Explore Javastraat, Januari 2018 – Bagian 1

Linda Cheang – Bandung

 

Halo semuanya,

Lama juga, ya, saya tidak ikut berkontribusi ke rumah kita bersama ini. Maunya seperti Oom Dj, yang rajin setiap Selasa pasti mencungul  artikelnya di Baltyra, tapi apa daya, saya masih punya banyak kendala yang lebih prioritas untuk diselesaikan lebih dulu.

flyer pemberitahuan tur jalan-jalan sejarah. Oleh Historical Trips

Nah, ini karena kegiatannya baru saja saya jalani beberapa hari lewat, daripada keburu menguap, lebih baik saya segera bagikan untuk dinikmati oleh teman-teman semua.

Suatu saat saya mendapat informasi bahwa sebuah komunitas tur sejarah bernama Historical Trips Bandung, menawarkan acara ekplorasi bangunan bersejarah di sepanjang Jalan Jawa, Bandung. Segera saja saya menyatakan akan ikut, karena memang pas waktunya saya bisa dan itu dilaksanakan pada hari Sabtu. Sebelum-sebelumnya, Historical Trips mengadakan acara pada hari Minggu pagi, yang jelas sangat tak mnemungkinkan untuk saya yang selalu terkena jadwal bertugas pelayanan di gereja. Ada juga yang pada Sabtu untuk Explore Wastukantjana, eh, pas saya sedang tidak bisa pergi karena sudah ada jadwal yang lebih dulu saya iyakan. Maka untuk Explore Javastraat ini saya akan paksakan diri untuk ikut, supaya tidak menyesal. Saya bahkan rela geser jadwal lain yang sedianya dilaksanakan di waktu yang sama.

Kegiatan Explore Javastraat akan dimulai di titik halaman Gereja Katedral St. Petrus Bandung pada Pk 07.45, Maka saya pikir, sepertinya baik juga kalau sekalian numpang saja ibadah Misa Pagi di situ untuk berdoa memohon penyertaan Tuhan agar acara jalan-jalan berjalan lancar. Sabtu pagi, 20 Januari lalu, saya bergegas berangkat dan terpaksa gunakan taksol karena cuaca hujan plus membawa barang berat berupa hadiah untuk sumbangan ke salah satu penghuni bangunan bersejarah yang akan dikunjungi nantinya.

Saya sempat bertemu dengan seorang pastor parokinya, Rama Abu (Pastor YC. Abukasman, OSC) yang rupanya baru selesai  memimpin misa pagi Pk. 06.00. Sempatkan diri menyapa Beliau, saya bergegas masuk ke dalam Katedral karena misa Pk. 07.00 segera akan dimulai. Rupanya misa pagi Pk. 07.00 tsb dipimpin oleh pastor kepala parokinya, Pastor Barnabas Nono Juarno, OSC. Saya pun kenal dengan Beliau dan berharap, akan bisa dengarkan homilinya (kotbahnya). Eh, tapi, ternyata di misa pagi itu nggak ada homilinya??? Ini pengalaman pertama kali saya ikut misa pagi di hari biasa setelah sekian puluh tahun berlalu, karena seingat saya dulu-dulu waktu diajak almarhumah nenek saya ke misa pagi di Katedral, saat itu masih ada homilinya walau singkat. Dan saya akhirnya hanya bisa bengong sesaat ketika selepas bacaan Injil, di area panti imam sana pada altar, saya menyaksikan Pastor Nono malah bersiap untuk Ekaristi. Well, ya, sudah, deh, saya nggak dapat homili kali ini.

Usai misa, saya masih mencari-cari rekan-rekan dari Historical Trips yang akan berkumpul, dan mereka ternyata sudah bersiap di lapangan parkir motor. Pada waktu sudah mencapai Pk 07.45 sesuai rencana, masih banyak peserta dan panitia yang belum muncul, maka kami berjalan saja sesuai rencana, apalagi dari pengurus Katedral sudah ada pemandunya hadir. Para rekan yang belum hadir biar menyusul saja, lah.

Foto-foto dari Katedral Bandung:

Foto-foto dari Katedral Bandung

Bagian depan Katedral. Barisan bangku umat menghadap ke arah timur.*Suryanto Lumaksono

Lantai mozaik Katedral. *Dewi Diana Saraswati

Di atas orgel ada kaca patri bergambar satu mata menggambarkan Allah Bapa. Arah barat

Kaca Patri di atas Panti Imam, arah Timur. *Oggy Gee

IHS – Iesus Homini Salvator, simbol Yesus penyelamat umat manusia. Arah utara

Ruang Pengakuan Dosa untuk Pst. Leo van Beurden, OSC

Ruang Pengakuan Dosa bagi umat

Atap katedral dilihat dari samping

Saya terlupa mengambil gambar kaca patri yang bergambar burung merpati yang melambangkan Roh Kudus yang menghadap ke arah selatan. Benar-benar lupa. Baru tersadar setelah meninggalkan Katedral.

Sepanjang tur di dalam gedung Katedral, Amanda si pemandu banyak memberi penjelasan yang menjadi hal-hal baru untuk saya, walau saya merasa cukup kenal dengan Gedung Katedral tsb. Tak hanya hal gaya arsitektur neo gothic yang dijelaskan. Eh, tapi saya sempat diminta Amanda untuk tidak memberitahukan patung yang mana yang menggambarkan Santo Petrus, si pelindung gereja ini.

Kami pun diberi kesempatan untuk naik ke menara gereja, tapi tidak bisa masuk ke bagian balkon tempat orgel berada karena alasan keamanan konstruksi gedungnya, maka balkon tidak boleh dimasuki banyak orang. Orgel pada bagian balkon tsb masih bisa dimainkan hingga saat ini, namun hanya dimainkan pada perayaan hari-hari raya gereja tertentu atau pada konser khusus orgel. Di dalam menara gereja di bawah atapnya yang lancip tinggi itu, ada dua lonceng besar, bernama Yohanes dan Yakobus, setiap harinya masih dibunyikan pada Pk. 12.00 dan membunyikannya harus satu-satu bergantian, tidak boleh bersamaan. Ada 2 tali rami besar yang selalu diikatkan pada pegangan tangga ke menara, sebagai alat untuk membunyikan lonceng gereja. Sebab jika harus naik ke menara gereja, terlampau tinggi. Lagipula Amanda sempat menyebutkan bahwa ada bagian menara yang sudah ada retakan, namun belum menemukan tukang bangunan yang bisa memperbaiki menara setinggi itu.

Banyak pernak-pernik dalam gereja yang baru saya ketahui termasuk bahwa si meja altar, ada relikui (sisa-sisa tubuh dari seseorang, biasanya orang yang sudah jadi orang kudus/suci) namun tidak diketahui itu relikui siapa dan apa yang ada di situ. Amanda hanya bisa membantu mengambil foto batu marmer penyimpan relikui tsb yang tertutup kain putih dengan kamera ponselnya dan hasil fotonya yang termasuk kurang terang, diperlihatkan kepada kami para peserta. Maka, pantaslah mengapa altar di Katedral ini selalu dicium oleh para imam bahkan sampai Uskup dan Nuncio pun mencium altar ini sebelum memulai misa dan setelah mengakhiri misa. Nuncio adalah Duta Besar Tahta Suci Vatikan untuk suatu negara, mewakili Paus.

Kami para peserta  selesai tur dalam gedung Katedral keluar dari pintu selatan menuju plasa di depan aula untuk bersiap ke gedung lainnya, Kantor Polrestabes Bandung. Eh, tapi, ternyata saya kelupaan mengambil gambar CATHEDRA, kursi duduk khusus berlambang keuskupan, yang untuk hanya boleh dipakai Uskup (dan Nuncio), yang menyebabkan gereja ini diberi gelar gereja Katedral. Mungkin nanti di artikel khusus Gereja Katedral saja,  saya akan sertakan. Itupun kalau saya membuat artikelnya.

 

Bersambung.Bandung, 24 Januari 2018

Linda Cheang

Foto kredit :
– koleksi pribadi
– koleksi teman-teman Historical Trips

 

bisa juga dibaca di:

http://lindacheang.blogspot.co.id/2018/01/explore-javastraat-januari-2018-bagian-1.html

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

8 Comments to "Explore Javastraat, Januari 2018 – Bagian 1"

  1. Swan Liong Be  2 February, 2018 at 18:31

    Sayang sekali ya, bahwa architektur peninggalan zaman kolonial ber-tahun² diabaikan dan malah dihancurkan. Untunglah bahwa lama² kesadaran menang dan peninggalan² zaman kolonial sudah mulai dirawat. Yang saya tau sekali itu yakni dSemarang dimana ada banyak gedung² kolonial yang dirawat /dipelihara, meskipun banyak yang juga sudah rusak. Saya sangat terpesona sama perawatan gedung kolonial sewaktu mengunjungi Malakka, bagus sekali!”

  2. Linda Cheang  2 February, 2018 at 17:57

    Halo Oom SLB Katedral Bandung ini akan selalu indah sepanjang masa. Sudah djadikan cagar budaya sehingga tidak boleh ada sedikitpun perubahan untuk arsitekturnya.

    James saya sepakat dengan Oom SLB, makanya kebanyakan minum air jadi keselek, hahaha

    Alvina VB iya, di Kota Bandung sekarang ramai anak-anak mudanya bikin komunitas untuk sejarah, dari yang memang senang sejarah sampai yang cuma ikut-ikutan untuk supaya ramai dan cari relasi aja. Komunitasnya, sih, bertujuan untuk memberi masukan ke Pemkot Bandung agar banyak warisan sejarah jangan sampai dihilangkan atas nama kemajuan ekonomi atau apapun. Sebabnhya banyak bangunan bersejarah sejak zaman kolonial Belanda, sudah hilang karena dirobohkan.

  3. James  31 January, 2018 at 09:24

    SLB, kan sesuai pepatah Sambil Menyelam Minum Air, hasilnya batuk-batuk karena air nya keselek ditenggorokan

  4. Swan Liong Be  30 January, 2018 at 15:29

    @James: Kathedral itu tempat beribadah, bukan tempat nguber cewek,hehehehe….. just kidding lho!

  5. Linda Cheang  30 January, 2018 at 15:20

    terima kasih, ya, kepada teman-teman yang sudah baca dan ikut komentar.

    nanti ditanggapi. tunggu sambungan artikelnya, ya.

    *masih pening, nih.

  6. Alvina VB  30 January, 2018 at 13:59

    Hebring buat reportasenya, thanks Linda…..jadi tahu ada komunitas tur sejarah bernama Historical Trips Bandung; jadi kangen Bandung euy…

  7. James  30 January, 2018 at 10:24

    Gedung Kathedral Bandung, teringat sekitar tahun 60 an suka ikut misa disana semasa masih bujangan sembari nguber cewek tapi akhirnya bini bukan orang Katholik

  8. Swan Liong Be  29 January, 2018 at 18:35

    Wah, rasa nostalgia saat liat foto kathedral Bandung sewaktu aku kuliah diUnpar tahun 1961/1962. Waktu itu ruang kuliah masih dekat dengan Kathedral. Kenang²an indah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *