Hadiah Natal

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

PADA 19 Desember 1948, warga Jogjakarta sebagian ada yang bersiap ke gereja. Hari itu hari Minggu. Di pagi hari Belanda membom Jogjakarta, ibukota Republik Indonesia. Presiden, wakil presiden serta anggota kabinet ditawan dan diasingkan ke Bangka dan Prapat, SumUt. Ini artinya Republik Indonesia tidak ada lagi di peta dunia. Hilang!

Tapi ada seorang anggota kabinet yang lolos. Kebetulan saat itu 19 Desember 1948 sedang berada di Sumatera Barat. Dia adalah Sjafruddin Prawiranegara, menteri kemakmuran. Dia diberi mandat menjadi ‘presiden RI’ dalam keadaan darurat, daripada RI dianggap hilang dari peta dunia, karena ibukota RI sudah dikuasai Belanda.

Selama 207 hari Sjafruddin memimpin pemerintahan RI di Bukittinggi dan di belantara hutan Sumatera Barat hingga 19 Juli 1949. Sejak tanggal itu keadaan sudah normal, Soekarno kembali menjadi presiden RI. Namun tidak lama karena Belanda mau mengakui RI tapi dalam bentuk serikat (RIS) dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 27 Desember 1949. Untuk itu Soekarno dilantik menjadi presiden RIS di Sitihinggil, Keraton Jogjakarta pada 17 Desember 1949 (tempat Soekarno berdiri dilantik masih ada dan dijadikan atraksi di keraton). Ibukota RIS di Jakarta. Sedangkan ibukota RI yang merdeka 17 Agt 1945 di Jogjakarta.

Lalu siapa yang menjadi presiden RI sejak 17 Desember 1949? Soekarno ‘kan sudah jadi presiden RIS yang terdiri dari 16 negara boneka, satu diantaranya Negara Republika Indonesia yang merdeka 17 Agt 1945 dan beribukota di Jogjakarta.
Sejak 17 Desember 1949 yang menjadi presiden RI adalah Dato’ Muda Mr. Assaat. Nama jabatannya Pemangku Sementara Presiden RI. Mr. Assaat menjadi presiden RI hanya 8 bulan sampai 17 Agt 1950.

Baru dua hari jadi presiden RI, Mr. Assaat mendirikan universitas pertama milik RI yang didukung penuh Keraton Jogjakarta. Nama universitas itu Universitas Gajah Mada (UGM). Didirikan pada 19 Desember 1949. Lulusan UGM kini ada yang meneruskan estafet kepemimpinan RI. Dia Joko Widodo, mahasiswa Fakultas Kehutanan. Bahkan mahasiswa Fakultas Geografi UGM ada yang menjadi ayah tiri presiden AS.

Sejak 17 Agt 1950, Mr. Assaat tak lagi menjadi presiden RI, karena semua negara boneka dalam RIS meleburkan diri dengan RI yang beribukota di Jogjakarta. Per 17 Agt 1950 tak ada lagi RIS. Yang ada RI sampai hari ini.

Oops! Masalah belom selesai. Soekarno masih ‘dendam’ dengan Belanda yang mempermalukan dirinya pada 19 Desember 1948 di Gedung Agung, Jogjakarta. Masak seorang pemimpin sebuah negara berdaulat ditawan kayak teroris gitu? Nooo….!

Pada 19 Desember 1961, di Alun Alun Utara, Keraton Jogjakarta, Soekarno teriak-teriak di atas kap mobil menggelorakan Trikora yang ingin mempermalukan Belanda yang tak mau menyerahkan Papua ke tangan RI. Belanda takluk, Papua kembali ke tangan RI.

Soekarno 1, Belanda 1.

Game point.

 

 

2 Comments to "Hadiah Natal"

  1. Lani  4 January, 2018 at 11:11

    Hadiah Natal terindah……………

  2. James  3 January, 2018 at 08:49

    sejarah tidak akan berulang kembali, satu kali saja, karena tidak akan ada Soekarno kedua, makanya Indonesia belum Merdeka seutuhnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *