Yerusalem Kota Berdarah

Chandra Sasadara

 

Yerusalem, dalam pengantar buku “Jerusalem: The Biography” karya Simon S. Montefiore disebut sebagai: rumah satu Tuhan, ibu kota dua bangsa, dan kuil tiga agama. Namun kota yang disebut terhormat di bumi (terrestrial) dan megah di langit (celestial) itu sekaligus menjadi kota yang berdarah-darah dalam sejarahnya.

Pada Juli 70 M, Titus putra Kaisar Roma Vespasian membawa empat legion berkekuatan 60.000 tentara Romawi mengepung Yerusalem. Gerbang-gerbang kota yang dibuat dari perak dibakar. Begitu mereka berhasil masuk kota, kuil-kuil dibakar. Para penutur kisah ini menggambarkan keadaan kota tak beda dengan neraka: ribuan mayat membusuk di dinding-dinding kota, seluruh tahanan disalib di bukit Zaitun, hingga bukit itu tak memiliki ruang kosong. Sebanyak 6.000 perempuan dan anak-anak yang berjubel di kuil hangus dibakar hidup-hidup. Titus membawa 2.500 tawanan ke Caesaria Philippi (saat ini Dataran Tinggi Golan), di Sirkus Caesaria Mirtima, orang-orang itu dipaksa berperang dan disembelih untuk senang-senang. Apakah hanya itu? Tidak! Ratusan tahun sebelumnya kekejaman serupa juga terjadi.

Shalmaneser III, penguasa Assyria pada 854 SM mengancam Israel. Ahab, penguasa Israel saat itu segera membangun persekutuan untuk membendung kekuatan Assyria. Negara Israel berhasil menahan serangan yang datang dari Nineveh (ibu kota Assyria) itu, tapi Raja Ahab tak selamat menghadapi pengkhianatan sekutunya. Seorang jenderal bernama Jehu memberontak, Ahab dipenggal beserta tujuh puluh putranya, kepala-kepala mereka ditumpuk di gerbang Samaria. Permaisurinya yang jelita bernama Ratu Izebel di lempar dari jendela istana, tubuhnya digilas roda-roda kereta, dan bangkainya diumpankan ke kawanan anjing. Pada 841 SM, seorang putri Izebel yang bernama Ratu Athalia membalas dendam, dia berhasil merebut Yerusalem dan membunuh semua putri keturunan Dawud (cucu-cucunya sendiri) dan hanya melepaskan seorang bayi: Pangeran Yoas.

Ketika Sargon II, raja Assyria terbunuh pada 705 SM dalam salah satu pertempuran. Hizkia, raja Israel berusaha memanfaatkan kesempatan untuk melepaskan dari dari kekuasaan Assyria, tapi malang bagi Israel, pengganti Sargon II yang bernama Sennacherib adalah laki-laki doyan perang. Yerusalem dikepung, Hizkia menyerah: menyatakan tunduk kepada kekuasaan Assyria, membayar 30 peti emas dan 800 perak serta mengasingkan 200.150 orang Israel. Manasye penguasa baru Israel, putra Hizkia menjadi entek Assyria membantai setiap oposisi di Yerusalem, membangun prostitusi-prostitusi laki-laki, dan mewajibkan pengorbanan anak laki-laki di atas panggangan (thopet) di Lembah Hinnom.

Necho, seorang fir’aun Mesir berhasil menghancurkan kekuatan Yudea di Megiddo dan membunuh Raja Yosia pada 609 SM. Kekuatan Necho merengsek ke Yerusalem dan berhasil menguasai kota itu dengan menempatkan saudara Yosia yang bernama Yoyakim di atas takhta Yehudi. Namun penguasa baru Israel itu tak mampu menahan serangan Nebukadnezar. Pemimpin Babylon itu menjarah kuil, membuang 10.000 bangsawan Israel dan membawa Yoyakim. Isreal diserahkan kepada Zedekiah, paman penguasa lama. Pada 587 SM Nebukadnezar kembali mengepung Yerusalem karena Zedekiah memberontak. Akibat pengepungan selama delapan belas bulan, perempuan-perempuan merebus anak-anaknya sendiri dan mayat-mayat membusuk di jalanan kota. Saat pasukan Babylon berhasil memasuki kota: kuil-kuil dihancurkan, lemari-lemari emas dan perak dalam kuil dijarah, perempuan-perempuan diperkosa, para pangeran digantung, dan Tabut Perjanjian lenyap untuk selamanya.

Hingga saat ini, Yerusalem masih menjadi kota terhormat di bumi dan di langit, sekaligus kota yang paling disengketakan dan diperebutkan dengan darah. Persis gambaran yang tertulis dalam Mazmur 74: “Mereka telah menyulut tempat suci-Mu dengan api.”

 

 

9 Comments to "Yerusalem Kota Berdarah"

  1. Alvina VB  4 January, 2018 at 05:23

    Ki Lurah lagi di China, James. Happy New Year!!! Lagi Summer kan ya di Ausie? Di sini lagi beku, dinginnnn banget.

  2. James  2 January, 2018 at 08:09

    Ki Lurah sedang reses diawal 2018

  3. Ami  26 December, 2017 at 07:45

    Salut buat Chandra.
    Membaca kembali sejarah dalam tulisan populer dan ringan selalu menyenangkan

  4. James  26 December, 2017 at 04:40

    sepintas lalu fotonya mirip Obama lagi graffiti

  5. Lani  25 December, 2017 at 12:27

    Al: Penggenapan apa yg tertulis di Kitab Suci akan terjadi disini

  6. Dj. 813  23 December, 2017 at 01:06

    Salut dengan tulisan diatas yang paham akan sejarah .
    Tapi tidak demikian dengan mereka yang membabi buta .
    Yang ditunggangi oleh politik busuk.
    Salam sejahtera dari Mainz dan terimakasih . . .

  7. Alvina VB  22 December, 2017 at 04:21

    Sejarah akan terulang lagi, semua bangsa2 di middle east sudah lama bangkit melawan Israel dan Yerusalem adl tempat yg jadi perseteruan sepanjang abad dan perang Harmagedon akan terjadi di tempat ini.

  8. James  21 December, 2017 at 08:50

    Yerusalem adalah Kota Suci tapi dibuat pertumpahan darak oleh Manusia-manusia Binatang berkeok Iblis

  9. Sumonggo  21 December, 2017 at 04:43

    Ketimbang menjadi sumber perseteruan abadi, mungkin sudah saatnya Tuhan melenyapkan kota ini dari muka bumi, seperti musnahnya Atlantis.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *