Mengapa Pembacaan Teks Proklamasi Dilakukan Secara Sangat Sederhana?

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Dalam Cengkeraman Dai Nippon

Penulis: Nino Oktorino

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: Elexmedia

Tebal: x + 158

ISBN: 978-602-02-1266-1

 

Buku ini menyampaikan bahwa cepatnya Jepang menguasai Hindia Belanda adalah karena sikap ragu-ragu pemerintah Hindia Belanda untuk merespon keinginan para pejuang pergerakan dalam memberi konsesi politik yang lebih besar (hal. 10). Padahal sebenarnya gerakan anti fasis (NAZI) cukup kuat di Hindia Belanda. Tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia begitu kuat menolak gerakan NAZI di Eropa. Sayang sekali situasi ini tidak direspon dengan baik oleh pemerintah Hindia Belanda. Mereka tidak mau memberikan konsesi politik yang lebih besar kepada orang-orang bumi putera. Saat Belanda merasa kewalahan dan berupaya untuk menggerakkan penduduk untuk ikut bela negara, kebijakannya dikirtik oleh para tokoh pergerakan nasional karena dianggap sudah terlambat (hal 27).

Faktor lain yang dianggap menjadi pendorong mudahnya Jepang masuk ke Hindia Belanda yang diuraikan oleh Nino Oktorino adalah respon Jepang kepada pergerakan Nasional. Jepang secara jitu merespon keinginan para pejuang nasionalis dengan menjanjikan pemerintahan sendiri. Jepang menarik simpati kelompok Muslim Indonesia (hal. 19). Jepang secara diam-diam menjalin kontak dengan para pejuang di Aceh melalui unit intelejen F-Kikan (hal. 38). Jepang juga melakukan propaganda di Hindia Belanda sebelum melakukan invasi militer.

Secara militer Jepang menyerang secara hamper bersamaan Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi dan Maluku-Timor. Penyerangan sekaligus di tiga lokasi yang berada di barat, utara dan timur Hindia Belanda ini dimaksudkan untuk memutus bantuan yang diharapkan oleh Belanda. Dengan serangan yang mendadak di tiga lokasi tersebut membuat Belanda tidak mempunyai kemampuan untuk melawan.

Apakah Jepang kemudian benar-benar memberikan kemerdekaan kepada Indonesia? Ternyata tidak. Segera saja setelah Jepang menguasai Hindia Belanda, Jepang memaklumatkan pelarangan-pelarangan kegiatan berserikat dan berpolitik (hal. 40). Jepang kemudian mengeksploitasi Hindia Belanda untuk keperluan perang di Asia Pasifik (hal. 95). Kekejaman Jepang termasuk pengerahan tenaga kerja dalam bentuk Romusha, perlakuan kasar dan tanpa hormat kepada pejabat-pejabat dan pemimpin-pemimpin di Indonesia dan eksploitasi perempuan sebagai Jugun Ianfu.

Meski melakukan pelarangan kegiatan politik, Jepang memberi kesempatan kepada orang-orang Indonesia untuk masuk dalam posisi pemerintahan. Jepang menggandeng kelompok Nasionalis Sekuler dan kelompok Islam. Bahkan Jepang mengakui keberadaan Majelis Islam A’la Indonesia – MIAI (hal. 51). Selain dari memberi kesempatan kepada orang-orang Indonesia masuk ke dalam pemerintahan, Jepang juga melatih pemuda-pemuda Indonesia di bidang militer. Hal ini dimaksudkan untuk membangun kekuatan militer cadangan demi kepentingan perang di Asia Pasifik.

Kekejaman Jepang tersebut membuat orang-orang Indonesia mulai tidak suka kepada Jepang. Mulailah terjadi gerakan perlawanan kepada Jepang. Nono Oktorino menyampaikan bahwa gerakan perlawanan kepada Jepang terutama didorong oleh orang-orang yang memiliki keterikatan dengan Belanda dan berpandangan anti fasis (hal. 119). Perlawanan juga dilakukan oleh kelompok China (hal. 120) dan dari mereka yang merasa terhina martabatnya, seperti yang terjadi di Aceh dan di berbagai daerah (hal. 122).

Ketika Jepang mulai kalah perang, upaya untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia mulai dijalankan. Meski kebijakan pemberian kemerdekaan ini tidak bulat. Perdana Menteri Tojo dan Menteri Luar Negeri Shigemitsu mengusulkan untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia, namun upaya tersebut ditolak oleh angkatan darat dan angakat laut Jepang (hal. 134). Namun pada akhirnya, karena kekalahan Jepang yang semakin parah, maka kemerdekaan Indonesia tidak bisa lagi dicegah.

Nono Oktorino memberikan informasi bahwa pada saat Sukarno dan Hatta dibawa oleh para pemuda untuk dipaksa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, terjadi komunikasi antara kelompok pemuda dengan Laksamana Maeda. Laksamana Maeda menjanjikan bahwa Jepang tidak akan menghiraukan saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan (hal. 153). Maka semalaman para tokoh ini mendiskusikan persiapan proklamasi di rumah Maeda di Jakarta. Proklamasi dilakukan dengan suasana tenang dan bersahaja. Pilihan pernyataan proklamasi yang tidak heroic ini dipilih untuk menjaga perasaan Jepang dan mencegah terjadinya kekerasan (hal. 153).

 

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Mengapa Pembacaan Teks Proklamasi Dilakukan Secara Sangat Sederhana?"

  1. Swan Liong Be  26 January, 2018 at 00:52

    @tAlvina:Seperti kamu juga pasti tau Pemerintah Jepang sengaja tidak meng-ungkit² masa kolonialisme jepang, dalam buku² pelajaran mereka masa “gelap” ini sengaja tidak dibahas. Saya pernah small talk dengan beberapa orang jepang diMunich dan saya mengalihkan pembicaraan kearah kekejaman perang tentara jepang terutama kekejaman mereka dikota Nanjing tahun 1937. Mereka bener² tidak tau. Saya anjurkan untuk baca buku “The Rape of Nanking” supaya mereka juga tau hal itu. Saya punya kesan bahwa mereka ingin lebih tau soal ini.

  2. James  25 January, 2018 at 09:55

    yang sekarang ini adalah Indonesia di jajah Bangsa Sendiri, kapan Merdeka nya ? bisa-bisa selamanya kagak Merdeka

  3. Alvina VB  24 January, 2018 at 10:16

    Org Indonesia ciri khasnya memang tepo seliro, terhadap penjajahnya juga gitu. Penduduk di Jepang, mereka gak tau cerita sadisnya tentara Jepang yg pernah menjajah Asia Tenggara (Indonesia terrasuk) jadul. Makanya dulu pas pernah ke sana dlm rangka pertukaran pengajar, kita tanyain mahasiswa/i dan siswa/i di sana ttg sejarah Indonesia merdeka dari Jepang, gak ada satupun yg mudeng/tahu. Mereka cuman bilang kl itu kesalahan generasi tua di masa lalu, jangan minta generasi muda yg harus membayar dosa mereka.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *