Boleh melakukan tindakan teror, termasuk membunuh anak-anak, perempuan, orang tua, dan tokoh agama.
4. Tauhid Hakimiyah: Kedaulatan hanya di tangan Allah, artinya penolakan terhadap berlakunya syari’at Islam dalam satu wilayah atau negara sama dengan menolak kedaulatan Allah, pelakunnya disebut kafir dan harus diperangi.

Tak heran jika Ali Ghufron, salah satu pelaku Bom Bali yang menewaskan 200 orang dan melukai 300 lainya menyebut dirinya sebagai penganut paham Jamaah Jihad as-Salafiyah (Risalah Imam dari Balik Terali, Khafilah Syuhada).

 

 

One Response to "Doktrin Teror"

  1. James  5 December, 2017 at 07:53

    Doktrin Teror = Muslim Islam Radikal

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *