Jelajah Yunnan (1): Kunming

JC – Global Citizen

 

Sejak lama mendengar pesona mistis dan misterius Shangri-la; ingat pernah baca salah satu novel terbitan Gramedia berpuluh tahun lalu tentang Shangri-la, juga mendengar cerita kota tua Lijiang dari seorang sahabat baik yang pernah bertugas di sana; semuanya terus membayangi dan menggantung di benak. Jelajah dan telusur Yunnan sudah sejak lama jadi impian.

Beberapa bulan sebelum liburan akhir tahun entah bagaimana ceritanya, saya dan istri tiba-tiba jebret-jebret memutuskan liburan akhir tahun keluarga ke Yunnan. Perjalanan ke Yunnan dimulai dari kota Kunming, ibukota Provinsi Yunnan. Kami mendapatkan tiket Xiamen Airline dengan harga cukup bersahabat untuk kami berlima. Xiamen Airline transit di kota Xiamen, Provinsi Fujian.

Mendengar “Yunnan” saya ingat dua hal. Yang pertama pelajaran sejarah waktu SD, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunnan dan yang kedua adalah ‘obat ajaib’ yang namanya Yun Nan Bai Yao. Obat ini saya kenal sejak kecil, dulu mendiang Papa selalu siap sedia satu kemasan di lemari obat keluarga. Kata Papa dulu ini obat ajaib, penyembuh segala macam luka, infeksi dan sebagainya, bahkan konon katanya di masa perang, bubuk obat ini dibubuhkan di luka tembak.

Balik lagi ke liburan. Singkat cerita, kami berangkat tanggal 21 Desember 2017. Penerbangan pagi jam delapan cukup lumayan, tak terlalu pagi jadi tak perlu subuh-subuh bergegas ke bandara. Penerbangan semua tepat waktu. Sampai Xiamen, turun dari pesawat, kami harus ambil semua bagasi dan check in lagi pindah ke terminal domestik. Keluar dari pesawat, kami disambut dengan bau dan aroma khas Tiongkok di musim dingin. Kita semua pasti pernah mengalami dan merasakan bau, aroma dan perasaan tertentu untuk tempat dan waktu tertentu. Misalnya: bau dan aroma Semarang, beda dengan Jakarta’ bau dan aroma Eropa beda dengan Tiongkok, semacam itulah.

Antrean imigrasi tak terlalu lama, dilanjut dengan pengambilan bagasi dan langsung disambung dengan check in untuk penerbangan domestik. Setelah semua beres, sembari menunggu, kami mengisi perut dan menemukan Starbucks di dekat ruang tunggu pintu keberangkatan ke Kunming. Singkat cerita, penerbangan malam hari ke Kunming berlangsung lancar dan tepat waktu. Menjelang tengah malam, kami sampai ke Kunming. Udara dingin menyergap, kami tangkal dengan segera mengenakan jaket musim dingin yang kami sudah kami siapkan. Jemputan dari tur setempat yang telah kami pesan sebelumnya sudah menunggu di pintu keluar. Kami diantar ke hotel. Tak menunggu lama, kami masuk kamar masing-masing dan beristirahat.

Besoknya petualangan menjelajah Yunnan segera dimulai, dengan rute Kunming, Dali dan Lijiang.

Yunnan adalah salah satu provinsi di Tiongkok, terletak di barat daya, terbentang seluas sekitar 394.100 kilometer persegi; mencakup 4.1% dari total luas keseluruhan Tiongkok, dengan populasi sekitar 46 juta (data tahun 2009). Ibukotanya Kunming, dulu juga dikenal dengan nama kota Yunnan. Berbatasan dengan Provinsi Guangxi, Guizhou, Sichuan dan Daerah Otonomi Tibet, dan berbatasan dengan negara Vietnam, Laos dan Myanmar.

Yunnan terletak di daerah dataran tinggi (plato), dengan dataran tinggi di barat laut dan dataran rendah di tenggara. Sebagian besar populasi tinggal di daerah timur Provinsi Yunnan. Kondisi geografis dekat Pegunungan Himalaya ini menyebabkan iklim muson lembab khas campuran sub-tropis dan plato tropis; paling khas adalah perbedaan drastis temperatur siang hari dan malam hari, terutama di musim dingin. Siang hari musim dingin berkisar 13°-17°C, malam hari bisa mencapai 0°- minus 1°C. Untuk yang tidak terbiasa, bisa jadi siksaan tersendiri rentang temperatur demikian besar dan menurut orang lokal, saat-saat ini banyak sekali orang kena flu.

Provinsi ini kaya akan sumber daya alam dan memiliki jenis tetumbuhan terbanyak seantero Tiongkok; dari sekitar 30.000 spesies tetumbuhan dataran tinggi, Yunnan memiliki sekitar 17.000 lebih jenis tetumbuhan dataran tinggi.

Bukan hanya terkaya akan jenis tetumbuhan dataran tinggi, Provinsi Yunnan juga merupakan provinsi dengan etnis paling beragam (mungkin di seluruh dunia). Di Provinsi Yunnan terdapat 52 etnis minoritas yang mencapai sekitar 38% dari total populasi Yunnan; dan 25 etnis di antara 52 etnis itu berjumlah lebih dari 5.000 orang. Menurut Pemerintah Tiongkok, total etnis “resmi” ada 56 etnis. Etnis mayoritas adalah etnis Han yang mencapai hampir 92% dan 55 etnis yang diistilahkan oleh Pemerintah Tiongkok ‘etnis minoritas’ (少数民族,shǎoshù mínzú).

 

Yunnan Ethnic Village

Kunjungan pertama kami sekeluarga adalah mengunjungi Yunnan Ethnic Village (云南民族村 = Yunnan Minzu Cun). Cukup dengan bus umum dari depan hotel, kami sampai ke tempat ini. Cuaca luar biasa cerah, cenderung panas menyengat menyambut kami di tempat perhentian bus. Dari kejauhan gerbang bertuliskan “云南民族村” (Yunnan Minzu Cun) nampak cantik. Tak menunggu lama kami memasuki tempat wisata ini. Di dekat gerbang sudah disambut dengan suasana etnik, ada kios yang menyewakan baju-baju tradisional untuk berfoto. Warna-warna cerah dan motif-motif yang bisa dibilang memiliki banyak kesamaan dengan motif-motif kain di Indonesia nampak berjejer.

(http://www.visitourchina.com/kunming/attraction/yunnan-ethnic-village.html)

Sewa pakaian daerah untuk foto

Langkah terus berlanjut. Kanan kiri penuh dengan toko yang menjual suvenir, herbal, makanan, sate, rumah makan, berbagai jenis jejamuan dan masih banyak lagi. Satu per satu toko kami masuki dan melihat-lihat dengan asik.

Jual sate

Suvenir

Penganan dan oleh-oleh

Baju daerah

Suvenir

Karena kami sekeluarga mulai jalan cukup siang, sampai di Yunnan Ethnic Village ini sudah cukup siang mendekati jam makan siang. Tak lama memasuki tempat ini, kami mencari-cari tempat makan. Mengingat mertua berdua sudah cukup berumur, kami juga tidak memaksakan diri menjelajah keseluruhan tempat wisata ini. Jika ditelusuri dan dijelajahi tidak akan cukup seharian. Tempat ini memiliki konsep mirip dengan Taman Mini Indonesia Indah, bedanya jika TMII adalah miniatur Indonesia, di Yunnan Ethnic Village ini adalah showcase etnis minoritas di Tiongkok. Di masing-masing etnis terdapat replika desa atau bangunan unik ataupun atraksi lainnya.

(http://www.visitourchina.com/kunming/attraction/yunnan-ethnic-village.html)

(http://www.visitourchina.com/kunming/attraction/yunnan-ethnic-village.html)

 

Enting-enting Gepuk

Dari kejauhan saya melihat huruf Arab yang sudah sangat familiar di keseharian kita, yaitu HALAL; yang ternyata ‘dimandarinkan’ menjadi ‘HA LIANG LI’. Label ini kira-kira bermakna: “Moslem Food, Halal”.

Ha Liang Li = HALAL

Penasaran menjual apa toko tersebut, saya melangkah mendekat. Di situ terdapat satu gelondong kayu besar dan ada dua palu kayu besar tersandar di situ. Penjaga toko dengan ramah menawarkan untuk mencicipi produknya. Tangan mencomot secuil tester yang disodorkan. Waktu mulut mencecap rasanya, sungguh terperanjat karena rasa tersebut sudah sangat-sangat akrab di lidah semenjak saya kecil. Rasa itu adalah enting-enting gepuk, hanya bentuknya yang sedikit berbeda. Dalam hati: “lha kok bisa rasa dan bentuk ini ada di sini”.

Google Images

Google Images

Google Images

Google Images

Bagi orang Semarang dan sekitarnya, terutama dari Salatiga, tentu sangat mengenal makanan dengan nama enting-enting gepuk ini. Di Salatiga ada beberapa merk, Cap Kelenteng dan 2 Holoo, Cap Gedung Batu, Cap Dua Pohon dan Cap Rumah. Makanan ini bukan hanya ada di Salatiga, tapi di kota-kota lain juga ada, misalnya di Jogja, Medan, Siantar, Surabaya dan masih banyak kota lain lagi. Aroma dan rasanya mirip, yaitu manis-gurih dari kacang dan gula. Kata gepuk sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti tumbuk.

Ternyata oh ternyata, nama enting-enting GEPUK ada sebabnya. Tak berapa lama dua anak muda mengambil dua palu kayu tersebut dan mulai beraksi sambil bernyanyi dengan alunan nada etnik dan bahasa daerah. Mereka berdua bergantian menggepuk adonan kacang dan gula yang ada di balok kayu itu.

Bunyi bak-buk, bak-buk bergantian seakan mengiringi alunan lagu etnik daerah yang merdu di telinga. Nama ‘enting’ atau ‘ting’ atau ‘teng’ (tergantung tempat mana menyebutnya), berasal dari kata ‘tang’ (唐, baca: dang) yang artinya gula; dalam dialek Hokkian jadi berbunyi ‘theng’; bacanya dengan ‘d’ berat dan ‘e’ seperti dalam kata ‘emas’. Dalam perkembangannya, biasanya lidah Indonesia akan berubah menjadi ‘e’ seperti dalam kata ‘dendeng’ ditambah dengan medok lidah daerah masing-masing, jadilah ‘enting’ dan menjadi berulang ‘enting-enting’, ‘ting-ting’, ‘teng-teng’.

Enting-enting gepuk

Enting-enting gepuk, penggepuk dan tempat menggepuk

Baru saya sadar, bahwa memang Yunnan sangat erat kaitannya dengan Indonesia. Ada penjual yang berkerudung, wajah-wajah di situ adalah wajah-wajah melayu, bau dan aroma makanan yang dijual terasa akrab di hidung dan mulut. Aroma sate yang dibakar mirip sekali dengan aroma Indonesia, bedanya hanyalah masalah ukuran.

Sate raksasa

Suvenir tetabuhan

Dan suvenir tetabuhan sama persis tak ada bedanya sama sekali dengan tetabuhan yang dijual di toko-toko suvenir seluruh pelosok Bali. Sungguh sayang karena terbatasnya waktu dan pertimbangan usia mertua berdua, kami tidak menjelajah keseluruhan tempat ini.

 

Danau Dianchi dan Burung Camar

Setelah lumayan puas menjelajah Yunnan Ethnic Village, kami bertujuh berjalan keluar menuju perhentian bus untuk menuju tempat berikutnya. Sebelum sampai perhentian bus, sudah disambut banyak orang menawarkan jasa transportasi sekaligus semacam tour guide ala kadarnya. Karena kami bertujuh, hanya satu mobil yang bisa mengakomodasinya. Sejenis MPV merk lokal dengan pengemudi seorang wanita mengantar kami ke Dianchi Lake (Chinese: 滇池, Diānchí), juga disebut dengan Lake Dian and Kunming Lake (昆明湖, Kūnmínghú), julukan lainnya adalah “Sparkling Pearl Embedded in a Highland” atau “A Pearl on the Plateau”. Dianchi dibacanya ‘tyen je’ (huruf ‘e’ dalam ‘tyen’ dibaca ‘e’ dalam ‘dendeng’; sementara dalam ‘je’ dibaca seperti dalam ‘emas’); bukan dibaca ‘dyan ji’.

(https://www.travelchinaguide.com/attraction/yunnan/kunming/dianchi.htm)

Danau Dianchi adalah danau air tawar, terbesar di Provinsi Yunnan dan terbesar keenam di seluruh Tiongkok. Luasnya 298 kilometer persegi, panjang 39 kilometer dari utara ke selatan, lebar 13 kilometer di titik terlebarnya, rata-rata kedalaman 4.4 meter. Tepian danau ini terbentuk dari kaki pegunungan di keempat sisinya, panjang garis pantainya 163.2 kilometer. Lebih dari duapuluh sungai mengisi danau ini.

Salah satu atraksi menarik adalah di salah satu tepiannya terdapat ribuan (mungkin bahkan jutaan) burung camar. Burung-burung camar ini konon hanya ada waktu musim dingin, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Atraksi yang ditawarkan di tempat ini adalah foto bersama burung camar. Ratusan fotografer lokal nampak menenteng kamera DSLR dan contoh foto jepretannya menawari para pengunjung untuk foto bersama burung camar. Harganya RMB 25 (sekitar Rp. 50.000) untuk satu foto. Si fotografer akan memberikan beberapa umpan berupa roti untuk diacungkan ke atas, sementara si fotografer siap menjepret adegan burung camar menyambar atau mematuk atau makan langsung dari tangan para turis. Suara burung camar sungguh riuh di angkasa sore hari itu. Yang perlu diperhatikan adalah kejatuhan kotoran burung di kepala, di jaket dan bisa di mana saja. Tisu basah perlu disiapkan untuk situasi seperti ini.

Lepas dari keindahan danau dan atraksi alami burung camar ini, sungguh sayang bahwa Danau Dianchi tercemar berat. Sebelum tahun 1990, air buangan limbah (industri dan rumah tangga) mencapai 90 persen digelontor langsung ke dalam danau. Baru tahun 1990 pengolahan limbah pertama kali dibangun. Di tahun 1958-1962 di masa Great Leap Forward (Lompatan Jauh Ke Depan) yang dicanangkan Pemerintahan Mao, menghancurkan rawa-rawa di sekitar danau yang notabene adalah filter alami. Great Leap Forward mengubah keseluruhan rawa-rawa menjadi area persawahan. Limbah pertanian juga menjadi kontributor signifikan untuk pencemaran danau ini. Air danau ini sama sekali tidak layak minum dan tidak layak diproses untuk jadi air minum.

 

Jin Ma Bi Ji Square

Jin Ma Bi Ji (金马碧鸡), bacanya: cin ma pi ji; artinya Golden Horse and Jade Rooster. Apa maksud dua gerbang ini didirikan di situ, tak seorang pun jelas tujuannya. Banyak legenda dan cerita tentang asal usul dan makna dua gerbang itu. Gerbang Golden Horse ada di timur sementara Gerbang Jade Rooster ada di sebelah barat. Dari sekian banyak legenda dan cerita, sepertinya yang paling masuk akal adalah nama Jin Ma dan Bi Ji adalah nama gunung di dekat Kunming.

Jade Rooster Gate

Namun ada kepercayaan lebih jauh bahwa menurut legenda setempat Golden Horse dan Jade Rooster adalah Dewa Matahari dan Dewi Bulan. Kenapa demikian? Konon dahulu kala ketika gerbang itu masih asli, di satu hari pernah terjadi bayangan dua gerbang itu menyatu di saat Mid Autumn Festival – Festival Pertengahan Musim Gugur yang jatuh di tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek dan waktu Autumn Equinox di tanggal-tanggal 22, 23 atau 24 September. Fenomena bersatunya bayangan dua gerbang ini terjadi sekitar pukul 5 atau 6 sore enampuluh tahun sekali.

Konon pernah terjadi bayangan dua gerbang itu nyaris bersatu di masa Kaisar Daoguang (1821-1851) dan Kaisar Guangxu (1875-1909). Kaisar Daoguang lah yang membangun gerbang itu kembali setelah hancur di masa peperangan, namun ukuran kedua gerbang tidak sama persis presisi. Baru di masa modern di tahun 1960 dan direstorasi tahun 1998 dibangun sama persis presisi ukuran keduanya. Diharapkan pada tanggal 22 September 2029, kedua bayangan gerbang itu akan tepat menyatu.

Golden Horse dan Jade Rooster ini adalah simbol kota Kunming sejak dulu kala, orang-orang mengatakan Kunming adalah homeland dari Golden Horse dan Jade Rooster.

 

(Golden Horse & Jade Rooster Square

Golden Horse Gate

Good lucks and good wishes bergelantungan di pintu masuk salah satu restoran

Setelah puas foto-foto pergantian hari terang pelahan menjadi gelap, kami menyusuri jalanan yang memang dikhususkan untuk pejalan kaki. Toko-toko suvenir, obat, herbal, giok, makanan bertebaran di sekitar situ. Kami memilih satu, memesan beberapa makanan, menikmati makan malam pertama di Yunnan dan segera kami kembali ke hotel untuk beristirahat…

 

Bersambung…

 

Referensi:

http://www.chinadiscovery.com/ethnic-minority-culture-tour/yunnan-minorities.html

http://www.chinatoday.com/city/yunnan.htm

https://en.wikipedia.org/wiki/Yunnan

https://en.wikipedia.org/wiki/Ethnic_minorities_in_China

http://www.visitourchina.com/kunming/attraction/yunnan-ethnic-village.html

https://www.travelchinaguide.com/attraction/yunnan/kunming/dianchi.htm

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

11 Comments to "Jelajah Yunnan (1): Kunming"

  1. Swan Liong Be  15 January, 2018 at 18:30

    Bener, Josh, oom waktu keChina juga pake jasa local tourguide, yg. jauh lebih murah.
    Mengenai toilet; baru² ini ada berita bahwa pemerintah China mulai memperbaiki toilet² terutama di-daerah² turis karena ada banyak komplain terutama dari pihak turis luar negeri.

  2. Alvina VB  15 January, 2018 at 03:30

    Pengen ketawa dengerin gubernur Jakarta yg baru, mentingin penduduk asli katanya (kedengerannya kok Kaya Trump aza, he…he…..) mana ada yg asli di Jakarta bung? jangan2 juga nenek moyang dia dari Yunan, he…he……

  3. J C  14 January, 2018 at 21:10

    Oom SLB: biasanya kalau kami ke China, selalu jalan sendiri. Kali ini kami pakai local tour. Memang kami sekeluarga tidak ada masalah sama sekali untuk urusan bahasa. Sangat ngirit karena local tour harganya jauuuuhhh banget dengan international tour atau English speaking tour. Ongkos visa China di Indonesia Rp. 550.000 pakai biro jasa lho…kalau langsung lebih murah lagi. Sungguh sayang untuk Shangri-la kami tidak sempat waktunya kali ini, mengingat usia mertua berdua, jadi kami tidak geber pergi ke Shangri-la…

    Oom SLB: di situ malah sengaja fotografer jualan foto dengan umpan roti…kami belum pergi ke Guilin…

    James: semua indah, kecuali siji, yaitu toilet…hahaha…

    Alvina: yes bener banget, batik, wajah, makanan, mirip banget dengan Indonesia…

    Tammy: lha memang iyo…

    James: ya gitu itu lah di Indonesia…

    Lani: aku ora keno ceprot camar…walah yo mbuh baju warna-warni pira sewane…aku ora takon, lha mosok aku arep nganggo koyok ngono iku…

  4. Lani  14 January, 2018 at 10:47

    Ki Lurah: Akhirnya oleh2 plesiran kenegeri asal nenek moyang tayang disini………aku meh takon apakah ikut foto dgn burung camar dan dpt hadiah mak ceproooooooot……..hahaha………..

    Lah enting2 gepuk aku sdh mengenal sejak kecil yg merk kelenteng mmg enak, gurih kacang dan manisnya pas………

    Mengenai baju warna warninya cerah meriah……….berapa bayarnya utk sewa dan foto dgn baju obar-abir kuwi?

    Ditunggu lanjutannya sampai berapa jilidkah?????

  5. James  13 January, 2018 at 06:57

    nenek moyang Indonesia dari Yunnan tapi di Indonesia sendiri dijadikan Second Citizen yah ? jadi lucu banget deh, can’t wait the next episode…

  6. Tammy  13 January, 2018 at 06:07

    JC, duluuuu sekali waktu di Beijing aku pernah ke ethnic cultural park (少数民族园). Waktu lihat replika bangunan, baju, dan penari dari Yunnan aku juga langsung mikir: mirip banget sama rumah tradisional dan baju di sumatra, kalimantan! Penari2nya berkulit sawo matang, feature mukanya persis orang Indonesia. Begitu baca itu dari Yunnan, juga langsung kepikir pelajaran sejarah asal usul nenek moyang Indonesia. Ohhh ternyata benar!!

  7. Alvina VB  12 January, 2018 at 13:45

    Perjalanan yg menyenangkan ya…..Memang sejarah nenek moyang Indonesia dari Yunnan, selain pakainan dan makanan yg banyak kesamaannya, sempet liat batik dari Yunan gak? mirip designnya dengan yg ada di Indonesia. Ada assosiasi org2 asal Yunan di sini, dan mukanya mirip2 kata org Chinese Indonesia dan yg matanya besar dan kulitnya gelappun ternyata ada loh, he…he…. Ditunggu lanjutan ceritanya.

  8. James  12 January, 2018 at 09:00

    hicks negara leluhur tapi belum pernah kesana, indahnya China

  9. Swan Liong Be  11 January, 2018 at 19:29

    Burung Cemar itu kan Seagulls ya; burung² ini diEropa sangat berani ya boleh dibilang “kurang ajar” dan juga mengganggu dibeberapa tempat pantai misalnya diInggris, Perancis, belgai dan jerman karena menyerang orang² disana yang kalo gak ati² makanan atau eis yang sedang digenggam langsung diserobot oleh burung² ini.
    DiGuilin mau ambil foto burung² Cormoran yang membantu nelayan setempat , juga harus bayar; kami motreknya sembunyi² hehehe….

  10. Swan Liong Be  11 January, 2018 at 18:59

    Sangat menarik kisah perjalanan kalian, Josh. Kalian juga pake layanan tourguide atau semuanya inisiatif sendiri, berhubung istri native dari sana jadi soal bahasa sudah gak ada dan mempermudah untuk travel secara privat. Yunnan juga sudah lama termasuk rencana perjalanan kami , tapi ongkos visa mahal sekali, bisa sampai € 84 p. P. DiIndonesia berapa ongkos visanya? I’m looking forward to reading about your impressions in Shangrila!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.