Surat Pertama dari Ibukota

Angela Januarti Kwee

 

Dear David,

Semoga kamu tidak bingung karena judul suratku tidak lagi “Surat dari Desa”, melainkan “Surat dari Ibu Kota”. 😊

Sudah lebih dari dua tahun tidak menulis surat untukmu, tiba-tiba saja aku ingin menulis lagi. Kali ini, aku tidak akan bercerita mengenai petualanganku dari satu kampung ke kampung lain, tapi aku ingin berbagi kisah petualanganku di ibukota – Jakarta. September 2017 lalu, aku memulai petualangan itu.

Bila ditanya bagaimana rasanya pindah ke tempat baru dan jauh dari keluarga besar, jawabannya hanya satu: campur aduk.  Tapi, aku tetap ingin bersyukur karena mendapatkan kesempatan itu. Sejujurnya, ada banyak hal terjadi sebelum aku memutuskan untuk berangkat. Belum juga memulai, cobaan sudah datang dan menghantam pondasi keteguhan hati yang telah aku bangun. Lantas, aku meminta nasihat dari beberapa orang terdekat. Kamu tahu kan David, aku bukan tipe orang yang mudah terbuka, tapi aku senang mereka sangat mengerti dan memberikan nasihat yang membuatku memutuskan tetap berangkat. Akhirnya, di sinilah aku sekarang.

Saat ini, aku sedang melanjutkan pendidikan pascasarjana di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta. Sebuah kampus yang membuatku mengenal 15 orang sahabat di jurusan yang sama dan belajar banyak mengenai Marketing Communication (Marcom).

Pertama, aku ingin bercerita tentang sahabat-sahabatku. Karena angkatan kami orangnya tidak ramai, kami dengan mudah saling mengenal dan dekat satu dengan lainnya. Terlebih, ada tugas kuliah yang dilakukan perkelompok. David, aku senang mengenal mereka. Aku selalu percaya tiap perjumpaan yang Tuhan izinkan terjadi, pasti ada tujuannya. Sejauh ini, persahabatan kami masih berjalan baik (harapannya akan terus seperti ini). Doakan ya, David agar tiap kami bisa membina persahabatan ini.

Keseruan lainnya saat kami bersama adalah kami sering membuat keributan di beranda atas (saat dinner) dan di kelas. Ada saja topik-topik yang membuat kami tertawa dan heboh. Meski kami datang dari berbagai suku, budaya, agama, usia dan profesi, kami bisa membaur dan menjadikan persahabatan ini sebagai lambang Indonesia yang plural dan multikultural. Aku kirimkan David beberapa foto kebersamaan kami ya, dan satu diantara mereka namanya sama denganmu. 😊

Kedua, tentang kuliahku. Semester ini aku belajar tiga mata kuliah yang semuanya baru bagiku. Saat mulai kuliah, hal pertama yang ada di kepalaku adalah aku perlu belajar banyak, karena ternyata tidak banyak hal yang kuketahui. Pernah, aku merasa down (karena kebingungan mengerjakan tugas) dan mengatakan “Aku tuh kayak orang bodoh ….” di depan sahabatku di kampus dan dia marah padaku, katanya “Ucapan itu doa. Kamu sudah beberapa kali menyebut kata bodoh ….” Sejak itu, aku tidak lagi mengatakan hal negatif pada diri sendiri.

Ada pula pengalaman seru David. Kalau aku mengingat ini rasanya ingin menggeleng-gelengkan kepala. Ceritanya, aku harus submit tugas untuk mid exam, tapi H-1 aku masih tidak tahu harus menulis apa. Meski sudah berkonsultasi dengan dosen dan dijelaskan ulang oleh dua orang sahabatku, aku masih kebingungan. Dititik inilah aku mencoba menyemangati diri sendiri untuk menyelesaikan deadline tepat waktu. Meski harus tidur menjelang pukul 4 pagi (sejujurnya aku kapok 😊), tapi aku senang perjuanganku tidak sia-sia. Tuhan juga tidak tidur, David. Ditengah kebingungan dan perjuanganku, Ia mengirimkan seseorang yang membantu memberikan saran. Terkadang aku merasa dalam tiap proses belajar ini, Sang Ilahi juga ingin aku bertumbuh dalam iman.

Belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut, aku mulai mengubah strategi, David. Aku mencicil semuanya dan tidak malu untuk bertanya (lagi) bila aku memang tidak mengerti. Berjalannya waktu, aku mulai menikmati tiap prosesnya. Dari ketidaktahuan aku belajar menjadi tahu. Ya, inilah proses hidupkan, David? Proses untuk terus belajar.

Aku jadi ingin mengutip kalimat yang tertempel di dinding dekat meja belajarku: “Berikan sedikit waktu ekstra, upaya dan kesabaran terhadap sebuah tugas atau masalah yang sulit hari ini.” Itulah yang hendak kulakukan, David. Doakan aku agar semua berjalan lebih baik dan aku bisa semakin beradaptasi dengan ritme perkuliahanku.

Hmmm, sepertinya sudah banyak yang kuceritakan padamu. Semoga kamu tidak bosan membaca surat yang cukup panjang ini. Selalu berbahagia di sana. Tunggu surat-suratku yang lain ya.

 

Peluk sayang,

Mawar

 

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Surat Pertama dari Ibukota"

  1. Angela Januarti  28 December, 2017 at 09:50

    Kak Alvina : makasih kak, Amin

  2. Angela Januarti  28 December, 2017 at 09:48

    Makasih bang Loho

    Ce Linda : hahaha iya ce, soalnya kalau bangun pasti pusing kepala

    Terima kasih James dan David -Merauke

  3. Alvina VB  18 December, 2017 at 05:37

    Sukses selalu utk Angela dan selamat menjalankan kuliahnya dengan baik dan selesai pada waktunya.

  4. djasMerahputih  17 December, 2017 at 18:11

    Setiap hari adalah proses belajar. Selamat belajar di Universitas Kehidupan..

    Salam dari David – Merauke

  5. James  16 December, 2017 at 04:41

    ucapan Selamat atas keipindahannya ke Jakarta Kota dan tempat kuliah baru, belajar sesuatu itu tidak pernah ada habisnya selama kita masih hidup sebagai manusia karena akan terus ada yang harus dipelajari

  6. Linda Cheang  15 December, 2017 at 15:30

    kapok begadang

  7. Loho  15 December, 2017 at 12:28

    Sukses selalu ya.
    GBU

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.