Semarang Menghidupkan Kembali Tradisi Tok Panjang

Asrida Ulinnuha

 

Imlek sudah dekat, pernak pernik merah mulai bergantungan di toko-toko penjual perlengkapan upacara Tionghoa. Denyar jelang Imlek bukan hanya terasa di sudut-sudut pecinan Semarang, namun juga di toko-toko buku yang sudah memajang amplop angpau beraneka rupa. Beragam acara mulai dirancang, keluarga jauh mulai dihubungi. Di Kota Semarang ada satu acara malam Imlek yang kini menjadi ikon dan selalu dinanti, yaitu perayaan ‘Tok Panjang’, makan malam perayaan Imlek pada meja yang panjang.

Imlek, walaupun meriahnya sama persis dengan perayaan hari raya beberapa agama, namun sejatinya adalah peringatan terhadap titik balik atau penghitungan musim tanam. Maka seluruh anggota keluarga dikumpulkan, melakukan doa bersama agar musim tanam yang sudah tiba berjalan baik sekaligus melangitkan rasa syukur atas rezeki yang sudah didapat dari musim-musim yang telah lewat. Ini adalah hari raya para petani, perayaan keluarga. Yang jauh didekatkan, yang dekat diakrabkan. Tidak mengherankan juga bila dalam perayaan Imlek ada anggota keluarga yang berbeda keyakinan datang berkumpul. Air boleh cair, darah selamanya kental.

Pada malam Imlek, setelah melakukan pai-pai atau sembahyang menghormati leluhur dan berdoa pada dewa, seluruh anggota keluarga akan duduk dalam satu meja yang sama untuk makan malam. Makanan diedarkan, udara berdengung oleh riuh cerita anggota keluarga satu dengan lainnya—ini adalah makan malam istimewa. Kehangatan semacam inilah yang dibawa dalam acara Tok Panjang.

semarangmetro.com

Secara harfiah dari Bahasa Hokkian ke Indonesia, ‘tok’ berarti meja maka tok panjang berarti meja panjang. Tok Panjang pertama kali diadakan pada malam Tahun Baru Imlek 2016. Malam itu menjadi perayaan Imlek sekaligus pembukaan Pasar Imlek Semawis (PIS) ke 12. Meja-meja dijejer menelusur sepanjang Jalan Wotgandul, Pecinan Kota Semarang. Semua tamu undangan duduk bersama dalam barisan meja yang tak putus. Setiap orang makan hidangan yang sama, tanpa ada pembeda selayaknya sebuah keluarga.

Pelaksanaan Tok Panjang ini menjadi harapan tetap rekatnya persaudaraan di antara warga Kota Semarang yang telah lama ada. Di samping itu, dengan merajut kehangatan secara rutin, dapat mendekatkan bukan hanya yang jauh namun juga menyandingkan pemimpin dengan warganya, atasan dengan bawahannya. Terjadi juga selama pelaksanaan Tok Panjang yang sudah berlalu, kawan lama akhirnya bertemu kembali tanpa sengaja, orang asing yang duduk berbagi sup di sanding meja ternyata masih kerabat.  Hal-hal semacam itu menjadi berkah yang tidak terbayar dengan berapapun banyaknya uang. Yang asing menjadi tak asing lagi, saling me-ngudarasa. (*Ulin)

 

 

5 Comments to "Semarang Menghidupkan Kembali Tradisi Tok Panjang"

  1. Lani  7 February, 2018 at 06:41

    James: Kona lagi lemot tp kaga hujan tolong dikirim hujan ya………..ditunggu

  2. James  31 January, 2018 at 09:34

    ha ha ha ini artikel kok bisa Tok Kelewat atau keretaku lemot ? Kona juga ketinggalan rupanya, salam Aloha hujan gak di Kona ?……wow Sydney hujan diakhir Januari 31 ditengah Kemarau puanas sering diatas 40 C, adem lah saat ini untuk beberapa hari kedepan

  3. Alvina VB  30 January, 2018 at 14:02

    Menarik sekali acara spt ini, jarang ada di kota lainnya. Thanks Ulin buat tulisannya.

  4. Ulin  30 January, 2018 at 07:22

    @Swan Liong Be. Makan malam saat Imlek itu yang tradisi lama. Nah spiritnya yang dibawa untuk warga Kota Semarang sebagai Kota multi etnis

  5. Swan Liong Be  29 January, 2018 at 18:21

    Jadi Tok panjang ini baru diadakan pada tahun 2016 untuk pertama kalinya, berarrti bukan tradisi yang lama ,karena aku gak pernah dengar sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.