Hijab

El Hida

 

“Aku mau melepas hijab.” Kataku.

“Kenapa?” Tanyamu.

“Karena aku pikir aku belum siap.”

“Siap apa?” Tanyamu lagi.

“Siap, siap untuk beristiqamah. Berhijab berarti harus selalu hati-hati baik dalam bersikap ataupun berkata-kata. Ya, aku belum bisa begitu. Aku malu, masa iya berhijab tapi kelakuan jauh dari syar’i?”

“Ya tidak apa-apa.” Jawabmu.

“Berhijab bagi seorang perempuan muslim itu hukumnya wajib. Wajib berarti mendapatkan pahala jika dikerjakan dan berdosa jika ditinggalkan.” Kamu melanjutkan.

“Tapi kan, kalau dilakukan hanya untuk mendapat pahala dan agar terjauh dari dosa malah disebut munafik. Berarti tidak ikhlas kan.” Aku.

“Ini bukan masalah riya atau ujub. Ini masalah kamu mau melakukan perintah Tuhan atau tidak. Dan itu pasti ada konsekwensinya.”

“Konsekwensi apa?”

“Kamu harus ingat bahwa, sekecil apapun perbuatan kita pasti ada perhitungannya. Harus selalu diingat bahwa, manusia itu berbeda dengan hewan. Hewan mati hanya akan jadi belatung. Manusia mati selain jadi belatung pasti akan dihitung.”

“Maksudnya?”

“Kita, manusia, setelah mati nanti akan dihisab atau dihitung segala amal perbuatan yang pernah dilakukan selagi hidup. Semua akan diminta pertanggungjawaban. Mata dan semua indera dipakai untuk apa. Semua ada catatannya. Semua ada perhitungannya. Termasuk aurat. Ditutup atau malah dipamerkan.” Kamu meneruskan.

“Jangan kamu berpikir seperti kebanyakan perempuan lain.”

“Berpikir apa?”

“Kamu pikir, yang penting hati dulu dihijab kan?”

“Memang iya kan?”

“Iya apanya? Bagaimana caranya menutupi hati dengan hijab?”

“Ya, dengan cara…” Aku agak bingung menjawab.

“Hijab adalah penutup aurat bukan penutup hati. Kalau kamu menghijabi hati, itu artinya kamu menutupi hatimu. Kenapa hatimu kau tutup? Bagaimana kalau ada hidayah hendak masuk sementara hati kau tutupi? Ok, mungkin yang kamu maksud hati ditutupi dari debu-debu yang mampu mengotorinya. Semisal ujub, riya, takabur dan sum’ah. Ini membuat kamu berpikir, yang penting kamu tidak ujub, yang penting kamu tidak riya, yang penting kamu tidak takabur, yang penting kamu tidak sum’ah berarti kamu sudah memakai hijab.”

“Iya.”

“Kamu salah. Untuk bisa menjaga hati kamu harus bisa menjaga dirimu dari api neraka?”

“Neraka? Memangnya yang berhijab pasti akan masuk surga?”

“Tidak.”

“Terus kenapa menjudge perempuan yang tidak berhijab pasti masuk neraka?”

“Aku tidak menjudge. Hanya sedang bermain logika saja.”

“Logika bagaimana?”

“Begini, tidak semata-mata manusia diciptakan kecuali untuk beribadah. Setuju?”

“Setuju, aku sering mendengarnya di pengajian.”

“Ibadah berarti mengabdi. Kamu tahu bagaimana seorang pengabdi bersikap kepada yang diabdinya?”

Aku diam.

“Inti dari sebuah pengabdian adalah taat. Taat berarti melakukan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Mengenakan hijab bagi seorang perempuan adalah perintah. Dan tidak boleh membuka aurat berarti larangan. Tuhan mencintai orang yang taat, dan tidak menyukai orang yang membangkang perintahNya. Logikanya, ketika Tuhan mencintai hambaNya, maka apapun yang hamba itu minta pasti akan dia berikan. Seorang hamba yang taat pasti akan dimanja.”

“Ah, banyak yang taat tapi hidupnya sengsara.” Aku berkelit.

“Tapi, kesengsaraan bagi seorang yang taat adalah ladang untuk ibadah. Karena bagi hamba yang taat, jika mendapat kesenangan dia bersukur. Sukurnya jadi nilai ibadah. Dan jika mendapat musibah atau kesengsaraan maka dia bersabar. Sabarnya jadi Nilai ibadah.”

Aku diam lagi.

“Kita harus sadar bahwa hidup tak ada lain kecuali untuk mencari ridha Allah. Mencari sesuatu tentu harus di tempatnya berada. Jangan mencari padi di kebun jagung. Jangan mencari ridhaNya di tempat yang tidak Dia Ridhai. Ketika kamu sudah merasa hidup akan bahagia hanya jika berada dalam ridhaNya maka kamu harus mencari ridhaNya sebisa mungkin. Dan sekarang kamu ingin hidup bahagia dengan melepas hijabmu padahal Dia tidak meridhainya?”

Aku hanya diam.

“Berarti kamu sama dengan mencari padi di kebun jagung. Kamu tahu dong apa sebutannya untuk orang yang mencari sesuatu tapi tidak pada tempatnya.”

Aku terus diam. Aku merasa ada sesuatu yang menyentuh hati.

“Pada akhirnya, hidup memang pilihan.”

“Berarti terserah aku dong, mau pakai hijab atau tidak.” Aku sembari tersenyum.

“Iya. Kecuali kamu tidak punya akal.”

“Maksudmu?”

“Yang membedakan manusia dengan binatang adalah akalnya. Akal manusia diciptakan Tuhan dengan sangat spesial. Karena akal manusia diciptakan dengan fungsi yang sangat istimewa. Akal pada manusia berfungsi untuk dapat membedakan mana benar dan mana salah. Artinya, kalau kamu salah memilih karena tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah berarti…”

“Berarti aku sama dengan binatang?” Potongku.

“Bukan aku yang bilang ya…” Kamu tersenyum.

Aku diam lagi. Aku merenung. Sepertinya ada yang salah denganku. Aku jelas ingin hidup bahagia, tapi aku malah mencari kebahagiaan di tempat yang salah.

“Kenapa diam.” Tanyamu setengah tertawa seolah mengejekku.

“Aku tidak sedang menertawakanmu. Aku tertawa menertawakan diriku sendiri.”

“Kenapa?” Tanyaku.

“Aku kan batinmu?” Jawabmu. Lalu aku ikut tertawa.

 

Tasikmalaya, 14112017

 

 

One Response to "Hijab"

  1. James  10 January, 2018 at 08:37

    berHijab dan berJilbab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.