Jalan-jalan yuk ke Taman Wisata Alam di Jakarta

Wiwit Sri Arianti

 

Jakarta, Kota Metropolitan yang menjadi Ibu Kota Republik tercinta ini menyimpan berjuta cerita, berjuta keindahan, dan mungkin juga berjuta kesengsaraan, kita bisa temukan dan lakukan apa saja jika mau, mulai hal yang paling buruk sampai dengan yang paling baik, semua tergantung kita masing-masing.  Kali ini aku akan berbagi cerita ketika kami berempat jalan-jalan ke taman wisata alam Angke Kapuk. Kalau lagi berada disini serasa bukan di Jakarta, karena Jakarta identik dengan gedung-gedung pencakar langit meskipun sudah banyak taman yang dibangun kembali ketika jamannya Gubernur Ahok. Namun tetap saja Jakarta sebagai Kota Metropolitan ketika mendengar nama Jakarta disebut, maka yang terlintas dalam benak adalah gedung-gedung pencakar langit penuh dengan taman beton.

Hari ini cuaca bersahabat dengan kami, langit cerah tersapun mendung tipis jadi tidak terlalu panas. Bersama teman kantor dan temannya kami berempat merayakan akhir pekan menikmati sisi lain kota Jakarta dengan melaju menuju Taman Wisata Alam dan sepakat memakai kaos warna merah supaya mudah dikenali kalau hilang hehe…

Di kawasan Muara Angke – PIK ini ternyata ada 3 lokasi hutan mangrove yang berbeda, yaitu:

  1. Suaka Margasatwa Muara Angke, tempat ini lokasinya berada di seberang Kompleks Ruko Mediterania PIK, dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI. Namun tempat ini tidak untuk umum, kalau mau masuk harus minta ijin ke kantor yang beralamat di Jl. Salemba Raya no 9 Jakarta Pusat.
  2. Hutan Mangrove Jakarta, hutan yang satu ini berlokasi di Jl. Pantai Indah Utara I, Jakarta Utara. Tempat ini dikelola oleh Provinsi DKI Jakarta, untuk masuk kesini tidak dipungut biaya hanya membayar parkir kendaraan. Namun tempatnya agak kotor dan sempit.
  3. Taman Wisata Angke Kapuk, inilah hutan mangrove yang populer di sosmed karena banyak spot foto yang bagus dan tempatnya keren, cocok untuk wisata bersama teman atau keluarga. Karena selain foto-foto kita juga bisa mempelajari tentang konservasi mangrove.

Jadi kami sepakat memilih yang ketiga, ke Taman Wisata Angke Kapuk, sampai di lokasi kami langsung mencari tempat parkir yang nyaman, menyiapkan camera dan bekal yang sudah dibawa dari rumah. Tapi kami dibuat kaget oleh peraturan yang ternyata tidak boleh masuk ke taman dengan membawa camera digital selain camera HP.

Alaa…mak, jadi ada charge tambahan yang menurutku sih besar banget, yaitu sebesar 1 juta rupiah bagi pengunjung yang membawa camera digital (selain camera HP). Kalau sudah terlanjur membawa camera dan tidak bersedia membayar maka camera harus dititipkan di tempat penitipan. Dari pada dititip akhirnya kami kembalikan aja ke mobil dan kami foto-foto hanya dengan camera HP, tapi ternyata hasilnya bagus juga kok, yuk nikmati foto-foto kami di bawah ini…

Ketika kami datang masih sepi jadi kami bisa leluasa menikmati keindahan alamnya dan belum terlalu panas, malah grimis hehe… aku juga sempat naik ke menara pandang, ketika naik sempat merasa “singunen”, kata orang Jawa. Tapi tetep aja naik sampai puncaknya karena indah banget dilihat dari atas.

Taman Wisata Alam dilihat dari menara pandang, indah ya…

Di taman ini ada ayunan untuk istirahat sambil menikmati sepoi angin sejuk

Salah satu sudut hutan mangrove

Kalau teman-teman mau ke Taman Wisata Alam ini bisa menggunakan kendaraan umum juga lho, ada 3 cara:

  1. Kalau mau nyaman tapi lama, kita bisa naik bus TransJakarta sampai ke halte Monas atau Kota terus ganti dengan naik BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) yang arah ke PIK, turun di Yayasan Budha Tzu Chi dan ikuti papan petunjuk menuju Taman Wisata Alam.
  2. Alternatif lain bisa naik bus TransJakarta yang arah pluit (koridor 12) turun di halte Penjaringan (1 halte sebelum halte Pluit), sambung lagi naik angkot B01 jurusan Muara Karang, turun di Pizza Hut Muara Karang, lalu sambung lagi naik angkot U11 jurusan PIK, turun di Yayasan Budha Tzu Chi dan ikuti papan petunjuk menuju Taman Wisata Alam.
  3. Kalau mau gampang dan lebih nyaman ya naik taxi saja hehe… ech, kalau taxi termasuk kendaraan umum bukan ya?

Namun jika teman-teman mau menggunakan kendaraan pribadi (mobil), dapat  menempuh rute sebagai berikut:

  1. Dari tol Pluit keluar Muara Karang, masuk Pantai Indah Kapuk (PIK) – Rumah Sakit PIK – Waterboom Golf dan Garden House – sekolah Tzu Chi.
  2. Dari arah tol Bandara Soeta, kluar tol arah Muara Kapuk – PIK arah Golf dan Garden House – Sekolah Tzu Chi
  3. Dari tol JORR Lingkar Barat kluar PIK belok kiri lewat Golf dan Garden House – Sekolah Tzu Chi

Mejeng di dermaga

 

Kita bisa berkeliling hutan mangrove menikmati satwa yang hidup di kawasan hutan mangrove ini dengan perahu atau kano yang bisa disewa. Harga sewa perahu untuk 6 orang sebesar Rp 250.000, kalau untuk yang 8 orang harga sewanya sebesar Rp 350.000. Sedangkan sewa kano keliling selama 45 menit harga sewanya Rp 100.000.

Atau seperti yang kami lakukan, kami tidak sewa perahu atau kano, tapi kami berkeliling mangrove  dengan berjalan kaki, menyeberang melewati jembatan dan ternyata lebih asyik lho. Kita juga tetap bisa menikmati keindahan alam dan satwa yang ada di hutan mangrove ini meskipun tidak dengan perahu.

Orang-orang kurang kerjaan, ngapain coba siang-siang, panas duduk di atas jembatan hehe…

Ini salah satu satwa yang bisa kita temui, kita ajak bercanda dengan syarat membawa makanan, pisang atau kacang kulit

Di taman ini, kita juga bisa ikut menanam mangrove lho, tapi tidak gratis, paket menanam mangrove per orang sebesar Rp 150.000, kalau menanam dengan papan nama, paketnya seharga Rp 500.000. seperti foto di atas ini.

Beberapa fasilitas yang ada di wisata alam ini, ada:

  1. Kantin, jika kita kelaperan ada kantin di arena wisata alam ini, tapi sayangnya hanya ada satu kantin jadi harganya mahal dan adanya hanya makanan instan, jadi kalau mau kesini lebih baik membawa bekal makanan sendiri dari rumah atau membeli di jalan, seperti kami kemaren hehe…
  2. Toilet umum, cukup bersih hanya sayang, menurutku kurang terawat.
  3. Tempat penginepan, jadi pengunjung seperti kita dapat menginap di rumah tenda di atas air, atau rumah tenda yang di atas tanah atau ada juga villa dengan tarif yang bervariasi seperti di bawah ini:
  • Rumah tenda di atas tanah: Rp 300.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  • Rumah tenda di atas air tanpa AC: Rp 450.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  • Rumah tenda di atas air dengan AC: Rp 600.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  • Villa bervariasi, mulai dari Rp 1.300.000 hingga Rp 6.000.000 per malam

Toilet umum

Rumah tenda di atas air

Sepertinya asyik juga menginap di sini, pasti malam hari bisa menikmati nyanyian binatang malam seperti jangkerik, katak, serangga  dengan paduan musik alami berupa desiran angin. Tapi kuatir juga kalau sendirian soalnya toiletnya di luar, ntar tahu-tahu ketemu binatang liar atau penghuni liar atau penghuni yang tidak menapak tanah hi hi…

Bergaya di depan rumah tenda di atas tanah

Ruang/tempat pertemuan

Tempat istirahat setelah capek mengelilingi hutan mangrove

Pemandangan di ujung perjalanan mengelilingi hutan mangrove

Akhirnya perjalanan kami berhenti di jalan paling ujung dan menikmati pemandangan di seberang hutan mangrove. Di sini juga dijual bibit tanaman yang sudah siap tanam, sudah dikemas dalam polibag, kita bisa membeli dan dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Supaya lebih efektif jalan-jalannya di depan pintu masuk terdapat peta lokasi dan informasi tentang per tiketan di bawah ini:

  • Harga tiket masuk (HTM) wisatawan lokal Rp 25.000, kalau wisatawan mancanegara sebesar Rp 250.000
  • Biaya parkir kendaraan roda dua (sepeda motor) Rp 5.000, roda empat (mobil) Rp 10.000, roda enam (bus) Rp 50.000.

Jam buka wisata taman alam mangrove ini jam 07.00 – 19.00 wib

Peta lokasi Taman Wisata Alam

 

Sampai di sini teman-teman, cerita perjalanan kami, sampai jumpa di jelajah Nusantara berikutnya ya…

 

 

6 Comments to "Jalan-jalan yuk ke Taman Wisata Alam di Jakarta"

  1. Wiwit  10 March, 2018 at 20:28

    Alhamdulillah…Puji Tuhan, kalau berguna. Jarak dari parkiran ke pintu masuk sangat dekat. Selamat jalan2 milosc…

  2. milosc  10 March, 2018 at 19:03

    infonya berguna banget. Btw, jarak dari parkir mobil menuju pintu masuk, jauh ndak ya? thanks

  3. Wiwit  25 February, 2018 at 09:47

    Aamiin…betul Bu Lani, saya lihat sudah banyak tempat sampah disediakan di pinggir2 jalan, semoga para pengunjung mau memanfaatkan untuk embuang sampahnya di tempat sampah.

  4. Lani  23 February, 2018 at 09:21

    Nampak asri, ijo moga2 dipelihara, dirawat jgn dirusak buang sampah sak enak udele dewe………

  5. Wiwit  21 February, 2018 at 11:52

    Hehe…sepertinya sih begitu Pak James, ech,..tapi mudah2ah jangan ah…eman2. Sebelum meninggalkan Jakarta, saya juga sempat kliling mengunjungi taman2 di Jakarta, ntar ku-share ya n bandingkan setelah jaman Anies Sandi jadi seperti apa

  6. James  21 February, 2018 at 08:31

    Taman-taman di Jakarta di jaman Ahok rapih bersih dipelihara, di jaman Anies Sandi di jamin Amburadul kembali seperti halnya Tanah Abang kacau kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.