Fist Bumps

Wesiati Setyaningsih

 

Awalnya hanya iseng, saya ingin mengubah kebiasaan murid-murid yang selalu cium tangan saat bertemu. Meski ini kebiasaan, tapi saya jengah. Selain saya menganggap cium tangan itu berlebihan, juga saat cium tangan ada hal-hal yang saya tak suka. Bisa aja kan, saya habis makan apa, belum sempat cuci tangan,jadi bau. Pasti mereka kebauan. Atau justru mereka yang jorok. Keringetan habis olah raga, begitu ketemu cium tangan ditempelkan ke dahi mereka yang basah. Jijik juga.

Menghindari hal-hal seperti ini, saya iseng, gimana kalo ‘fist bumps’ saja. Fist bumps adalah toss dengan menempelkan kepalan tangan. Hal yang murni iseng ini nyatanya membuka mata saya bahwa mengubah sebuah kebiasaan bahkan stereotype, sungguh tak mudah.

Mulanya anak-anak kaget ketika mereka sudah menunduk dan menemukan tangan mereka tak bersambut. Lalu mendongak, yang dilihat adalah kepalan tangan saya di depan muka mereka. Kekagetan tampak jelas di raut wajah mereka. Mungkin mereka mengira saya sedang marah ke mereka. Namun ketika melihat muka saya, mereka menemukan saya sedang tersenyum dan berkata, “toss aja.”

Selanjutnya muncul kelegaan. Lalu dengan ragu mereka menonjok buku jari saya yang terkepal. Proses ini berjalan terus dari hari ke hari. Kekagetan selalu muncul beberapa bahkan protes.

“Maam Wesi kan guru. Harus cium tangan biar dapat restu.”
“Halah,” kata saya, “tanpa kamu cium tangan saya, restu saya selalu ada buat kamu.”
Mereka tertawa. Beberapa yang memahami sikap saya, membujuk temannya, “Sudahlah, Maam Wesi kan memang gitu. Ikutin aja.”
Ada juga yang kesal. Setelah toss, dia rebut kepalan tangan saya, dia cium. Giliran saya yang protes.
“Ngapain sih?”
“Nggak puas. Pokoknya harus cium tangan.”

Besoknya ketika ketemu anak itu lagi, saya siaga. Ketika setelah ‘fist bumps’ dia mau merebut tangan saya, sudah saya sembunyikan duluan sambil tertawa menang!

Sampai sekarang masih ada anak-anak yang selalu mengulurkan tangan untuk minta cium tangan. Dan saya masih terus menegaskan untuk ‘fist bumps’. Berawal dari keisengan, berakhir dengan penemuan seolah ini adalah penelitian perilaku. Karena ada hal-hal yang saya lihat dari keisengan ini.

Yang pertama, nggak mudah mengubah kebiasaan yang sudah ditanamkan dengan doktrin.
Mereka sudah sejak TK diajarkan bahwa mencium tangan guru adalah sebuah kewajiban. Kelancaran masa depan mereka tergantung dari banyak hal, salah satunya dari mencium tangan gurunya.

Guru sebagai pemberi ilmu, harus juga diminta restunya. “Hidupmu akan lancar kalo kamu rajin mencium tangan gurumu,” mungkin begitu doktrinnya. Maka ketika saya menolak dicium tangan, rasa bersalah yang luar biasa muncul. Seolah ada yang nggak pas. Ada yang kurang. Dan hal ini membuat mereka berpikir bakal ada hambatan. Begitulah.

Yang kedua, anak-anak yang terlanjur didoktrin ini akhrinya menjadikannya sebagai kebiasaan.
Mereka nggak punya pilihan lain selain apa yang didoktrinkan pada mereka. Mereka nggak punya pilihan lain karena nggak berani. Kemudian satu-satunya pilihan itu menjadi kebiasaan yang spontan. Sebelumnya saya heran, betapa sulitnya meminta anak-anak untuk mengucapkan ‘greeting’ dalam ‘opening’ sebuah speech.

Selalu saja ada yang mengatakan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarukatuh”. Saya sudah bilang, “ucapkan greeting saja, good morning, good afternoon.” Karena itu lebih sesuai dengan pelajaran saya, Bahasa Inggris. Itu saja selalu ada anak yang tidak menaati aturan. Spontan mereka mengucapkan salam berbahasa Arab. Sekarang saya jadi maklum dan paham kenapa itu terjadi gara-gara keisengan ‘fist bumps’ ini. Otak mereka sudah tercuci bahwa semua guru harus dicium tangan. Jangan Cuma fist bumps atau tos. Itu nggak sopan. Demikianlah.

Kesimpulannya,’fist bumps’ nyata telah menjadi sebuah ‘surprise’ yang membuat mereka sesekali harus keluar dari kerutinan. Ajakan ‘fist bumps’ dari saya ini semacam kerikil yang bikin kaget saat jalan di tempat rata. Nggak besar, tapi bikin kaget.

Saya akan terus melaksanakan ‘fist bumps’ ini sampai semua anak otomatis mengulurkan kepalan tangannya pada saya, dan bukan meminta tangan saya untuk dicium. Meski sederhana, nyatanya sesuatu yang berbeda ini bukan hal yang mudah untuk mereka terima. Dan ini membuat saya justru semakin berketetapan hati, bahwa inilah cara saya.
Agar mereka mengerti, bahwa setiap orang berhak untuk minta diperlakukan berbeda. Agar mereka mau memahami pemikiran dan prinsip yang berbeda dari yang selama ini mereka terima. Seperti seorang anak yang sulit memahami bahwa mereka memiliki persamaan derajat dengan saya. Dia gamang menerima alasan saya,

“We are all human. We are equal. So it is okay to do it.”

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Fist Bumps"

  1. wesiati  9 February, 2018 at 14:30

    alvina, nggak ada yang protes sih. fine2 aja.

    james : bener

  2. James  31 January, 2018 at 09:38

    cium tangan menambah jumlah bakteri di tubuh, perpindahan jutaan bakteri

  3. Alvina VB  31 January, 2018 at 08:59

    Wah kok komennya ilang yak???

  4. Alvina VB  30 January, 2018 at 13:49

    Guru yg open-minded, ttp apa gak diprotest guru yg lain dan org tua nantinya?
    Kl di sini fist bumps utk menghindari penyakit flu misalnya, juga utk org2 yg OCD.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *