Kubilai Khan Mati di Jawa

Chandra Sasadara

 

Setahun lalu, saya pernah menulis status berjudul “Kubilai Khan Tewas di Jawa”, tak banyak yang menanggapi dengan data. Padahal saya berharap dengan tambahan data, novel “Ranggalawe” yang akan saya tulis saat itu bisa lebih kaya informasi. Sekarang saya tulis lagi agar kita tahu bahwa data sejarah itu tak tunggal, termasuk kisah tentang serangan Mongol ke Jawa pada dekade terakhir abad ke-13. Ada banyak sumber data, ada banyak perbedaan.


.
Perang Jawa-Mongol yang terjadi pada 1293 disebut dalam tiga sumber, antara lain: Tiongkok (Sejarah Negeri Yuan 1279-1368 , catatan Shi bi, Goa Xing, serta Ike Messe), Bali (Kidung Harsawijaya dan Kidung Ranggalawe), dan Jawa (Prasasti Gunung Butak, Prasasti Kertarajasa 1296, dan Prasasti Kertarajasa 1305). Namun penulisan sejarah di Indonesia terkait perang abad ke-13 itu lebih banyak menggunakan sumber Tiongkok dari pada sumber Bali dan Jawa. Misalnya tentang siapa yang memimpin pasukan Mongol dan berapa jumlah kekuatan pasukan.
.
Sumber Tiongkok terutama dari Sejarah Negeri Yuan (SNY) menyebut pada bulan kedua 1292, Kaisar memerintahkan Gubernur Fukian untuk mengirim Shi Bi (SB), Ike Mese (IM), dan Gao Xing (GX) memimpin pasukan ke Jawa dengan 1000 kapal. Mereka datang memimpin 20.000 prajurit, perbekalan batang 40.000 perak, 10 lencana harimau, 40 emas, 100 lencana perak, 100 gulung sutra: semua itu akan digunakan sebagai penghargaan kepada para praurit yang berjasa dalam perang. Sebelum barangkat mereka bertemu Kubulai Khan dan mendapat penjelasan bahwa mereka diperintahkan menyerbu Jawa karena utusan khususnya, Meng Qi dilukai wajahnyan oleh Kertanegara.
.
SNY menceritakan bahwa Wijaya (Pijaya) menyatakan takluk kepada kaisar dan meminta perlindungan dari serangan Jayakatwang (Raja Katong). Pasukan Mongol dikirim dalam tiga gelombang untuk menekuk Daha, kotaraja Kediri. Istana Daha dipertahankan 100.000 prajurit. Jayakatwang kalah dan melarikan diri, 5.000 tewas. Cerita ini berbeda dengan catatan para panglima perang yang memimpin pasukan Mongol. Misalnya jumlah pasukan: SNY menyebut jumlah pasukan 20.000, SB mencatat 5.000, GX mencatat 1.000, sedangkan IK tak menyebut jumlah pasukan. Tentang nasib Jayakatwang setelah perang: SNY dan SB menyebut ditawan, GX mencatat dibunuh, sedangkan IM tak mencatat apapun. Dalam hal rampasan perang yang sempat dibawa pulang ke Tiongkok: SNY dan IM menyebut rampasan kecil, SB mencatat rampasan banyak, sedangkan GX mencatat tak ada rampasan perang. Namun terkait Wijaya melawan balik pasukan mongol dan mengusir dari Jawa, baik SNY maupun para panglima perang mencatat hal sama.
.
Sumber Tiongkok ini ada dalam buku karya W.P. Groenevelt “Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources.” Groenevelt sendiri mengkritik SNY terkait penyerbuan Mongol ke Jawa dengan mengatakan banyak kesalahan dan tak tepat informasi, karena itu dia membandingkan dengan catatan para perwira yang memimpin pasukan yang datang ke Jawa untuk menghukum Kertanegara. Dari sumber Tiongkok saja, kita tahu bahwa data sejarah tak tunggal, apalagi kalau dibandigkan sumber-sumber lainya. Sekarag mari kita lihat sumber Bali.
.
Kidung Harsawijaya (KH) menceritakan bahwa pasukan Mongol datang ke Jawa atas permintaan Wiraraja, Adipati Sumenep. KH menyebut bahwa Raja Tatar tiba di Canggu, tahu kalau ada pasukan asing, Jayakatwang melawan. Raja Kediri itu juga marah kepada Harsawijaya (Wijaya) dengan bersekutu dengan mongol, dia merasa dikhianati. Jayakatwang betempur bersama para senatanya, saat pertempuran berkecamauk dia muksa di atas gajah tunggangannya. Rampasan perang di bawa ke Tarik/Majapahit, Raja Tatar marah dan terjadi perang antara dua sekutu itu. Pasukan Mongol akhirnya kalah dan terusuir dari Jawa. Herman Praktikno dalam ulasannya terhadap KH dan Pararaton seperti dikutip dalam buku “Sejarah Tuban” menyebutkan bahwa jenderal Mongol yang memimpin perang di Jawa hanya dua orang: Che Pi dan Ji’Komisu.
.
KH mengabadikan kemenangan itu dengan kalimat : “Sakwe ing satru wus enti dinon denira sri bhupati katekeng nusantara akwe log lyan tungkul subhakya karuhun tang Bali Tatar Tumasik Sampi Koci lan Gurun, Wadan Tanjung-pura tan open tang Dampo Palembang Makasar prapta sama mawwat sesi ni pura = Musuh telah dikalahkan oleh sang raja hingga Nusantara yang luas juga takluk dan berbakti, terutama Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, dan Gurun. Wandan, Tanjung-Pura, apalagi Dampo, Palembang, Makasar, datang bersembah seisi negeri.” KH pada bagian VI. 117 itu menyebut Tatar salah satu negeri yang dikalukkan.
.
Kisah dalam KH sedikit berbeda dengan Kidung Ranggalawe (KR). KH menyebut bahwa kedatangan Pasukan Mongol ke Jawa atas permintaan Wiraraja, sedangkan KR menyebut udangan kepada Mongol atas ide Ranggalawe. KH menyebut pasukan Pamalayu yang dipimin Kebo Anabrang datang sebelum perang di Daha, sedangkan KR menyebut pasukan dari Darmasraya itu datang setelah Jayakatwang kalah. KH menyebut Jayakatwang muksa, KR menyebut Jayakatwang ditahan Tatar. KH menyebut Raja Mongol tewas di Jawa, sedangkan KR mengatakan Raja Tatar pulang ke negerinya. Apakah betul Raja Tatar pulang ke negerinya? Mari kita cari tahu di sumber Jawa.
.
Prasasti Krtarajasa (PK) 1296 menggambarkan hebatnya pertempuran antara pasukan Jawa dan Mongol ibarat perang antara Kresna dan Kangsa: “Bhuta nirawacesa tlas hilang pwa ng catru denira, kangsarajantakawalakrsna-nirbhina, tanpa bheda ta sira lawan sang krsnawalaputra, umilangaken sang prabu kangsa= musuh disapu habis, tak tesisa lagi, hancur lebur jadi abu, sungguh tak berbeda perbuatannya dengan perbuatan Kresna yang membunuh Sang Prabu Kangsa.” Dalam Bhagawata Purana dan Padmapurana, Kangsa digambarkan sebagai kesatria hebat, sedangkan Kresna adalah anak pasangan Dewaki-Basudewa yang di asuh oleh keluarga Nangdagopa-Yasoda di kampung Gakula. Dalam banyak hal Kresna kalah, tapi buktinya dia mampu mengalahkan Kangsa. Hal itu mengapa PK mengibaratkan keberhasilan prajurit Majapahit membunuh Kubilai Khan layaknya kemenangan Kresna melawan Kangsa. Apakah betul “Kangsa” yang dimaksud dalam PK 1296 adalah Kubilai Khan?
.
Prasasti Krtarajasa (PK) 1305 mencatat bahwa “Singgasana raja Jawa dihiasi dengan kepala Raja Dwipantara.” Model pemeggalan kepala musuh oleh penguasa Jawa sebenarnya bukan kali pertama. Abu Zaid Hasan pengelana Arab, seperti dikutip oleh Groenevelt mencatat bahwa pada 916 M penguasa Jawa pernah memenggal kepala Raja Khmer karena tak patuh, kepala itu dibersihkan, diawetkan, ditaruh dalam jambangan, dan dikirim kepada raja penggantinya dengan surat berbunyi “Dirasa tak penting untuk menyimpan di sini, kami memutuskan mengirim kembali kepalanya kepadamu.”
.
Kita masih bisa berdebat tentang kata “Dwipantara”, apakah betul kata itu merujuk pada Tiongkok? Kata Dwipantara digunakan dalam penulisan prasasti, kakawin, babad, dan kidung, di antaranya: Prasasti Krtarajasa, Prasasti Gunug Butak, Prasasti Jayanegara II, Prasasti Prabu Tribuwana, Kakawin Negarakertagama, Kidung Hasrawijaya, dan Babad Tanah Jawi. Selain menggunakan istilah Dwipantara, Negarakertagama juga menggunakan istilah Nusantara dan Desantara. Berdasarkan pemetaan terhadap kakawin itu, Irawan Djoko Nugroho (seorang filolog dan ahli naskah tua UGM) menyebut Nusantara meliputi wilayah barat dan timur Jawa, Desantara meliputi wilayah Indocina sekarang, sedangkan Dwipantara meliputi Jambudwipa (India), Tiongkok, Karnataka (India Selatan), dan Goda (India Timur). Jika Dwipantara terdiri dari dua wilayah besar: India dan Tiongkok (sekarang), tak mungkin yang dimaksud Dwipantara dalam PK 1305 adalah India sekarang, sebab pada abad ke-13 tak ada pasukan dari wilayah itu yang menyerag Jawa, yang ada adalah pasukan dari Tiongkok, pasukan Mongol. Jadi kepala raja Dwipantara yang menghiasai singgasana raja Jawa saat itu tak lain adalah kepala penguasa Mongol, Kubilai Khan. Apakah benar itu kepala raja, bukan kepala panglimanya atau kepala prajurit biasa?
.
Masa orang Jawa tak bisa membedakan antara raja, panglima, dan prajurit biasa? Dua kidung di atas menyebut Raja Tatar, dua prasasti juga menyebut raja, bagaimana kita bisa meragukannya? Tak mungkin kepala panglima, sebab tiga panglima perang mereka tak mati di Jawa, mereka berhasil pulang ke Tiongkok dan menulis peristiwa perang Jawa-Mongol yang kemudian menjadi rujukan sejarah maintreams.
.
John Man dalam “Kubilai Khan: Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah” mencatat bahwa merahasiakan kematian kaisar dalam perang adalah bagian dari strategi untuk mengalahkan musuh, hal itu terjadi pada kematian Jengis Khan dan Mongke Khan. Man juga mencatat bahwa Sang Khan mati pada 1294 karena masalah kesehatan yang memburuk, tapi mengapa Kubilai Khan tak dimakamkan secara layak? Mayat Khan Agung dibawa berjalan sejauh 1000 km dan dimakamkan di lereng Burkhan Khaldun, di pegunungan Khenti. Man beralasan Kubilai Khan dimakamkan secara sederhana karena telah menghabiskan kekayaan untuk operasi militer! Tak masuk akal, penguasa dunia tak dimakamkan secara layak karena alasan kekayaan habis karena operasi militer.
.
Irawan Djoko Nugroro dalam “Majapahit: Peradaban Maritim, ketika Nusantara Menjadi pengendali Pelabuhan Dunia” menulis bahwa pada 1294 kepala Kubilai Khan di kirim dari Jawa, seperti kepala Raja Khmer. Tubuhnya sendiri tiba di Istana Negeri Yuan pada 18 Februari 1294, karena mayat kaisar yang tidak utuh itu, maka pemakaman Kubilai Khan dilakukan secara sederhana.

.
Makinuddin Samin/Chandra Sasadara, Penulis Novel “Ranggalawe: Sang Panakluk Mongol”

 

 

3 Comments to "Kubilai Khan Mati di Jawa"

  1. Alvina VB  3 March, 2018 at 02:06

    Terima kasih buat ulasan cerita Kubilai Khan. Keluarga mami saya datang dari kel. Khan, yg asalnya dari Ulan Bator, Mongolia (keturunan/generasi ke-3 yg lahir di Batavia). Memang sejarah datang dari banyak kaca-mata ahli/pengamat sejarah/historian, kadang bukan hanya history tapi jadi his story.

  2. James  24 February, 2018 at 05:42

    gak terbayang jikalau sekarang ini terjadi Perang antara Indonesia dan Tiongkok, akan menjadi Perang Tersingkat rupanya, bendera Merah pemenangnya

  3. Tri  23 February, 2018 at 14:19

    Serasa balik kuliah lagi.
    Sungguh ruwet belajar sejarah itu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *