Menggadaikan Palestina

Chandra Sasadara

 

Judul pemberitaan Republika online tanggal 6 Desember 2017 menyebut “Saudi Dukung Trump Jadikan Yerusalem Ibu Kota Israel”. Sungguh itu bukan pemberitaan ganjil. Di banyak pemberitaan sebelumnya, Saudi adalah sekutu Israel dalam kerja sama ekonomi maupun dalam memusuhi Iran. Apakah itu hal aneh? Tentu saja tidak! Sebab dalam sejarahnya Klan Ibnu Saud adalah salah satu musabab berdirinya Israel di Timur Tengah.

Klan Ibnu Saud adalah sekutu Inggris dalam perang perebutan Jazirah Arab melawan Kekhalifahan Turki Utsmani. Saking geramnya terhadap Keluarga Saud, pada tahun 1815 khalifah Turki Utsmani memobilisasi pasukan kaveleri dari Mesir, Albania, dan Turki dipimpin oleh Ibrahim Pasya dari Mesir. Hasilnya Muhammad Ibnu Saud berhasil ditawan dan dihukum penggal di Turki. Namun pada tahun 1902-1906 perlawanan kelurga Ibnu Saud terhadap Tukri bangkit lagi dipimpin oleh Abdul Aziz Ibnu Abdurahman Ibnu Saud. Peristiwa terakhir itu diabadikan dalam kitab “Unwan al-Majd fi Tarikh Najd” karya Utsman Ibnu Abdullah Ibnu Basyr al-Hanbali. Disebutkan dalam kitab tersebut sebanyak 24 ribu tentara Muslim dari Kekhalifahan Utsmani yang berasal dari Maroko, Mesir, dan Hijaz tewas. Kemenangan Keluarga Ibnu Saud atas Turki Utsmani itu menjadi pintu masuk Inggris berkuasa di Jazirah Arab, termasuk tanah Palestina sekarang ini.

Pada Mu’tamar al-Aqir yang diselenggarakan di Ahsa pada 1919 ditanda tangani perjanjian resmi antara Inggris dengan Arab Saudi, salah satu ikrar Klan Ibnu Saud kepada Inggris berbunyi: “Aku berikrar dan mengakui seribu kali kepada Sir Percy Cox Wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau kepada yang lainya sesuai dengan keinginan Inggris. Aku tak akan keluar dari keinginan Inggris sampai hari kiamat” (Sumber Kitab: “Shafahat min Tarikh al-Jazirah” karya Dr. Muhammad Awadh al-Khatib).

Dalam buku “40 Aman fi Al-Jazirah al-Arabiyah” karya Abdullah Jhon Phillipi disebutkan “Masa depan Palestina, bagi pemimpin Saudi tergantung kepada sahabat Inggris. Inggris bisa berbuat semaunya dan pemimpin Saudi hanya patuh dan taat.” Apa yang ditulis oleh Phillipi tersebut kompatibel dengan pernyataan raja Saudi dalam wawancara yang dimuat Washington Pos 19 September 1969. Raja mengatakan “Sesungguhnya kami dengan Bangsa Yahudi adalah sepupu. Kami tak akan rela melemparkan mereka ke laut sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang. Kami akan hidup bersama mereka secara berdampingan.”

Jadi tak usah heran kalau Saudi tak akan sekeras Indonesia dalam membela hak kemerdekaan rakyat Palestina!

 

Penulis Novel “Ahangkara: Sengketa Kekuasaan dan Agama”

 

 

3 Comments to "Menggadaikan Palestina"

  1. Swan Liong Be  11 December, 2017 at 18:09

    Juga dipertanyakan apakah yang sekarang ribut “membela” rakyat palestina itu betul² tau duduk perkaranya soal palestina dan israel; aku punya kesan bahwa persoalan ini disalahgunakan oleh gerombolan tertentu dengan issu agama, se-olah² palestina disamakan dengan islam dan israel identis dengan agama yahudi.

  2. Sumonggo  8 December, 2017 at 17:22

    Sayangnya cuplikan-cuplikan sejarah semacam ini jarang diketahui oleh masyarakat kita. Padahal kita bisa belajar banyak dari kejadian tersebut, termasuk juga pertumpahan darah antara Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, serta tragedi Perang Unta (Perang Jamal). Itulah resiko sejarah akibat kegagalan mempergunakan akal sehat.
    Terus terang, menjelang “tahun pilkada” dan “tahun politik”, maka isu Palestina dan isu Rohingya bakal makin gencar digoreng oleh gerombolan yang merasa diri mereka “paling peduli” dan “paling membela” Palestina dan Rohingya, agar terlihat seolah-olah pemerintah tidak berbuat apa-apa. Bagi gerombolan ini isu Palestina dan Rohingya hanyalah sekedar “komoditas” politik.

  3. James  8 December, 2017 at 11:34

    Musuh Bebuyutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *