Sariyah (1)

Dian Nugraheni

 

Bertemu untuk pertama kalinya dengan dia, Yeyen, alias Yani, alias Sariyani, alias Sariyah, adalah menjelang jam 9 malam, ketika dia mengantar Bu Rusmi, seorang Nanny yang sudah cukup tua datang ke apartemenku. Malam itu, Bu Rusmi menggedor-gedor jendela apartemenku.

Waktu itu Bu Rusmi memperkenalkan perempuan berperawakan sedang ini dengan nama Yeyen. Aku pun menyalaminya dengan menyebut namaku. Beberapa menit kemudian, demi mendengar suara gaduh di ruang tamu, anak-anakku keluar dari kamar untuk sekedar bersalaman menyambut tamu kami, kemudian keduanya kembali ke kamar lagi. Anak-anak kurang suka bertemu dengan tamuku yang bernama bu Rusmi ini, “ngomongnya rame dan keras banget…” Itu alasan anak-anakku.

Tapi sebelum anak-anak kembali masuk kamar, aku berkata, “tolong bikinkan teh ya, Nak..di teko aja, nanti Mamah yang tuang ke gelas…”

Karena letak ruang tamu bersebelahan dengan dapur, maka aku bisa wira-wiri nyambi memasak sesuatu untuk kedua tamuku tersebut. Aku goreng bakwan sayuran, yang adonannya sudah ada dalam kulkas, sengaja aku buat agak banyak, sehingga bila perlu, tinggal goreng aja.

Sambil menggoreng bakwan, menyajikan minuman teh, dan kemudian menyajikan makan malam, aku sedikit menanggapi obrolan. Aku bilang sedikit menanggapi, karena sebenarnya yang banyak bicara adalah perempuan yang disebut bu Rusmi sebagai Yeyen itu.

“Saya barusan pulang jalan-jalan ke Perancis…Di sana saya beli anting-anting…, ini saya beli cuma seharga satu dolar…” Begitu katanya sambil menunjukkan anting panjang yang dikenakannya. Aku mengangguk, tersenyum. Nggak menarik perhatianku…

Lalu, “Suami saya itu ya, ternyata, keluarganya di negerinya sana, orang kaya raya.., rumahnya besar, setiap hari mereka makan roti, bukan nasi. Saya harus punya anak sama dia, lha kalau nggak punya anak, kan sayang-sayang warisannya…”

Masih diteruskan, “Ohh yaa, saya baru pindah apartemen, bangunannya baru, gres…mesin cuci di dalam ruangan, bukan terpisah di ruang laundry, nanti kapan-kapan main ke apartemen saya yaa, nanti tapi…setelah barang-barangnya datang, kan saya baru pesan meja makan, tempat tidur, sofa dan lain-lain, semua baru…”

Aku mulai puyeng dengan omongannya itu. Baru saja beberapa menit kenal sudah menceritakan isi kuali, yang bila enggak diceritakan pun, aku nggak pengen tau, dan bila diceritakan begini, nambah bikin jengah aja.

Itu adalah perkenalan pertamaku dengan perempuan yang disebut Yeyen.

 

Pantat yang Tersingkap

Beberapa bulan setelah pertemuanku dengan Yeyen malam itu, nggak ada angin nggak ada hujan, ternyata si Yeyen ini melamar kerja di deli, Kedai Sandwich di mana aku bekerja. Setelah bicara dengan Owner, beberapa hari kemudian kulihat Yeyen sudah siap kerja di kitchen. Jadi judulnya, ketemu kedua kali dengan si Yeyen ini, sebagai sesama pekerja kitchen di deli.

Hari pertama kerja, aku hanya menyapanya, “apa kabar, mbak..?” Sebentar kemudian dia memperkenalkan dirinya dengan nama Yani. Aku nggak perlu terkejut, senyum aja dalam hati. Bla..bla…bla.., ganti nama di Amerika, itu banyak dilakukan oleh orang-orang Indonesia di sini.

Hari pertama kerja dia sudah langsung cerita bahwa selama di Amerika kurang lebih 10 tahun, dia selalu kerja di deli, jadi dia sudah paham dan tau betul, apa yang harus dilakukan di deli.

Okaylah, abaikan soal keahlian dia bekerja di deli, kali ini yang lebih menraik perhatian adalah bagaimana dia berpakaian, dengan celana jins ketat yang pinggangnya di bawah udel, dia memakai kaos model pas badan yang agak nyancut, kaos pendek, gitu. Karena pakai apron, celemek, maka bagian udel nggak keliatan.

Nahh, yang heboh adalah ketika dia “njengking” dikit aja, atau jongkok yang agak nungging dikit untuk mengambil sesuatu di rak bawah, maka belahan pantat dan sebagian daging yang menggelembung di sekitar bawah pinggang, terpapar jelas.

Bahkan, saking ceteknya celana jinsnya, dan saking nggantungnya kaos pas badan yang dia pakai, maka belahan pantatnya sampai kelihatan sangat mencolok.

Soal pantat yang keliatan ini, tentu saja menjadi pembicaraan jahil di antara para crew kitchen. Aku nggak enak aja dengan suasana yang melibatkan masalah perpantatan ini.

Dengan maksud baik, aku sampaikan padanya, “Mbak, kita kan kerja di makanan, mbok itu, pantatnya ditutupin, Mbak kalau nunduk dikit aja, pinggang dan pantat mbak sudah kemana-mana…”

Di luar dugaan, ternyata si Yeyen alias Yani ini, menjawab dengan muka garang, mata melotot, suaranya nyolot, “Nggak usah ngatur-ngatur, ini bukan urusanmu..!”

Kwaaaakkk…!! Dicolotin begitu, aku agak kaget juga, sedang teman-teman lain saling berpandangan, terutama yang sesama dari Indonesia, langsung heran dan mulai menilai warga baru di dapur deli ini. Ha..ha, aku jadi langsung kebayang bagaimana ketika dia bertamu di rumahku malam itu, dengan menceritakan semua isi kualinya.

Soal pantat ini, cukup lama dia mempertahankan penampilannya, sampai suatu hari, teman dapur lain yang memang suka iseng, sering “menyelipkan” sesuatu ke belahan pantatnya ketika Yani nungging. Habis itu, meski nggak sama sekali merubah penampilannya, dia lebih sering memakai kaos yang cukup menutupi belahan pantatnya.

 

Mulut Besar

Yani berkeras bahwa dia sudah memahami kerja di deli, dengan penuh percaya diri dia membuat berbagai sandwich pesanan pelanggan. Sudah aku ceritakan sebelumnya kan, bahwa membuat sandwich itu bukan masalah meramu rasa, tapi, terutama, adalah bagaimana membuat roti tumpuk, roti yang diisi dengan berbagai sediaan, seperti daging, telor, ikan, dengan berbagai dressing seperti mayones, mustard, dan dressing-dressing lain sebagai turunan seperti Rusian dressing, Ranch Dressing, Honey Mustard, dan lain-lain.

Maka, sebenernya, siapa pun bisa membuat sandwich, termasuk si Yani yang mengaku sudah lama kerja malang melintang di berbagai deli ini. Dia, ketika melayani pembeli, pedenya luar biasa, ketika pelanggan menjelaskan apa yang dia minta, pelanggan belum selesai bicara, dia sudah memotong kata-kata pelanggan, “ya, I get it…” Lalu dibikinnya sandwich pesanan itu, dan ujung-ujungnya, sering kali keliru, nggak sesuai dengan apa yang diminta pelanggan.

Juga aku lihat, tampilan sandwichnya selalu belepotan, nggak rapi, dan ketika membungkus, bungkusannya seperti gulungan yang di”uwel-uwel” dan kumel bekas cepretan dressing dan lain-lain. Kalau aku seorang pelanggan, dikasih sandwich dengan tampilan macam itu, besar kemungkinan aku nggak mau makan…Halah, itu kan aku..he..he..he.., mungkin orang lain malah suka yang berantakan begitu, ya.., mana tau…

Aku rasa, auraku dan aura si Yani ini benar-benar bertabrakan, setelah cukup waktu kerja bersama, banyak hal yang membuat aku makin merasa tidak ingin mendekat padanya. Setelah “nyolotin” aku ketika aku nasihati soal pantatnya yang terumbar itu, lebih sering, aku nggak bicara dengan dia kecuali soal kerjaan dan itu sangat perlu banget.

 

Pelapar

Yani ini mudah sekali lapar, dan kalau sudah lapar, dia akan kehilangan konsentrasinya, maka dia akan sering bikin salah ketika bikin sandwich, dan yang ada, pelanggan komplain.

Kalau pelanggan komplain, maka Yani akan bongkar pasang sandwichnya sedemikian rupa, yang menurutku sih tambah ringsek. Sandwich itu pula yang diberikannya pada pelanggan, bukan dibikinkan baru. Padahal Owner nggak akan berkeberatan kalau ada pelanggan komplain, kemudian kita bikinkan baru.

Ngliat kayak gini, ga tega juga deh aku, aku bilang, “Mbak, sana makan dulu, ambil aja jam makan siangku..”

Jam makan siang pertama adalah jam 2.30, separo crew dapur akan istirahat makan siang. Setengah jam kemudian, jam makan siang shift kedua, jam 3.00. Nahh, aku ngalah deh, makan siang di shift kedua.

Dari hari ke hari, nampaknya, si Yani ini makin tidak suka padaku, dan merasa dia lebih ahli bekerja di dapur Deli. Sering kali dia berlaku semena-mena padaku, dengan mengambil begitu saja sediaan yang sudah aku siapkan, tanpa permisi.

Misalnya ambil Bagel, roti bundar keras, yang sudah aku toast, dipanggang, atau putih telor yang sudah aku goreng. Dan anehnya, ketika aku tanyakan, bukan minta maaf, malah makin nyolot dengan suara kasar, keras, dan wajah menyebalkan, “Bagel banyak, keliru aja kok ribut..!” bla..bla..bla..

Ini nih, kalau soal perang mulut begini, aku memang ga bisa spontan, mesti dikarang-karang dulu, disiap-siapin banget, baru bisa sedikit berantem mulut. Maka karena sudah empet banget sama si Yani ini, aku sengaja cari moment, di mana dia menyalahi aku secara fatal, sehingga dia nggak bisa protes lagi.

Tidak seperti sediaan “regular egg”, atau telor ceplok biasa yang selalu ada setiap saat, maka membuat gorengan telor putih, adalah dengan permintaan khusus, langsung dibikinkan ketika pelanggan memesan. Bisa minta kepada teman yang memang kerjanya menggoreng di grill, si Editha, dengan teriakan, “Edith, one egg white for me for favour, please..” gitu, maka Edith akan bikinkan kita telor putih goreng.

Tapi bagi aku, kasihan liat Edith yang tergopoh-gopoh seharian di depan grill, maka lebih sering aku ke belakang dan bikin sendiri. Nahh, rupanya si Yani pede banget bahwa putih telor di grill itu punya dia, maka diambilnya begitu saja, dipakai buat sandwichnya, bertepatan dengan aku masuk ke dapur untuk mengambil putih telor yang aku goreng, maka dengan semangat empat lima yang sudah aku siapkan sejak kemaren-kemaren, maka aku teriak keraaaas…banget, “where’s my egg whiiiiite…?”

Kali ini teriakanku manjur, si Yani menjawab dengan nada tercekat tanpa punya alasan untuk melawan, “Ohh, aku pikir itu punyaku..aku pakai…”

Aku teriak lagi, “jangan cuma kamu pikir, kalau kamu ga bikin atau ga order, ya jangan ambil, kalau perlu, tanya, tahu..? Enak aja nyrobot punya orang, customerku sudah lama nunggu..!!”

Kali ini semua crew dapur, diam…, ini pertama kalinya aku teriak sangat keras di dapur…

Aku masih tambahkan nyolotku, “mulai hari ini, kamu makan siang jam 3, aku makan siang jam 2.30..”

Trus Yani pasang muka berantem sambil bilang gini, “eeh, kamu bukan minijer ya, jangan atur jam makan siangku…!” Dia mengatakan manajer dengan ucapan minijer.

Aku jawab lagi, “Inget nggak, siapa yang kasih jam makan siang jam 2.30 ke kamu..? Itu jam makan siangku yang aku kasih ke kamu, sekarang aku ambil lagi..”

Karena Yani masih nyolot aja, maka teman lain dari Indonesia bilang, “Mbak Yani, kamu itu mestinya menghormati orang lain, mbak Dian kan datang duluan dari kamu, ya dia mestinya makan siang duluan. Di dapur ini aturannya, siapa yang datang duluan, maka dia makan siang duluan…”

Ya, jadwal Yani ini adalah datang jam 10 pagi, sedangkan aku datang jam 9 pagi…hixixixi..rame nggak tuh, rame kan..? Sebenernya, aku suebeeel…kalau disuruh rame model beginian, bahkan dulu-dulu nggak pernah terjadi dalam hidupku di mana pun aku berada…he..he..he..

 

Okabe

Okabe, alias OKB, Orang Kaya Baru, begitu istilah terkenal ala Indonesia untuk orang yang tiba-tiba menjadi hidup lebih mapan dibanding dengan waktu sebelumnya.

Setiap saat, setiap waktu, Yani suka menceritakan apa pun soal dirinya sendiri. Bahwa lebih sepuluh tahun lalu, dia datang ke Amerika dengan visa turis melalui seorang calo. Soal apa dan bagaimananya calo ini, dia hanya bilang, “pokoknya ada yang nolong, waktu itu saya bayar sekitar 35 juta, jual sawah biar sampai sini…

Kemudian, tak lama dari kedatangannya, suaminya pun datang menyusul, “juga pakai calo, cuma lebih mahal, sekitar 90 juta biaya seluruhnya…”

“Saya ninggal anak saya yang masih bayi, masih nyusu, tapi untungnya Mamah saya juga baru melahirkan, jadi anak saya disusuin bareng dengan adik saya oleh Mamah saya..,” begitu suatu hari dia cerita pada temanku yang lain.

“Suami saya nggak biasa kerja keras, dia nggak tahan hidup di Amerika, lalu nggak lama di sini, dia pulang, kami cerai, dan dia kawin lagi di Indonesia, yaa, tapi saya lebih beruntung, di sini kawin sama orang yang ganteng, lebih muda, pinter, dan orang kaya dia. Sekarang aja suami saya masih kuliah, ambil enjinering, biayanya banyak banget…”

Maksudnya, setelah cerai dengan suaminya yang terdahulu, kemudian Yani menikah lagi dengan orang Timur Tengah yang sudah menjadi warga negara Amerika. Bukan rahasia lagi, bahwa banyak orang Indonesia, yang datang ke Amerika dengan visa kunjungan atau turis, kemudian menjadi warga ilegal.

Sebagai warga ilegal, bisa dibilang susah-susah gampang. Gampang, kalau hidup dijalani, dinikmati, dan baik-baik tinggal di Amerika, dalam artian, nggak berbuat kriminal, maka, meski dia penduduk gelap, tenang-tenang saja lah, masih bisa kerja dapat uang cukup, dan jarang-jarang kena razia kemudian dipulangkan ke Indonesia, meski itu sangat mungkin. Kalau istilah mereka sih, untung-untungan aja..

Nahh, para warga ilegal ini, on purpose, mereka mencari pasangan yang sudah memiliki Greencard atau sudah menjadi citizen di Amerika, dengan menikahi pasangan yang demikian, maka selanjutnya, pasangannya itu akan bisa mensponsori dia sehingga memiliki dokumen resmi untuk tinggal di Amerika.

“Setelah menikah, saya punya Greencard ini, semua nomor telepon teman Indonesia yang di sini, saya hapus, nomor telepon saya, saya ganti, saya males berhubungan dengan mereka.., ribet, urusannya mau pinjam duit mlulu..,” kata Yani menjelaskan.

Lain hari dia cerita lagi, “Uang saya ini ya, pay check, sampai lupa-lupa belum saya uangkan di bank, lha wong nggak terlalu perlu, iya, kan..? Buat apa, wong cuma hidup berdua dengan suami, uang yaa, Alhamdulillah, sisa-sisa…, sering saya telpon adik-adik dan Mamah saya, saya tanyain, siapa mau uang, lalu saya kirimkan, saya nggak pelit sama keluarga saya…”

“Adik-adik saya juga semua saya sekolahkan, lulus kuliah, lalu kerja di bank, tapi yang paling banyak itu, saya kirim biaya untuk adik saya yang nyalon lurah, kepala desa, lha masak kasih makan minum, rokok, sangu, sama semua orang sedesa, sebulan penuh, apa nggak boncos, coba…, tapi ya sudahlah, alhamdulillah, toh sekarang jadi lurah…”

Atau dengan nada bangga, “My husband, ya, semua kebutuhan saya dicukupi, makan, transport, bayar apartemen, insuren (asuransi), pokoknya semua deh…”

Dia pun punya waktu banget untuk mengatakan bahwa semua barangnya adalah bermerek, “saya beli payung mahal, 24 dollar, bukan yang murahan 6 dollar itu. Atau, ini celana buat kerja, saya beli di GAP, 35 dollar. Atau, My husband belikan saya andrawer (underwear) di Victoria Secret…bla..bla..bla…Padahal, orang dengan penghasilan low income pun di Amerika, semua bisa beli barang yang disebutkan Yani itu tadi.., jadi nggak terlalu istimewa toh…he..he..he..

Asal tau saja, dia bersikap sok “steril”. Seperti, memegang handel pintu kamar mandi karyawan dengan tangan yang beralas tissue, membawa wajan kecil sendiri untuk memasak makan siangnya, padahal semua teman lain menggunakan perabotan yang ada di kitchen deli. Sedikit-sedikit dia akan bilang, “ihh, bakteri…, bakteri…” Lalu aku godain begini, “Mbak, kamu takut sama bakteri ya, nahh, ntar kamu matinya karena bakteri, deh…” he..he..he.., Dian jahil..!!

Sehubungan dengan nama yang diakuinya sebagai Yani, ada yang agak aneh. Bila orang panggil dia, bahkan sampai teriak, dia lebih sering nggak nengok, kayak (maaf), tuli.., atau nggak ngeh kalau dialah yang dipanggil.

Omong punya omong, ternyata namanya adalah Sariyah. Dari mana aku tau kalau namanya Sariyah..? Kebetulan saja aku baca namanya tertulis di botol obat yang dia dapatkan dengan prescription, resep dokter yang tergeletak di meja belakang kitchen. Ya, di sana tertera namanya, Sariyah, pantas saja kalau orang teriakin nama Yani, dia nggak ngeh kalau itu namanya. Dan aku meyakini namanya memang Sariyah, karena secara logis, resep dokter nggak mungkin pakai nama nggak asli.

Ganti nama itu boleh aja, tapi ya mbok diinget namanya itu, jadi kalau ada yang manggil, dia tau, kalau yang dipanggil itu ya dia dengan nama bikinannya yang baru itu.

Tapi lain kali dia bilang, “kamu sih enak, kawin sama orang sesama Indonesia, semua uang hasil kerja suami pasti dikasihkan ke kamu, lain kalau kawin sama orang yang nggak satu negara begini.., tapi yaa..sudahlah…, saya kan dapat banyak keuntungan lain, dapat suami muda, kaya, berpendidikan…” Kata-kata tentang suaminya itu selalu diulang-ulang ketika dia menceritakan apa pun yang melibatkan suaminya.

Berkali-kali pula, dia pinjam sedikit uang padaku, “Mbak Dian pinjam uangnya 10 dollar buat beli tiket kereta ya, besok Senin saya bayar…”

Dan dengar-dengar, sesama orang Indonesia ngrumpinya malah begini, “Yani itu dikawin sama si X buat diambil uangnya, dia dikasih ATM sama suaminya tapi nggak bisa ambil uang di ATM karena dia nggak dikasih PIN sama suaminya, jadi intinya, semua uang, suaminya yang pegang, termasuk uang hasil keringat si Yani sendiri, dia cuma dijatah, bla..bla..bla…”

Sungguh, ini sama sekali bukan urusanku, juga sama sekali aku nggak minat ngebahasnya, cuma kalau dihubung-hubungkan dengan mulut besar dan kesombongannya sehari-hari, sungguh enggak sepadan bila memang kenyataannya demikian.

Waktu berjalan, aku masih kerja di dapur Deli, Yani, alias Sariyani, alias Yeyen, alias Sariyah pun demikian. Untuk mengurangi “ketergangguanku” atas tingkah dan sikapnya yang menurut aku, nggak menyenangkan, sombong, dan gak sopan, maka aku berusaha nggak bersinggungan dengan dia, tidak bicara dengan dia, dan anggap dia nggak ada, masing-masing kerja tanpa “bersentuhan.”

Berlebihankah sikapku ini..? Yaa, bolehlah dibilang begitu. Tapi kalau aku lihat-lihat, dia nyolot-nyolot, nyombong, nggak sopan dan semena-mena itu bukan cuma sama aku, tapi pada semua teman Indonesia yang kerja di deli. Sampai hari ini, 3 di antara 5 orang Indonesia, sama sekali nggak mau ngobrol dengan dia, termasuk aku, he..he..he.. Udah ah, capek ngomongin dia…

 

Salam Okabe,
Virginia,

Dian Nugraheni
Minggu, 20 April 2014, jam 1.42 siang
(Rindu ini, tertutup kabut kelabu…hu..hu..hu….kangen Indonesiaaaa..!!)

 

 

6 Comments to "Sariyah (1)"

  1. Titin  5 February, 2018 at 00:19

    Orang rese memang ada di mana2 Dian, empet saja kl dah bersinggungan dengan orang seperti itu, apalagi harus kerja bareng, bikin tekanan batin saja.

  2. James  2 February, 2018 at 08:12

    kadang klik satu artikel dua kali komen baru muncul, alias klik buka terus disambung reload

  3. J C  31 January, 2018 at 09:17

    Alvina, komennya gak ilang tuh…coba tekan F5

  4. Alvina VB  31 January, 2018 at 09:00

    Komennya ilang euy…

  5. Alvina VB  30 January, 2018 at 14:30

    Kl Yani eh Sariyah baca artikel ini, bisa berabe dunk mbak Di? wong cerita dari Deli jadi mendunia, he…he….

  6. James  30 January, 2018 at 10:52

    DN, begitulah banyak sikap orang Indonesia yang tidak terpuji sama sekali terjadi dikehidupan di LN, begitu juga di Ozi buanyak-buanyak sekali yang demikian, malah ada yang sampai berkata waduh sorry yah bahasa Indonesia saya Amburadul, apa dia merasa lahir di Ozi ? atau sudah berapa tahun tinggal di Ozi ? ada-ada saja Kesombongan dan Gengsinya tuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.