Cara Menulis Puisi Agar Terlihat Seperti Penyair Sesungguhnya

El Hida

 

Ada yang berpendapat bahwa menulis puisi itu sulit, seperti memahami hati isi perempuan yang telah menjadi sahabat terus kita menyatakan cinta kepadanya. Tapi ada juga yang berkata bahwa menulis puisi itu sangat mudah, seperti menyatakan cinta kepada sahabat yang kita sudah tahu bahwa dia juga mempunyai perasaan yang sama.

Saya bukan penyair, tapi berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa cara membuat puisi agar terlihat seperti penyair yang sesungguhnya.

  1. Tema

Memilih tema yang sederhana, jangan yang berat. Ada banyak hal yang bisa kita jadikan puisi di sekitar kita. Terutama di diri kita. Temukan keresahan apa yang sedang bergelut dalam hati. Ditinggal nikah sahabat yang kita cintai diam-diam ataupun ribut dengan tetangga. Semua bisa jadi puisi kalau kita jeli dan kreatif menjadikannya inspirasi untuk puisi yang kita mau tulis.

 

  1. Judul

Buatlah judul puisi yang tidak biasa. Agar terihat gaya dan indah. Usahakan agak liar. Misalnya kita mau membuat puisi bertemakan mantan, maka kita beri judul “Hantu Masa Lalu”. Jangan memberi judul yang sudah biasa didengar semisal “Dear Mantan”.

 

  1. Bait

Agar terlihat bagus dan indah, maka baitpun harus kita perhatikan keindahannya. Bisa dari segi kalimatnya atau dari segi tata-letaknya. Dari segi kalimatnya bisa kita buat di ujung setiap kalimatnya dengan rumus AABB, ABAB, ABBA atau  AAAA tergantung selera.

 

  1. Diksi

Dari segi pemilihan kata atau diksinya, agar puisi kita terlihat keren seperti penyair sesungguhnya adalah dengan cara memilih kata-kata atau kalimat-kalimat yang liar (baca: aneh) dan tidak biasa yang membuat orang yang membacanya perlu mengulang baca untuk dapat mengerti isi puisinya.

Dari uraian di atas, akan  saya berikan contoh puisi yang terlihat seperti karya penyair yang sesungguhnya;

 

HANTU MASA LALU

Aku pernah berpikir tentang masa lalu (A)

Wajahmu yang selalu ada di setiap waktu (A)

Membuat rembulan berdiam di dadaku (B)

Menerangi gelap malam di kalbu (B)

 

Aku lalu menjadi angin yang terbang tanpa tuan (A)

Mengelilingi semestamu yang entah (B)

Ketika aku melihatmu bahagia bersama awan (A)

Aku menjadi hujan yang menenggelamkan jiwa resah (B)

 

Engkau memang hantu di masa lalu (A)

Tidak terlihat namun selalu ada menjadi bayang (B)

Haruskah aku memanggil para pemburu agar kau hilang (B)

Dan hidupku tenang setiap waktu (A)

 

Kini aku sendiri dalam harap yang tak berkesudahan (A)

Hanya bisa melihat bintang bersinar dari kejauhan (A)

Rasanya indah tapi ada rasa menyakitkan (A)

Hantu masa lalu jelas tak akan lenyap walau dirukyahkan (A)

 

Bagaimana, gampang bukan? Terlihat seperti puisi penyair yang sesungguhnya gak? Anggap saja iya. Agar bahasannya selesai.

Yang paling penting dari menulis puisi adalah, tulislah puisi dengan ikhlas. Teruslah menulis. Jangan pedulikan bagus dan tidak. Bagus dan tidak itu relatif. Teruslah menulis, tambahlah jam terbang. Menulis puisi tidak untuk agar kita bisa jadi penyair. Menulis puisi itu tentang bagaimana caranya mencurahkan kebijaksanaan hati pada sebuah tulisan.

Satu kalimat terakhir untuk tulisan ini adalah;

“Puisi pasti selalu puitis. Tapi tidak setiap tulisan yang puitis itu disebut puisi.”

 

Salam

el hida

Tasikmalaya, 29112017

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.