Didikan Belanda, Hidup di Amerika

Dian Nugraheni

 

Judule tabrakan…

Masih saja terngiang-ngiang kata-kata seorang teman yang sempat bertemu denganku di Jogjakarta, dan waktu itu kami ngobrol panjang lebar, tanpa tedeng aling-aling, seolah sudah kenal lama sebelumnya. Padahal, ya baru kenal dan baru bertemu pagi itu…

Salah satunya, aku bercerita tentang culture yang banyak bertabrakan, ketika aku mendidik dan mendampingi anak-anakku bertumbuh kembang di Amerika. Maksudnya, culture Indonesia, dan Amerika.

Aku bilang, “Ada beberapa anak Indonesia di Amrik, yang sempat sampai sangat stress ketika menjelang usia remaja. Ada yang hampir bunuh diri, ada yang kemudian masuk rumah sakit jiwa, ada yang kemudian cepat-cepat memisahkan dirinya dari orang tuanya, dan lain-lain…”

Terhadap anak-anakku sendiri, aku sangat berusaha untuk memposisikan diri naik turun sesuai irama mereka. Artinya, aku berusaha banget agar apa pun yang mereka lakukan, mereka berasa nyaman. Aku bahkan tidak mematok target yang begitu ketat bagi anak-anakku, baik soal sekolah, maupun soal kegiatan-kegiatan tambahan mereka…, kalau perlu, aku malah suka selalu bilang, “pelan-pelan Kak, Dek..sloowww…santaiii…jangan buru-buru, enjoy aja….”

Aku juga sudah lepas soal sekolah anak-anak sejak mereka SMP. Artinya, mereka sudah bisa mengatasi segala kesulitan yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah, dengan cara mereka sendiri, tanpa sibuk mencarikan guru les atau bimbingan belajar kayak di Indonesia. Di Amrik, beberapa teman masih memberikan les kumon untuk anak-anaknya. Untuk hal ini, aku ga ngeh, sejauh mana kegunaan dari les tambahan di luar sekolah ini, sebab bimbel ala Indonesia, tidak common di Amrik. Artinya, anak-anak bisa menyelesaikan segala kesulitan pelajarannya, di sekolah, dengan ketersediaan Guru yang selalu open buat mereka. Jadi ya memang ga perlu les pelajaran di luar sekolah, menurutku.

Soal pergaulan, aku juga timbang, tarik ulur. Misalnya, ada beberapa acara seperti homecoming dan prompt yang diadakan di sekolah, sejak SMP, dan biasanya mereka ada acara pesta dansa. Sepanjang masih dilaksanakan di sekolah, aku ijinkan anak-anak untuk hadir, dan dengan senang hati aku akan belikan mereka dress cantik meski tak harus mahal.

Dalam cara pandangku, acara-acara pesta dansa yang dilakukan di sekolah itu, adalah pelajaran untuk “gaul.” Dan bagiku, belajar gaul itu perlu, nggak semua orang mampu bergaul, bahkan banyak yang mengeluh bahwa mereka susah bergaul. Acara pesta dansa, juga merupakan acara yang tepat bagi anak-anak untuk mematut diri, baik cowok maupun cewek. Mereka juga belajar pakai jas dan dasi, serta sepatu hak tinggi bagi anak perempuan.

Mematut diri itu, menurutku juga penting, agar anak-anak nantinya mampu menyesuaikan diri, dan membawa diri dengan tepat sesuai dengan suasana yang ada, jadi mereka ga ngawur ketika berpakaian, nggak saltum, dan juga mampu bertoleransi dan berempati.

Beberapa teman Indonesia, masih belom memperbolehkan anak gadisnya ikut pesta dansa di sekolah, mungkin mereka pikir anaknya belom cukup umur.

Lalu, bagiku, ketika mereka menginjak usia 18 tahun, ya sudah, sedikit demi sedikit, lepasin, soalnya mereka yang sudah usia 18, di sini memang considered as adult ( atau paling ga, considered to be adult), boleh kerja full time, boleh mengelola hidupnya sendiri, mandiri.

Bla..bla..bla..banyak sekali contoh kasus yang terjadi dalam keluarga Indonesia di Amrik, yang aku analisis, itu merupakan suatu “tabrakan” budaya antara budaya dasar yang dibawa kita sebagai orang tuanya, dengan budaya Amrik yang anak-anak kami alami ketika mereka bertumbuh kembang di Amrik, akhirnya anak-anaklah yang menjadi korban.

Lha itu tadi, nek bahasa simpelnya teman yang bertemu aku di Jogja, dia bilang, “Lha wong seusia kita ini, lahir dan bertumbuhkembang kan di Indonesia. Lha Indonesia ini, sedikit banyak kan pendidikannya warisan ala jaman penjajahan Belanda, harus begini begitu, ini ga boleh itu ga boleh, ada “pengkastaan” dan lain-lain…terus para orang tua ini menerapkan apa yang dia dapat di Indonesia, untuk mendidik anak-anaknya yang sudah hidup dalam budaya Amerika, haiyo ancur anaknya…”

 

 

2 Comments to "Didikan Belanda, Hidup di Amerika"

  1. Lani  4 January, 2018 at 11:17

    Dian: Menurutku budaya/kultur yg berbeda tidak gampang akan ttp krn anak2mu bertumbuh kembang di America yg mereka tahu ya America adalah kultur yg mereka ketahui walau tentu saja budaya Indonesia msh tetap dipertahankan krn bagaimanapun kalian berasal dr Indonesia.

  2. James  3 January, 2018 at 09:01

    Indonesian kultur ala Amerika, American kultur ala Indonesia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *