Palestina Menjajah Israel

Chandra Sasadara

 

Pada 1200 SM, Merneptah putra Ramses yang Agung menyebut pasukan perkasa dari Aegea (sebuah gugusan kepulauan di antara Yunani Daratan dan Anatolia) sebagai “orang-orang laut.” Sedangkan Bangsa Israel mengololok-olok mereka dengan julukan “Filistine”: kurang berbudaya. Mereka sebenarnya berasal dari Kerajaan Gath. Orang-orang Gath memiliki alat pemintal pakaian dan teknologi membuat kerajinan dari tanah liat merah. Pasukan infanteri mereka mengenakan pelindung kaki, helm, dan menguasai penggunaan senjata jarak dekat. Sedangkan orang-orang Israel yang menempati tanah Kanaan hanya penggembala di gunung dan desa-desa kecil. Israel belum menjadi sebuah kerajaan, hanya konfederasi suku-suku yang dipimpin seorang tetua agama.
.

 


Pada pertempuran di Ebenezer yang terjadi 1050 SM, Pasukan Gath berhasil menumpas perlawanan Israel. Mereka menghancurkan tempat ibadah di Shiloh, merebut Tabut Pejanjian, dan merengsek menuju Yerusalem untuk merebutnya. Orang-orang Israel memutuskan untuk memilih seorang raja yang bisa memimpin mereka menghadapi musuh. Samuel, Nabi mereka menyarankan agar memilih seorang komandan militer bernama Saul. Petempur muda yang telah diurapi dengan minyak suci itu berhasil menggilas pasukan Gath dan sekutunya. Saul diangkat menjadi Raja Israel, tapi dia bukan raja yang bermental stabil, rakyat Israel mengatakan “Ruh jahat dari Tuhan mengganggunya.”
.
Samuel diam-diam menyiapkan Daud putra Jesse dari Bethlehem untuk melawan Pasukan Gath yang belum berhenti mengincar tanah Israel. Daud digambarkan sebagai pemuda yang lincah, pemberani, gagah, menonjol dan sulit ditebak. Dia seorang pria perang. Saul setuju dengan pilihan Nabinya, dia memberikan perisai dan zirahnya kepada Daud.
.
Pada pertempuran di lembah Elah, Saul dan pasukan Israel kalah telak. Peralatan perang mereka jauh dibawa musuhnya. Helm, pelindung dada, pelindung kaki, dan tameng orang-orang Gath tak bisa ditembus senjata Israel. Goliath (Jalut), orang paling perkasa di antara para prajurit Gath yang dijuluki “bajingan” oleh Israel itu berdiri menantang di depan medan pertempuran, tak ada yang bisa mengalahkannya. Daud berinisiatif menggunakan senjata pelontar batu dengan kain–senjata yang sekarang digunakan orang-orang Palestina melawan tank-tank dan mesin perang Israel. Senjata itu efektif, Pasukan Gath mundur sampai di Kota Ekron dan Goliath berhasil dipenggal kepalanya. Kemenangan Israel atas Gath itu ditandai dengan pernikahan Daud dan putri Saul bernama Michal.
.
Saul tak tenang memiliki menantu yang dianggap lancung seperti Daud. Beberapa kali Raja Israel itu berusaha membunuh menantunya. Daud lari dan mendapat perlindung dari para pendata Nob, Saul mengejarnya dan membunuh semua pendeta. Daud lolos dan memimpin 600 pejuang untuk membelot kepada Raja Gath, musuh Bangsa Israel. Sebagai tanda persekutuan, penguasa orang-orang laut itu memberikan Kota Ziklag kepada Daud. Raja Gath dan Daud kembali menginvasi Yehuda dan berhasil membunuh Saul di Bukit Gilboa. Kemenangan Gath, bangsa maju yang diolok-olok dengan sebutan Filistin itu menandai penjajahan baru atas tanah Israel.

 

Sumber: “Jerusalem: The Biography” karya Simon S. Montefiore

Makinuddin Samin (Chandra Sasadara), Penulis Novel “AHANGKARA: Sengketa Kekuasaan dan Agama”

 

 

One Response to "Palestina Menjajah Israel"

  1. James  12 February, 2018 at 08:20

    apakah Palestina masih mau meng Klaim Israel ??? padahal itu berarti Palestina ingin Menjajah Israel kembali ? apakah Israel pernah Menjajah Palestina ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *