Menikah Sebagai Prestasi?

Wesiati Setyaningsih

 

“Kenapa sih mereka mesti menikah buru-buru?”

Itu pertanyaan Dila, si sulung, dalam konteks pasangan-pasangan yang belum mapan secara finansial. Ada tetangga Ibu yang menikahkan anaknya dengan dana yang sangat mepet. Bukan karena berhemat biar uangnya untuk beli rumah, tapi karena memang dananya segitu-gitunya.

Anaknya sendiri belum mapan kerja. Calon menantunya juga. Tetangga ini sejak lama sudah miskin. Menikahkan anak dalam kondisi demikian hanya akan menambah beban sendiri. Padahal anak perempuannya ini juga masih muda, baru usia 24 tahun.

“Jadi kenapa aku liatnya orang-orang yang kurang mampu ini malah kesannya buru-buru nikah? Kenapa nggak nunggu mapan dulu? Akhirnya nanti malah menciptakan penderitaan yang lain,” gitu Dila bertanya-tanya.

“Ya.. mungkin aja menikah jadi prestasi buat mereka,” saya membuat dugaan sotoy.
“Maksudnya?”
“Dengan pendidikan lusan SMA aja, nggak bisa kuliah. Dengan pekerjaan seadanya dan gaji nggak banyak-banyak amat. Mungkin bisa mendapatkan laki-laki yang mau menikahi dia itu sebuah prestasi. Kind of, “gini-gini aku laku lho. Ada yang mau kok.” Gitu kali.”

Kami nggak bahas masalah perintah agama karena kami percaya bahwa aturan agama biasanya digunakan sebagai legitimasi hasrat bawah sadar. Jadi lebih baik membuat dugaan berdasar pola pikir saja.

Saya bilang, “yang jadi pertanyaan adalah, apakah perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi dan karir bagus, tetap ingin menikah? Setelah segala pencapaian dalam hidup mereka dalam pendidikan dan pekerjaan, apakah mereka masih menganggap pernikahan sebagai sebuah prestasi? Padahal menikah sendiri memiliki resiko membatasi kebebasan mereka dan berada dalam kendali laki-laki?”

Memang dalam kehidupan bermasyarakat, sepertinya prestasi yang paling dihargai dari seorang perempuan adalah kalau dia sudah menikah. Meski pendidikan dan karir tinggi, orang tetap akan bertanya, “kapan nikah?”

Jadi bisa dimaklumi bahwa akhirnya perempuan menganggap pernikahan adalah prestasi paling purna. Pendidikan bisa aja nggak tinggi amat. pekerjaan bolehlah nggak mapan. Tapi nggak nikah? Jangan sampai deh.

Banyak sekali ini di sekitar kita. Dan hasil obrolan saya dengan Dila, membuat dia terpikir, “dibikin skripsi bagus nih.”

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Menikah Sebagai Prestasi?"

  1. ariffani  3 January, 2018 at 11:17

    saya belum nikah sampe umur 28 ini, pengen ya, tp hanya sekedar pengen aja. belom usaha… hahahha..

    Being Single itu menyenangkan!!!

  2. houra  27 December, 2017 at 14:46

    lha bu wesiati dengan ayahnya dila waktu nikah kan juga nikah muda dan belum mapan , dua-duanya belum kerja , dua-dua nya masih mahasiswa s1 , dua-duanya masih dibawah umur 24 tahun , dua-duanya masih dibiayai ortu (ayah dila masih dibiayai ayahnya yg dokter spesialis .. dibiayai suoer ekstra besarrrr) ..
    nah , kenapa tuh menikah dalam kondisi seperti itu ?

  3. Lani  26 December, 2017 at 14:02

    Wesi: woalah dalah jd sampai zaman now pertanyaan itu msh ada?
    Bikin judeg pastinya!
    Al, James: klu dipikir mmg aneh, tapi nyata benar. Pokoknya menikah dulu, dgn alasan “payu”= laku drpd jomblo sampai usia diatas 30, diomong orang lain….

    Krn hal itu pernah menimpa diriku, di-oyak2=dikejar dgn pertanyaan kapan punya pacar? Dilanjut kapan menikah? Msh dikejar klu sdh menikah segera hamil, krn dikejar usia yg tdk muda lagi……

    Welaaaaaah ediaaaaan!
    Untung aku segera melarikan diri menghindari pertanyaan2 yg sgt menyebalkan dan bikin stress itu. Krn selama menetap di LN tdk ada org peduli tanya2 seputar pernikahan.

    Aku setuju dgn kalian, yg utama adl bahagia, mau single, double itu pilihan.
    Mau punya anak/tdk itu juga pilihan, lagipula yg menjalani pribadi masing2 kenapa hrs mempedulikan perkataan orang lain???

  4. Dj. 813  23 December, 2017 at 01:13

    Jadi teringat akan anak-anak Dj.
    Si mbareb, pernah pacaran dengan orang Indonesia .
    Tantenya selalu mendesak, kapan kalian akan menikah .
    Anak Dj. cerita dan kami jadi senyum sendiri .
    Lalu dia, lanjutkan ceritanya . . .
    Kan aku baru selesai sekolah, Appartment yang juga belum lengkap isinya.
    Akhirnya mereka pisah . . .
    Si Ragil, selesai sekolah kejuruan juga diajak nikah oleh pacarnya .
    Tapi dia belum mau.
    Karena dia masih ada cita-cita cari ijazah SMA dan ingin kuliah .
    Akhirnya pacarnya lari . . .
    Hahahahahahahahaha . . . . ! ! !
    Untungnya kami di Mainz, tidak pernah ikut urusan mereka . .
    Juga si Dewi sudah umur 37 belum mau punya pacar .
    Nah ya . . .
    Asal mereka sehat dan bahagia , kami juga sudah ikut senang .
    Salam,

  5. Alvina VB  22 December, 2017 at 04:01

    Wkkkkkk…..baca judulnya biking ngakak…. Di sini mah org gak peduli, mau single/ married, who cares….yg penting bahagia dgn diri sendiri…. Dulu single and sekarang gak single lagi, gak banyak bedanya tuch, cuman ya tanggung jawab jadi double aja, dulu tanggung jawab utk diri sendiri, sekarang ada suami dan anak, ya tanggung jawablah sbg seorg istri dan ibu. Ttp untungnya suami dan anak ngerti banget punya istri dan ibu yg punya free spirit jadi rada2 khentir, he……he……

  6. James  21 December, 2017 at 09:03

    ada beberapa alasan di Indonesia itu untuk Menikah Muda, diantaranya Takut Jomblo, Karena Kecelakaan, Gengsi, belum Mapan kagak problem karena bisa Numpang Ortu. sangat berbeda jauh kalau dibanding di LN, orang gak Nikah sekalipun tetap OK saja tetap Enjoy Life, who cares ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.