Tarakan: The Pearl Harbor of Indonesia

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Tarakan the Pearl Harbor of Indonesia (1942-1945)

Penulis: Iwan Santoso

Tahun Terbit: 2004

Penerbit: Yayasan Indonesia Berdikari

Tebal: iii + 190

ISBN: 979-25-4240-X

 

Pada hari Natal tahun 1941, tiba-tiba pesawat-pesawat Jepang menembaki berbagai sasaran di Pulau Tarakan. Serangan yang tiba-tiba ini membuat kalang-kabut tentara Belanda yang ada di Tarakan. Mereka tidak bisa segera membalas karena pesawat-pesawat tempur mereka diparkir dan para pilot tidak sedang siaga. Baru pada tanggal 28 Desember pesawat-pesawat tempur Belanda melawan serangan udara Jepang. Namun upaya ini terlambat dan tanpa hasil. Pada tanggal 10 Januari 1942, ketika Belanda melihat kapal perang Jepang di horizon, mereka melakukan perusakan terhadap instalasi tambang minyak. Tentara Belanda meledakkan pipa-pipa, tangki penyimpanan minyak dan ladang-ladang tambang (hal. 25). Perusakan fasilitas tambang minyak ini dilakukan supaya Jepang tidak bisa menguasainya. Betul saja. Pada tanggal 11 Januari 1942, Jepang telah menguasai Pulau Tarakan dan dua hari kemudian Belanda menyerah. Jepang berkuasa di Tarakan selama 40 bulan, dari bulan Januari 1942 sampai dengan Bulan Mei 1945.

Sekutu mengirimkan 20.000 tentara Australia untuk menyerang Tarakan yang hanya dipertahankan oleh 2.000 tentara Jepang. Meski sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik, ternyata merebut Tarakan dari Jepang tidaklah mudah. Serangan dimulai dengan pengeboman Pulau Tarakan besar-besaran selama 4 hari penuh (hal. 73). Meski akhirnya tentara Australia bisa menguasai Pulau Tarakan, namun peperangan belum juga usai sampai dengan Bulan September 1945. Artinya mereka memerlukan 6 bulan penuh untuk benar-benar bisa menguasai Tarakan. Semangat tentara Jepang memang tidak mudah pudar. Meski kota Tarakan sudah dikuasai, tentara Jepang tetap melakukan perlawanan. Mereka bersembunyi di hutan dan bungker- bungker bawah tanah. Tentara Jepang melakukan penyergapan kepada patroli tentara Australia. Bahkan sampai dengan tahun 1960-an, masih ada rumor bahwa tentara Jepang masing tinggal di hutan-hutan di Tarakan (hal. 154).

Selain dari jumlah tentara Jepang yang sangat sedikit dibanding dengan tentara Australia yang menyerang, kekalahan Jepang di Tarakan juga disebabkan oleh kebijakan pesawat-pesawat Jepang untuk mengutamakan pencegahan serangan ke Okinawa. Pesawat-pesawat Jepang melakukan pencegatan terhadap pesawat-pesawat Sekutu yang mempersiapkan diri menyerang negeri Jepang. Dengan jumlah pesawat yang semakin sedikit dan diprioritaskan untuk mengamankan dalam negeri, maka perang di Tarakan tidak mendapatkan cukup dukungan dari udara.

Buku ini memberikan alternatif tafsir penyebab perang Asia Pasifik. Alih-alih menempatkan pengeboman Pearl Harbor Amerika sebagai penyebab utama perang, Iwan Santosa membeberkan fakta bahwa peristiwa-peristiwa sebelumnya, yaitu persaingan dagang antara Jepang dengan Amerika adalah penyebab yang sesungguhnya (hal. 11). Meski tidak serinci paparan Akira Kurasawa dalam bukunya “Kuasa Jepang di Jawa,” yang terbit dalam Bahasa Indonesia tahun 2014, Iwan Santosa memberikan alasan yang sangat kuat bahwa persitiwa serangan Jepang ke Tarakan sama pentingnya dengan serangan Jepang ke Pearl Harbor sebagai pemicu perang Pasifik.

Kebangkitan ekonomi Jepang yang tidak ditopang oleh bahan baku dari negeri sendiri menyebabkan ketergantungan ekonomi Jepang kepada import bahan baku sedemikian besar. Embargo yang dilakukan oleh Amerika dengan sekutu-sekutunya di Eropa membuat Jepang tidak punya pilihan lain, selain menguasai sumber-sumber bahan baku industri, khususnya sumber energi seperti minyak bumi (hal. 17). Jepang sangat tergantung pada pasokan minyak bumi dari Hindia Belanda. Setelah upaya diplomasi untuk mendapatkan akses bahan baku tidak cukup berhasil, apalagi setelah embargo diterapkan, maka Jepang hanya punya satu pilihan, yaitu perang untuk mempertahankan kelangsungan ekonominya. Itulah sebabnya Jepang memilih menyerang Tarakan lebih dahulu dalam strateginya menguasai Hindia Belanda.

Tarakan adalah wilayah pertama di Hindia Belanda yang diserang oleh Jepang. Hal ini disebabkan karena Tarakan adalah sumber minyak bumi yang paling ideal bagi Jepang. Minyak bumi di Tarakan bermutu tinggi dan mudah untuk ditambang. Lagi pula pengangkutan minyak dari Tarakan begitu mudah, karena sumur-sumur minyaknya berada di dekat laut yang bisa dilabuhi oleh tanker.

Meski ketika Jepang menguasai Tarakan semua instalasi perminyakan sudah dihancurkan oleh Belanda, namun Jepang berhasil memperbaikinya dengan waktu sangat singkat. Hanya butuh waktu dua bulan bagi Jepang untuk memperbaiki kerusakan instalasi tersebut. Pada tahun 1943, atau satu tahun setelah berhasil menguasai Tarakan, Jepang telah mampu mengembalikan produksi minyak menjadi 50 juta barel. Angka ini sudah mendekati produksi di masa damai, yaitu sebesar 65 juta barel (hal. 42).

Keberhasilan Jepang dalam perang Pasifik ditunjang oleh strategi perang yang sama sekali tak diduga oleh Amerika dan sekutunya di Eropa. Jepang tidak memakai strategi serangan besar dalam satu front, melainkan melakukan serangan di banyak tempat sekaligus. Jepang juga menggunakan perang di lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak diduga akan dijadikan medan perang, seperti hutan-hutan belantara, atau pantai-pantai yang sulit untuk didarati. Jepang melakukan kegiatan spionase secara masif untuk mempersiapkan perang. Bahkan mereka menugaskan mata-mata yang dijadikan pemborong beberapa pekerjaan di kilang minyak Belanda di Tarakan (hal. 27). Strategi ini telah membuat sekutu Amerika di Asia kelimpungan karena salah menempatkan tentara dan mesin perangnya di tempat yang salah. Demikian pun yang terjadi di Tarakan.

Buku ini menggambarkan bagaimana penyerangan Jepang yang tiba-tiba ke Tarakan yang menimbulkan penderitaan bagi orang-orang Belanda. Penderitaan rakyat segera menyusul karena perlakuan kejam Jepang kepada masyarakat di Tarakan (hal. 96). Kekejaman perang di Tarakan tidak berhenti sampai di situ. Saat tentara Australia sudah masuk ke Tarakan, mereka sering mendapatkan serangan yang tak diduga-duga, meski sesungguhnya Jepang secara formal telah menyerah dan perang dianggap sudah selesai.

Keunggulan lain dari buku ini adalah penjelasan yang sangat rinci terhadap kapal, pesawat terbang, tank dan alat-alat perang. Iwan Santosa secara Panjang lebar menjelaskan spesifikasi alat-alat perang tersebut, reputasinya dan perannya dalam peperangan, khususnya di Tarakan. Iwan Santosa memaparkan pesawat-pesawat Jepang yang mendominasi peperangan karena lebih cepat daripada pesawat-pesawat yang digunakan oleh tentara Hindia Belanda. Salah satu alat perang yang menarik yang dipaparkan dalam buku ini adalah alat penyemprot api (hal 116). Alat penyemprot api ini digunakan untuk membakar tentara Jepang yang bersembunyi di dalam gua, bungker atau tempat-tempat perlindungan yang dibangun oleh Jepang.

Iwan Santosa di bagian akhir buku mengeluhkan tentang sedikitnya peristiwa Tarakan dalam sejarah Indonesia dan sejarah Perang Pasifik. Mengingat pentingnya peristiwa Tarakan terhadap kedatangan Jepang di Asia Pasifik dan hubungannya dengan kemerdekaan Indonesia, sudah seharusnya peristiwa Tarakan ini masuk dalam sejarah nasional. Apa jadinya jika tentara Sekutu tidak disibukkan dengan perang di Tarakan, dan langsung menyerang Jepang di Jawa? Tentu saja kemerdekaan Indonesia bisa saja tidak terwujud. Seandainya Sekutu telah menguasi Jawa pada bulan Mei atau Juni 1945, sebelum Jepang benar-benar menyerah pada Bulan Agustus, niscaya kekuasaan Jakarta sudah di tangan Sekutu. Artinya kekosongan kekuasaan di Jawa, khususnya Jakarta tidak akan terjadi setelah tanggal 15 Agustus sehingga akhirnya Sukarno dan Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan sangat sulit bagi para pejuang kemerdekaan untuk menyatakan kemerdekaan di Jakarta jika kekuasaan sudah berada di tangan Sekutu.

Demikian pun dengan pentingnya serangan Jepang terhadap Pulau Tarakan ini dalam sejarah perang Pasifik. Jepang tidak akan bisa menguasai Pasifik cukup lama jika tidak mendapatkan Pulau Tarakan sebagai sumber minyak bumi yang mengisi tangki-tangki pesawat, mobil dan tank-tank mereka. Sayang sekali, perang Pasifik lebih banyak mengisahkan serangan terhadap Pearl Harbor saja.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Tarakan: The Pearl Harbor of Indonesia"

  1. James  14 February, 2018 at 08:00

    betul sekali bahkan Hollywood sendiri belum pernah membuat film mengenai Perang Tarakan ini rasanya sih, ada juga Tarawa Beach war

  2. Handoko Widagdo  14 February, 2018 at 07:37

    Om SLB, ini buku lama. Mungkin bisa dapat di Amazon.

  3. Swan Liong Be  13 February, 2018 at 17:17

    Sangat menarik kisah perang Tarakan ini; jujur saja, aku belum pernah membaca episode penyerbuan Tarakan , sering baca tentang invasi Jepang masuk pulau Jawa.
    Berapa harga buku ini ya?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.