Keindahan Perempuan

Wesiati Setyaningsih

 

Kehebohan terjadi gara-gara kalender. Masalahnya kalender itu isinya foto-foto perempuan berbikini. Atas usul anak-anak, saya foto di samping sepiring gorengan lalu saya pasang di instagram. Awalnya murni becandaan. Tapi malah jadi semacam penelitian perilaku. Nyatanya hampir semua komen mengatakan gagal fokus.

Kesimpulannya, tubuh perempuan itu indah. Itulah kenapa harus ditutup biar nggak bikin ngiler. Anak-anak saya bertanya, “kok bukan yang suka ngiler aja yang matanya ditutup?”

Yo embuh. Yang jelas sekarang banyak perempuan malah terdoktrin ikut mengutuk perempuan lain yang tidak menutup tubuhnya.

Kemarin Dila curhat dengan sebal. Pagi-pagi dia saya minta beli nasi dan sayur di warung saja karena saya malas masak. Warung makan dekat rumah sudah buka sejak jam 5. Sementara saya mesti berangkat jam 6, mending saya mandi dan siap-siap dan Dila yang beli makanan buat sarapan dan bekal Izza.

Karena malas ganti baju, dia pake celana pendek dan kaos yang dia pake tidur, ditutup jaket. Dalam perjalanan pulang, dia naik motor, ada ibu-ibu yang dibonceng suaminya di depan motor dia dan terus menerus melihat pahanya.

Saya bilang, sudahlah, biarkan saja. Itu resiko pake celana pendek, kata saya. Maklum, ibu-ibu kan suka rese. Tapi semalam, saya lihat sendiri. Dila yang pake rok selutut, selutut ya bukan sepaha, melintas di deretan meja makan fast food. Seorang gadis berjilbab yang sedang makan es krim, sampai memutar kepalanya dengan mata terarah ke kaki Dila yang betisnya terbuka merdeka.

Saya bertanya-tanya, apakah dia tidak bahagia dengan cara berpakaiannya? Entahlah. Saya suka juga melihat perempuan-perempuan berpakaian terbuka, bukan karena iri, tapi salut dengan keberanian mereka. Mereka ini tidak tergerus jaman dan jadi latah takut neraka. Mereka punya pandangan sendiri dan berani memegangnya dengan kuat kemerdekaannya.

Mereka punya Tuhan yang enggak iseng, menciptakan keindahan lantas tidak membolehkan keindahan tadi dinikmati orang banyak. Mereka percaya Tuhan menciptakan keindahan untuk dinikmati bukan ditutupi. Karena kalo demikian halnya, pasti Tuhan sudah menciptakan perempuan dalam selaput, atau dalam bentuk seburuk-buruk mahluk. Bukan dalam bentuk perempuan yang sekarang: dengan keindahan.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "Keindahan Perempuan"

  1. djasMerahputih  19 December, 2017 at 16:43

    SLB: Gimana kalo hanya menikmati susu sambil ngopi?!
    ——
    Nah kalo yg ini harus nanya dulu, bagaimana cara menikmati susu sambil ngopi..??

  2. Lani  19 December, 2017 at 02:03

    Al, James: Tossssssss!! Setuju nganggo bangeti………mmg begitulah dinegeri ini yg di obok2, diurusi, hal2 yg ora masuk akal blasssssss………..hanya utk mengalihkan pd pokok permasalahan……….

  3. Swan Liong Be  18 December, 2017 at 18:35

    @djasMerahPutih: Gimana kalo hanya menikmati susu sambil ngopi?!

  4. Swan Liong Be  18 December, 2017 at 18:33

    @James: tergantung keadaan perut, kalo udah kenyang banget, ya gorengan dipiring juga bikin kurang menarik!

  5. Alvina VB  18 December, 2017 at 05:45

    Perempuan oh…perempuan…..gak tahu mau ngomong apa ya…..kebebasan berpakaian memang hak org masing2….tapi kl misalnya pake bikini di mall kan bukan pada tempatnya, ttp kl pake bikini di pantai, siapa yg mau protest? kecuali org2 yg fanatic aza…..pakaian kok dijadiin debat agama, coba situ debatin, korupsi, kolusi dan nepotisme apa lebih baik dari cara org berpakaian?

  6. Alvina VB  18 December, 2017 at 05:40

    Setuju dengan mbakyu lani dan James, lebih ngiler liat gorengan pake cabe rawit yak…mantep…..

  7. djasMerahputih  17 December, 2017 at 18:16

    Wah gagal fokus.. itu kopi susu dalam cangkir pasti nikmat sekali..!!

    Salam Gemblung dari Merauke

  8. James  16 December, 2017 at 04:45

    lebih ngiler dengan Gorengan dipiring

  9. Lani  16 December, 2017 at 04:14

    Wesi: Aku lebih tertarik foto gorengannya………..

    Krn masalah pamer dada, paha, wis okeh nang Kona………mau melihat yg spt apa ada pokok-e bebas merdekaaaaaaaaa……….ora ono wong reseh, ribet dgn pelototan mata sampai ceriwis……….

    Krn mmg disesuaikan dgn tempatnya, mosok nang pantai sarungan??????

  10. Sumonggo  15 December, 2017 at 17:20

    Keindahan gorengan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *