Teach Like Finland

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Teach Like Finland

Penulis: Timothy D. Walker

Penterjemah: Fransiskus Wicaksono

Tahun Terbit: 2017 (cetakan 2)

Penerbit: Gramedia Widyasarana Indonesia

Tebal: xxix + 197

ISBN:  978-602-452-044-1

 

Keberhasilan Finlandia dalam memenangi rangking PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2001 membuat banyak pihak tertarik untuk mempelajari bagaimana sesungguhnya persekolahan di Finlandia. Apalagi, seperti dinyatakan oleh Sahlberg dalam Finnish Lesson 2.0 (2015), siswa Finlandia mencapai hasil PISA yang paling tinggi tidak melalui bantuan tutor dan pekerjaan rumah tambahan yang seabreg, seperti yang terjadi di Jepang dan kawasan Asia Timur lainnya (hal. 127).

Sejak itu banyak negara tertarik untuk menerapkan pengalaman Finlandia di sektor pendidikan mereka. Banyak juga sekolah yang secara mandiri meniru apa yang telah dilakukan di Finlandia. Namun sayang, banyak pihak yang meniru pengalaman Finlandia ini sepotong-sepotong saja. Misalnya hanya memperpendek jam belajar di sekolah, menghilangkan pekerjaan rumah bagi siswa, memberi istirahat kepada siswa setiap satu jam pelajaran dan sebagainya. Peniruan parsial ini sangat berbahaya. Alih-alih akan meningkatkan mutu pembelajaran, bisa-bisa malah merusaknya.

Mengapakah sistem yang kelihatannya santai dan jam belajar yang pendek bisa mencapai hasil yang luar biasa? Jam belajar di Finlandia sangat pendek dibanding dengan sistem pendidikan di negara lain. Mereka hanya belajar di sekolah selama 5 jam, dengan jumlah istirahat yang banyak. Siswa tidak diberikan pekerjaan rumah (PR) yang berjibun. Tidak ada Ujian Nasional, jarang ada ulangan sekolah. Tapi mereka berhasil mencapai level tertinggi PISA sejak tahun 2001 dan konsisten. Jadi apa kuncinya?

Pendidikan di Finlandia adalah sistem pendidikan yang memberikan kewenangan luas kepada guru dan sekolah. Guru memiliki otonomi yang luas untuk merancang pembelajaran di kelasnya, asal rancangan pembelajaran tersebut adalah bertujuan untuk mengembangkan dan membantu siswa dalam mencapai kompetensinya. Di Finlandia, ada sebuah kebijakan Pendidikan nasional yang jelas, disepakati semua pihak, yang “menetapkan prioritas, nilai-nilai, dan arah utama untuk seluruh sistem” – dan ini pada akhirnya memberikan para pendidik Finlandia peluang yang cukup untuk mengimplementasikan ide-ide… (hal. 114), …tingginya tanggungjawab profesional mereka (hal.119). Kurikulum adalah sumber, bukan aturan cara mengajar.

Guru-guru di Finlandia bisa begitu kreatif dan inovatif karena proses seleksi sejak dari calon guru dan proses pengembangan profesinya dilakukan dengan baik. Guru Finlandia harus melalui seleksi LPTK yang jumlahnya hanya sedikit sampai level magister (S2) dan menulis thesis yang ketat serta pelatihan selama 5 tahun (hal 120). Itulah sebabnya masyarakat begitu percaya kepada para guru untuk menerapkan inovasinya di dalam kelas (hal. 122).  Lagi pula, guru di Finlandia adalah profesi yang sangat dihargai secara sosial dan finansial.

Model Pendidikan di Finlandia adalah pendidikan yang berbasis kepada siswa secara individu. Hal ini berbeda dengan model pendidikan yang berbasis kelas. Beda terbesarnya dari kedua pendekatan ini adalah guru merencanakan proses pembelajaran yang berbeda. Pada pembelajaran berbasis siswa, guru memngajar dan memberikan penugasan sesuai dengan perkembangan pemahaman siswa. Sementara itu dalam pendekatan kelas, guru merencanakan pembelajarannya sesuai dengan kurikulum untuk kelas tersebut. Passing grade (nilai ketuntasan – KKM) ditentukan per individu siswa dalam pendekatan berbasis siswa, sementara itu KKM ditentukan sama untuk semua siswa di sebuah kelas dalam pendekatan kelas.

Pendidikan di Finlandia secara konsisten dan kuat menggunakan pendekatan berbasis siswa. Bahkan siswa dilibatkan dalam menentukan materi apa yang akan dipelajarinya. Mereka ikut menentukan apa yang perlu dipelajari dengan menyampaikan: (1) Hal-hal yang saya sudah tahu, (2) hal-hal yang mau saya ketahui, dan (3) hal-hal yang saya telah pelajari (hal. 111). Siswa sering diberikan tugas individu dan sesuai minatnya. Tentu saja tugas yang diberikan disesuaikan dengan kurikulum (hal. 103).

Proses belajar yang berbasis siswa memerlukan kematangan siswa dan kesiapan guru. Kematangan siswa di Finlandia yang sudah disiapkan sejak kecil, sehingga mereka bisa ikut serta dalam pengambilan keputusan, bahkan tentang disain kurikulum (hal. 108). Mereka dibiasakan untuk mandiri. Karakter untuk bertanggung-jawab terhadap diri sendiri sudah ditanamkan dalam diri siswa di Finlandia sejak kecil. Penanaman karakter mandiri ini tidak dilakukan terpisah melalui matapelajaran atau materi ajar, tetapi terintegrasi dalam budaya sekolah.

Sistem penilaian di Finlandia diarahkan untuk membantu siswa mencapai kompetensinya. Siswa sangat jarang mendapatkan tes atau ulangan. Penilaian pencapaian kompetensi dilakukan bahkan sejak guru dan siswa menentukan kurikulum pembelajaran siswa secara individu. Siswa Bersama guru menentukan materi apa yang akan dipelajari oleh siswa, sesuai dengan kompetensi yang belum dipahami oleh siswa. Guru dan siswa melakukan penilaian kemajuan kompetensi secara Bersama-sama. Siswa lebih sering diminta untuk menilai kemajuan kompetensinya sendiri dan guru akan memfasilitasi proses belajar si siswa selanjutnya. Penilaian dilakukan melalui pembuktian oleh siswa, hasil tes didiskusikan dengan siswa.

Melihat ketiga hal di atas, yaitu otonomi guru yang begitu besar, proses belajar yang berbasis siswa dan sistem penilaian yang bertujuan untuk membantu pengembangan kompetensi siswa secara individu, nampaknya sistem pendidikan di Finlandia adalah sebuah sistem yang ekstrim. Dalam hal penyiapan guru dan otonomi guru, misalnya, Walker bahkan meragukan sistem itu bisa diadopsi di Amerika (hal. 122).

Tapi mengapa Finlandia bisa berhasil dengan sistem ini? Finlandia bisa berhasil dalam sektor pendidikan adalah karena sistem ini dibangun di atas fondasi budaya Finlandia. Kemandirian, saling percaya dan motivasi untuk mencapai kompetensi sudah mengakar dalam budaya Finlandia.

Meski sistem ini unik dan dibangun di atas fondasi budaya yang kuat, namun tidak berarti ada hal-hal atau pengalaman-pengalaman yang bisa diadopsi oleh sistem pendidikan di negara lain. Walker mengidentifikasi 33 hal yang menjadi rahasia suksesnya anak-anak usia 15 tahun di Finlandia dalam tes PISA. Ke-33 hal ini dikelompokkannya dalam lima kategori, yaitu: (1) Kesejahteraan, (2) Rasa Dimiliki, (3) Kemandirian, (4) Penguasaan dan (5) Pola Pikir. Ke-33 kiat yang dipaparkan oleh Walker dalam buku ini sangat bagus untuk diintegrasikan dalam sistem yang kita punya. Mungkin tidak perlu semuanya diintegrasikan sekaligus. Masing-masing guru, sekolah dan dinas perluhati-hati dalam memilih kiat mana yang akan diadopsi. Sebab, seperti saya sampaikan di atas, sistem pendidikan di Finlandia dibangun di atas fondasi budaya Finlandia yang kokoh.

Keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia tidak terjedi begitu saja. Sejak tahun 1970 sistem ini mulai dirintis di beberapa sekolah. Saat mulai dirintis, sistem ini mendapat tentangan yang besar baik dari para ahli pendidikan internasional maupun di dalam negeri. Namun setelah ternyata sistem ini berhasil, banyak pihak yang kemudian mempelajarinya dan mengadopsinya. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan sistem perubahan kurikulum yang seringkali instan di Indonesia. Kita di Indonesia kurang sabar untuk mengujicoba sebuah perubahan dalam skala lecil dulu. Kalau mau berhasil seperti Finlandia, kita harus juga berani mengubah kebiasaan berganti kurikulum dengan cara instan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Teach Like Finland"

  1. Lani  8 December, 2017 at 00:25

    Ah Finland jd ingat lagu dr penyanyi adal Finland Kivlan sapa gitu……….mempopulerkan “nasi Padang”

  2. Linda Cheang  6 December, 2017 at 18:10

    Pak Hand, budaya Finlandia itu satu budaya saja dalam satu negara atau budaya majemuk kayak kita di Indonesia sini?

    Jika ingin mengadopsi sistem KBM a la Finlandia ini, kayaknya di setiap wilayah kabupaten, kota, sampai provinsi pasti beda-beda, kalau hanya memakai dasar kebudayaan thok. Berarti mesti ada standar nasional juga, kan?

  3. Handoko Widagdo  5 December, 2017 at 19:45

    Yang penting kita jangan latah dan meniru yang hanya di permukaan.

  4. James  5 December, 2017 at 07:56

    teach like FPI

  5. Sumonggo  4 December, 2017 at 12:09

    He he … saya baru mulai membaca buku ini sekitar 10 halaman. Saya juga penasaran dengan negerinya Linus Torvalds ini. Pelajaran sekolah di Indonesia terlalu banyak. Murid dijejali dengan hal yang tak semuanya mereka perlukan. Yang diperlukan, malah tak diajarkan. Korban gonta-ganti kurikulum bukan hanya murid tapi juga guru.
    Eh, tapi ngomong-ngomong di sekolah Finlandia apakah ada pelajaran agama? Ha ha ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *