Hari Ini

Dian Nugraheni

 

Semalam, Alma sudah ribut tentang, bagaimana besok berangkat sekolah, karena dini hari menjelang pagi akan turun gerimis salju, dan angin yang cukup kencang. Dia merasa harus sekolah, ga bisa bolos karena due date project yang harus dikumpulkan. Maka kami yang ga punya mobil, terlibat pembicaraan, “naik Uber aja..”

Tapi pagi, sekitar jam 5an, aku buka website sekolah, dan sudah diumumkan bahwa semua sekolah seputar Virginia, diliburkan berkenaan dengan cuaca yang cukup berbahaya bagi keselamatan anak-anak. Tentu saja Alma senang.

Giliran si Mamak, mau berangkat kerja malasnya minta ampun…Itu angin yang bertiup, kalau normal ya kecepatannya sekitar 5 mph, miles per hour. Ini, di saluran berita tentang ramalan cuaca, dikatakan bahwa angin akan bertiup sekitar 39 miles per hour.

Angin dengan kecepatan 39 miles per hour itu, kalau didengarkan dari roomku yang ada di lantai 5, sudah meraung-raung kayak iringan musik di film horor, kayak kalau pas adegan hantu mau muncul mak jegagik.

Jadi, paling benci pakai banget, kalau winter itu plus windy, alias berangin keras. Winter, dingin, gapapa lah itu, namanya juga musim dingin, tapi kalau ditambah windy…duhh, kayak jalan di dalam freezer raksasa yang dikipasin angin…

Kalau serasa nyatanya, ya angin dengan kecepatan itu cukup membuat langkah kaki kita tersendat, bahkan harus berhenti dulu, alias nggak mampu melangkah bila angin datang ke arah kita dari depan. Kalau angin datang dari arah belakang, ya kita jalan kayak dijorog-jorogin gitu, kayak didorong-dorong. Tong-tong sampah kecil di pinggir jalan juga berjatuhan.

Yaa, gimana lagi, demi belanja mingguan, si Mamak akhirnya berangkat juga, bundle up dari ujung ke ujung, yang keliatan cuma mata doang, he..he…

Dan meski beku kaku, masih sempet motret keadaan di perjalanan, dan tentu saja telat masuk kerja, saking asyiknya motret-motret, berhenti-henti dulu sesuka hati…

 

 

3 Comments to "Hari Ini"

  1. Swan Liong Be  9 January, 2018 at 18:11

    Memang iklim sudah berganti, saya masih ingat dulu waktu ketibaanku diMunich tahun 1963 suhu menunjukkan sampai -20° diluar munich, dikotanya sendiri tentu gak sedingtin itu, tapi danau Tegernsee , ca 50 km dari munich beku samasekali sehingga orang bisa melintasi danau dari ujung keujung. Tetapi tahun² kemudian kejadian beku itu gak pernah terulang lagi. Sekarang X-mas aja gak ada salju , white X-Mas sudah lama gak ada, adanya grey X-Mas atau green X-Mas. Zaman sekarang malah jerman bagian utara/Timur yang lebih sering dilanda salju, tahun 60-70an biasanya jerman selatan yang paling banyak salju. Sayas juga masih ingat bener waktu tahun 1963 mendarat diFrankfurt pilot berkata: ” The weather is fine” Saya melihat keluar dan berkata sama adikku, apanya “fine” lha wong dibawah putih semua , dingin. Maklumlah orang dari desa tropika musim winter ke Eropa!
    Saat tulis koment ini suhu diluar +5°.

  2. Lani  8 January, 2018 at 23:45

    Dian: pindah ke Kona wae pie? Ora ono badai salju ancaman utama storm dan tsunami tp jaraaaaaaaaaaang tdk rutin spt badai salju, angin meraung raung bak film horror

  3. James  6 January, 2018 at 07:29

    berbajagialah Negara atau Kota yang mengalami Winter Salju, kota di Ozi kagak ada Saljunya kalau Winter, hanya kadang-kadang doang atau dipuncak gunung saja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *