Lidah Alien

Asrida Ulinnuha

 

“Kamu orang mana?” Seseorang bertanya.

“Saya orang Jawa.” Jawab saya singkat dan pasti.

“Ah, bukan! Kamu merasa Jawa kan karena tinggal di Jawa. Pasti bukan deh. Tulang wajahmu dan logatmu bukan Jawa.” Katanya membantah.

Piye sih? Itu bertanya betulan atau tidak? Bertanya tapi tidak mau terima jawaban. Debat macam itu sering sekali saya terima.

Akibat sering dipertanyakan, “orang mana?”, dalam satu dua tahun ini saya getol berbicara Bahasa Jawa, Jawa Semarangan. Semua yang mendengar langsung menduga saya orang Semarang.

Tetapi, begitu mendengar saya berbicara Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia yang baku, kepercayaan orang-orang ini runtuh. Dikiranya saya orang luar Jawa, bila tidak Sumatra maka Sulawesi, begitu katanya.

Lain hal kalau saya berbicara Bahasa Inggris. Katanya, kok kalimat yang dipakai Amerika tapi logatnya seperti Eropa atau Inggris pojok sebelah mana gitu. Lalu mulailah si penanya ngotot saya pernah tinggal cukup lama di Eropa atau punya kecengan orang bule. Tidak ada satupun ‘tuduhan’ tersebut yang benar. Saya di sini-sini aja, pergi ga jauh. Pacar bule ga pernah punya.

Dalam linguistik ada istilah poliglot, itu untuk orang yang bisa berbicara dalam banyak bahasa secara lancar. Saya coba ingat-ingat, saya memang pernah terpapar banyak bahasa selama hidup saya. Terpapar yang saya maksud adalah tidak melulu belajar formal, namun sebagian saya menggunakan dalam komunikasi atau sebagiannya hanya dalam buku bacaan dengan konsisten.

Saya coba membuat daftarnya secara berurutan, sejak lahir hingga sekarang: Indonesia, Inggris, Arab, Italia, Rusia, Sunda, Jawa, Perancis, Mandarin, Korea, Urdu, Belanda, Bugis. Mari kita hitung. Total ada 13 paparan. Wow!

Ada yang terlupa sebelumnya. Tambah 1 lagi, Bahasa Jerman. Saya pernah diajari Oom Djoko Paisan, tapi ga bisa-bisa 😆

Tidak semuanya saya bisa pakai untuk komunikasi. Komunikasi terlancar adalah dengan Bahasa Indonesia, Inggris, Jawa (level junior). Yang bisa walau sangat sedikit adalah Bahasa Sunda dan Belanda. Sisanya tidak bisa pakai sama sekali, buntu. Kecuali diberi waktu menyesuaikan diri tinggal di lingkungan bahasa yang dimaksud selama variasi waktu antara 5 jam hingga 3 hari. Saya rasa, saya bukan poliglot kalau begini.

Ada yang menarik, bahkan bagi saya sendiri. Kadang ada istilah asing yang terngiang di pikiran, ingin saya ungkapkan akan tetapi tidak tahu artinya. Pernah saya bermimpi dimana lingkungan mimpi saya berbahasa Korea dan Itali, saya termasuk penuturnya. Padahal saya cuma mengenal bahasa ini dari baca buku atau nonton film.

Yang paling sering masuk mimpi adalah Bahasa Inggris, tentu saja. Bahkan bahasa ini kerap terlontar secara spontan. Dahulu, saya kalau marah kerap tiba-tiba nge-rap dalam Bahasa Inggris. Pokoknya ngomel tapi Bahasa Inggris semua.

Bukan bermaksud keminggris atau sok gaya beringgris ria, saya hanya tidak bisa mengendalikan diri. Sepertinya laci-laci bahasa di otak saya sedang kacau tertukar, mungkin juga ‘senthet’ karena kurangnya kapasitas.

Yang paling aneh adalah waktu saya sedang di Arab Saudi, ketemu emak-emak yang tiba-tiba ngomel sama saya. Waktu itu, disamping ngga ngerti bahasanya, saya juga tidak paham apa kesalahan saya.

Bercampur antara bingung dan kepingin nampol orang, mak jegagik saya menjawab omelannya dalam Bahasa Arab dicampur bahasa si mamak. Tiba-tiba dia tertawa cengar-cengir, intinya minta maaf sambil peluk-peluk. Setelah selesai diam-diam saya tanya mbak-mbak sebelah saya, dalam Bahasa Inggris, si mamak itu ngomong bahasa apa sih? Enak aja marahin saya.

Si embak yang agak mirip India Tamil itu memundurkan badan melihat muka saya, matanya membesar, mungkin pengen nyuil pipi saya…hahaha. Dia jawab, lah bukannya situ bisa jawab? Kan si Mamak itu ngomong Bahasa Urdu. Saya panas dingin malu, duh!

Btw, di Karimunjawa saya dianggap seperti keluarga oleh banyak kenalan di Kampung Bugis. Awalnya pikir mereka saya ini orang Bugis juga. Keuntungan tersendiri bagi saya.

Berbicara dengan logat dibuat-buat selama dua hari misalnya, pasti melelahkan. Saya tidak bisa membuat-buat logat supaya dikira orang Jakarta saja, daripada orang Sulawesi yang orang banyak kira. Belum pernah ke Sulawesi soalnya.

Jadi saya berbicara apa adanya, sudahlah saya tidak pikir lagi orang kata apa. Terserah mau dianggap orang mana. Maka tidak heran artis Surya Saputra sampai stress berat ketika harus berperan sebagai orang Ambon. Membuat-buat logat memang tidak gampang.

Pernah saya baca istilah accent-switcher alias orang yang bisa mengganti aksen seperti menyalakan dan mematikan lampu. Jelas bukan saya orangnya.

Ada juga istilah bi-accented, ini adalah orang yang memiliki banyak aksen akibat sebagai penutur multi lingual. Saya agak lega mengetahui ini. Karena dulunya saya kira kalau saya ini alien.

 

 

5 Comments to "Lidah Alien"

  1. Ulin  9 December, 2017 at 20:33

    Mbak Hennie, konon ini sebetulnya bukan klebihan juga, tapi ada semacam “dysfunction” jadinya agak nganu perkara bahasa. Sering mak jegagik, mak bedhunduk begitu istilah Jawanya…hahaha

    Mas Sumonggo, Wah bahasa Namec itu penting, termasuk Bahasa Planet Avatar juga.

  2. Sumonggo  8 December, 2017 at 17:04

    Tinggal ditambah dua bahasa lagi, bahasa planet Klingon dan planet Namek.

  3. Ulin  8 December, 2017 at 12:08

    @James…leuk nah?! hahahaha

  4. Hennie Triana  8 December, 2017 at 12:00

    Kelebihan yang istimewa. Salut.

  5. James  8 December, 2017 at 11:39

    Lidah Asing Luar Angkasa

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *