Cikal Bakal Kampung Gunung Brintik

Asrida Ulinnuha

 

Kini siapa yang tidak tahu Kampung Pelangi Semarang? Sebuah kampung ngehits buruan anak muda dan keluarga untuk wisata dan berswafoto. Kampung ini tampak jelas terlihat dari jalan utama yang melintasi Jl. Kalisari, dekat dengan kawasan utama Tugu Muda Semarang dan Rumah Sakit Dokter Kariadi. Sebelum menjadi Kampung Pelangi, pemukiman yang berada di belakang Gereja Katedral Semarang ini dulunya bernama Kampung Gunung Brintik. Nama tersebut masih dipakai hingga medio 1997.

Dulunya Kampung Gunung Brintik menjadi kawasan favorit bagi penyewa lahan karena lokasinya dekat dengan pusat kota. Mudah diakses dari pusat perdagangan di kisaran Pasar Bulu dan Pasar Johar. Kontur tanahnya yang terjal dan bersebelahan dengan Tempat Pemakaman Umum Bergota, menjadikan harga sewa sangat murah. Kemudian akhirnya banyak dikenal sebagai pondok boro para pedagang sayur dan kuli panggul Pasar Bulu dan Pasar Johar yang datang dari beberapa daerah luar Semarang.

Menjelang tahun 1998 krisis melanda Indonesia. Para pedagang sayur banyak yang bangkrut. Pasar sepi, sebagian pedagang menjual lapaknya. Sejumlah pekerja pasar kembali ke kampung halaman masing-masing. Pun demikian ada sebagian lainnya yang memutuskan tinggal di Semarang. Karena mencari pekerjaan pun semakin sulit saat itu, banyak dari mereka yang mengemis di areal pekuburan dan dekat pusat kota. Krisis moneter yang melanda di tahun 1998 akhirnya membuat kampung ini dikenal sebagai kampung pengemis dan pengamen.

Sebelum menjadi sarang pengemis dan anak jalanan, tempat tersebut sudah dikenal sebagai tempat bersembunyi para penjahat. Jauh hari sebelumnya pula daerah ini dikenal angker banyak demitnya, bahkan sebelum pemerintah Kota Semarang menetapkan perluasan pemakaman Bergota ke bukit tersebut. Namun, tahukan anda mengapa wilayah tersebut dikenal sebagai Gunung Brintik? Konon menurut kisah para orang-orang tua, dahulu ada seorang wanita cantik dan sangat sakti penganut ilmu hitam yang menguasai bukit tersebut. Tidak ada yang berani padanya karena kesaktian dan kebengisannya. Rambutnya yang ikal kering atau brintik dalam Bahasa Jawa, membuatnya dipanggil sebagai Nyai Brintik. Meskipun perbukitan, namun orang Jawa kerap menyebut apapun yang menggunduk tinggi sebagai gunung. Bukit yang rimbun tempatnya tinggal kemudian terkenal dengan sebutan Gunung brintik.

Ia suka sekali berburu pusaka (jimat) ataupun senjata, bahkan tidak segan mencuri atau merebut dari tangan pemiliknya. Suatu ketika Keraton Demak sedang melakukan penjamasan (ritual pencucian senjata atau pusaka), momen tersebut digunakan wanita ini untuk mengambil Keris Sangkelat dan Keris Pasupati yang sedang dijamas, lalu ia melesat pergi secepat mungkin.

Dua keris sakti yang telah direbut oleh Nyai Brintik tersebut disembunyikannya dalam sebuah gua di kawasan Semarang. Saat ia keluar dari persembunyian rupanya tentara utusan Keraton Demak telah mengepungnya. Para tentara tersebut dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Setelah melakukan perlawanan yang sengit, akhirnya wanita sakti tersebut mengakui kekalahannya atas Sunan Kalijaga dan bersedia menjadi muridnya.

Meskipun berguru pada Sunan Kalijaga, Nyai Brintik tetap tinggal di kawasan Gunung Brintik dengan ditemani oleh orang kepercayaannya, Mbak Cowek. Ia bertapa dan banyak berbuat kebaikan hingga akhir hayatnya. Kemudian kedua orang tersebut dimakamkan di atas bukit Gunung Brintik. Makamnya dikeramatkan dan dihormati oleh banyak orang. Tidak sedikit pula yang berdoa mencari berkah atasnya. (Ulin)

– – – – – – – – – – – – – – –

*berbagai sumber

*foto cover: kondisi Kampung Gunung Brintik terkini. Oleh Suwito Wito

 

 

 

4 Comments to "Cikal Bakal Kampung Gunung Brintik"

  1. James  28 February, 2018 at 09:46

    lya mbak Lani, ini akhir bulan Februari bakal ada Mardi Grass di Sydney, sampe-sampe lantai Central Station dipasangan ditempel bentuk Hati yang berwarna warni, sampe saya mual ngeliatnya, apalgi perkawinan sejenis di sahkan oleh Pemerintah

  2. Lani  28 February, 2018 at 01:41

    Ulin: ini mengingatkan salah satu lokasi di Italy dimana perumahan penduduknya di cat berwarna warni, klu tdk salah nama tempatnya Burano

    James: hahaha…….tp mmg betul krn warna bendera kaum gay juga bak pelangi berwarna warni

  3. aelliot  28 February, 2018 at 00:21

    Beberapa bukit sejarah di antaranya, Meriam dengan berat sekitar 150 kg, keris pusaka, dan makam Raja Sanrobone (kabbanga) Benteng ini menarik dikunjungi karena bernilai sejarah masa lalu mengenai keberadaan dan perjuangan Kerajaan Sanrobone di Sulsel.

  4. James  24 February, 2018 at 05:28

    seperti layaknya Kampung Gay Lesbi memakai warna Pelangi itu simbolnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.