Tan Malaka: Islam dan Komunisme

Chandra Sasadara

 

Novel “Tan: Gerilya Bawah Tanah” ini bukan hanya berkisah tentang pelarian Tan Malaka, juga diaspora para pejuang kemerdekaan Indonesia yang bernaung di bawah Partai Komunis Hindia (PKH). Mereka lari dari kejaran intelijen Algemene Recherce Dienst (ARD) pemerintah Hindia Belanda pasca pemberontakan gagal pada 1926. Kaum merah itu berpindah-pindah tempat mulai dari Bangkok-Hongkong-Manila-Singapura-Amoy-Selangor-Johor dan tempat lainnya. Bertahan hidup dengan pekerjaan apa saja dan menyamar dengan beragam status. Tan sendiri memiliki selusin nama sepanjang penyamarannya.

Handri Teja: penulis novel ini, bukan hanya berhasil menggambarkan petualangan laki-laki miskin nan ringkih yang hidup sendirian di sepajang pelariannya, dia juga berhasil membawa pembacanya membayangkan ketangguhan putra Nagari Lumuik Suliki Sumatera Barat menggengam kuat cita-cita Indonesia Merdeka di tengah penyakitnya yang kambuh saat dingin menyerang. Tan memilih menghibahkan hidupnya untuk kemerdekaan bangsa-bangsa Melayu dibanding hidup nyaman bersama perempuan cantik yang membius mata, putri seorang rektor di Manila.

Satu hal yang saya kagumi dari novel ini adalah kemampuannya menjelaskan Islam dan Komunisme dalam satu sikap kebangsaan tanpa menyeret pembacanya mengalami konflik ideologis. Mulai dari kisah Zainuddin Labay, tokoh Sumatera Thawalib yang membiarkan murid-muridnya–termasuk Jamaluddin Tamim dan Datuk Batuah–untuk belajar Marxisme, Sosialisme, dan Komunisme sampai sokongan para tokoh-tokoh Islam Minang di perantauan. Salah satunya adalah bantuan Syekh Ahmad Wahab kepada para kaum merah yang lari dari kejaran Belanda. Syekh Ahmad Wahab adalah salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang tinggal di Bangkok.

Fitnah keji yang disebar oleh Pemerintah Hindia Belanda bahwa kaum komunis anti-Tuhan dan anti-agama berhasil membuat marah Adam Galo, saudara Tamim. Galo datang ke Singapura dengn niat membunuh Tamim yang dikabarkan anti-Tuhan dan anti-agama. Sebagai orang Minang, Tamim dianggap telah mencoreng arang dijidat keluarga. Namun Tamim berhasil meyakinkan saudara tuannya. Dalam salah satu perdebatan Tamim mengatakan “Kami Islam seislam-islamnya, tapi dalam menentang kapitalisme, kami Marxis semarxis-marxisnya!” Di lain kesempatan bekas guru di Sumatera Thawalib itu mengatakan “Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan..kami percaya puncak peribadatan yang bisa kami capai adalah mengabdi untuk kemanusiaan, buat kemaslahatan semesta.”

Dan Tan, adalah tokoh pergerakan Indonesia yang ingin menggabungkan semangat Islam dan Komunisme dalam satu sikap kebangsaan, berpuluh tahun sebelum Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom) menjadi jargon politik Presiden Soekarno.

Selamat membaca novel bagus ini!

 

 

2 Comments to "Tan Malaka: Islam dan Komunisme"

  1. djasMerahputih  17 December, 2017 at 18:21

    Dan dalam menghadapi Radikalisme kami Kenthir sekenthir-kenthirnya..

    Salam satu hati dari Merauke

  2. James  16 December, 2017 at 04:49

    History…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.