Dagangan Politik

Dian Nugraheni

 

Politik, adalah realisasi dari ilmu berhitung, memperhitungkan, dan diperhitungkan, untuk mencapai angka setelah tanda equals atau sama dengan.

Untuk mencapai angka akhir itu, ya sudah pasti, kayak orang dagang serabutan tuh, apa aja yang bisa jadi duit, ya dijual. Dan sayangnya, dalam politik biasane pedagang serabutannya, adalah pedagang serabutan yang ga bertanggungjawab, alias asal aja demi kemenangan.

Kalau bicara politik dalam suatu negara, katakanlah untuk memilih pemimpin di negeri itu, ya biasanya beda-beda dagangannya, yang penting, sensitif dan akan menjadi topik bagi sebagian besar sekali orang dalam negara itu, massive…

Kayak di Amrik, yang selalu jadi bahan jualan adalah masalah imigran, titik.

Kalau di Indonesia, yang sensitif ya agama pastinya. Agama adalah masalah sangat pribadi, yang mau didiskusikan macam apa pun, secara hakiki, sebenere dia cuma benar bagi diri sendiri, atau kalau mau dikatakan secara umum, ya, benar buat kaumnya saja. Satu kaum agama tidak bisa maksain kaum beragama lain untuk mengerti atau memahami mereka. Sebab dalam beragama, kalau sudah niat, ya harus fanatik, harus berani bilang hanya agamanya yang paling benar.

Nah, kalau agama dipakai sebagai dagangan dalam berpolitik, akhire nyek-nuekan sampai ke masalah Tuhan. Tuhan dinyek-nyek…dihina-hina, akhire sakit hati, akhir’e berkepanjangan, jadi timbul benci dan perpecahan…

Kalau di Amrik, asyik…karena yang dinyek-nyek, dihina-hina adalah imigran, dan itu notabene adalah manusia, dan Amrik adalah negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, malah akhirnya yang timbul adalah rasa empati, dan akhirnya terjadi persatuan yang sangat erat dan mengharukan, antara kaum yang dimarjinkan dengan kaum yang pemimpinnya memarjinkan orang-orang imigran…

 

 

One Response to "Dagangan Politik"

  1. Swan Liong Be  27 January, 2018 at 18:55

    Hallo Dian, saya barusan baca artikelmu diatas ini; tapi passage dibawah foto itu kok kurang jelas bagiku, apa yang kamu maksud dengan:…dan achirnya terjadi persatuan antara kaum yang dimarjinkan dengan kaum yang pemimpinnya memarjinkan orang imigran. Bukankah racism malah lebih terbuka diAS dibawah presiden sekarang? Atau saya salah kaprah?!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.