Sariyah (2)

Dian Nugraheni

 

Artikel sebelumnya:

Sariyah (1)

 

Sejak hari aku meneriaki Yani alias Sariyah soal egg white di dapur sebagai adegan balas dendam yang direncanakan siang itu, entah bagaimana, hampir seluruh crew dapur, memandang ganjil dan ga suka padaku. Bahkan Hoa, seorang perempuan dari Vietnam yang bagaikan penguasa dapur, mencerca dengan muka buruk padaku, “kalian datang dari negara yang sama, bukan saling dukung malah pada nyerang…”

Lalu sejak saat itu, hampir semua crew, cenderung bersikap manis pada Yani.

Aku diam, agak bingung juga dengan keadaan ini. Semula, kupikir aku peduli pada Yani, nggak pengen Yani nampak pantat dan dicandai sama orang-orang di dapur, dan kejadian lanjutannya malah bikin runyam suasana.

Okay, mau ga mau ya kuterima resiko itu, agak dipandang sinis sama temen-temen. Sampai, suatu hari, entah kejadiannya bagaimana, temanku kasir di depan, marah sama Yani, sampai “ngluruk” ke dapur dan aku mendengar sendiri dia mengatakan sesuatu yang berlebihan pada Yani, mungkin saking marahnya, “kamu bisa dipecat kalau kamu kayak gitu..!”

Ya, menurut aku, semarah apa pun, temanku ini tetep nggak punya wewenang untuk bilang soal pemecatan.

Lalu, Yani naik banding, langsung nemuin Boss, wadul, dan Boss melindungi Yani. Yani makin gede kepala, bilang-bilang bahwa boss sungguh manis dan baik padanya. “Aku, sampai dipecat dari tempat ini, kecil…aku kan resmi, punya greencard, bisa kerja di mana-mana, nggak kayak orang yang ga punya surat..”

Sebentar kemudian, entah gimana, dia berantem lagi sama salah satu teman laki-laki dari Indonesia, kali ini teman laki-laki yang ngadu ke Boss, dengan suara keras dan marah, aku pun dengar dengan kupingku sendiri.

Kali lain, Yani berantem mulut dengan salah satu teman laki-laki yang berasal dari Vietnam. Berbahaya ini, sebab laki-laki dari Vietnam ini, orangnya sangat keras kalau marah. Temanku dari Salvador, seorang perempuan, sampai memeluk dari belakang tubuh temanku dari Vietnam yang sedang marah, agar tangannya ga sampai mukul muka Yani.

Suatu sore, si Store Manager ngomel padaku, mungkin maksudnya biar aku bilang ke Yani, “Apakah orang dari negaramu nggak tau gimana pakai toilet, kok kotor dan cecer-cecer gitu sih..jorok..”

Aku sahutin, “Hei, ngapain loe ngomongnya ke aku, ngomong tuh sama orangnya sendiri, dia masih di sini..enak aja ngomel ke aku..!”

Ini critanya, kalau Yani habis ke kamar mandi, pipisnya ceceran di mana-mana, di lantai, di dudukan WC, dan ga dibersihkan. Kalau dia habis ke kamar mandi, aseli, aku guyur air, lalu semprot windex, lalu lap pakai tisue yang kugosok-gosok pakai kakiku, baru deh aku pakai WC.

Karena kebiasaan itu, teman-teman lain pun marah, dan memarahi Yani, “kalau pakai WC dibersihkan, bukan cuma kamu yang makai WC..”

Yani ngadu lagi ke Boss, “Saya nggak mau pakai WC bawah, saya mau pakai WC atas (yang dipakai Boss), karena di bawah saya dijahilin teman-teman kalau ke WC..”

Lalu Boss mengijinkan Yani pakai WC atas. Ini bikin Hoa, si Ratu Dapur marah, “Kamu pikir ada diamond di pantatmu, sehingga kamu harus pakai WC khusus di atas..? Bla..bla..bla…”

Pertengkaran mulut kali ini sungguh keras dan berbahaya, sebab bila Hoa sudah ngadu ke Boss, semua bisa runyam. Boss selalu ada di pihak Hoa, baik Hoa salah atau benar. Menurut pengalaman, beberapa crew mengundurkan diri setelah sebelomnya berantem sama Hoa.

Benar dugaanku, kali ini si Boss panggil Yani, dan bilang bla..bla..bla.., intinya dia harus dengar kata Hoa.., Yani ga terima, dan melawan apa yang dikatakan Boss. Boss bingung, cuma bisa diem.

Kehidupan di dapur terus berlanjut, tapi aku sudah enteng, sebab habis berantem mulut itu, aku sudah janji bahwa aku memang harus menjauh dari Yani, nggak usah sok baik, sok mau melindungi, biar aja, udah sama-sama tua, tau resiko sendiri-sendiri. Jadinya aku hanya jadi penonton, ketika Yani berantem dengan satu demi satu temanku yang lain.

Dengan berantemnya satu demi satu temenku dengan Yani itu, otomatis teman-temanku sudah nggak pernah sinis lagi padaku kalau ada hal-hal yang berkaitan dengan Yani, paling mereka bilang, “You know, Yani..”

Lucunya, teman-teman mengamati hal yang sebelomnya ga aku perhatikan, “Dian, Yani itu mengidolakan kamu..apa aja yang kamu lakukan, dia ikutin..”

Emang bener sih, ketika aku bawa jus dari rumah, Hoa bilang, “Tomorrow Yani will bring something like you..”

Besoknya, emang bener, Yani bawa jus segar juga dari rumah.

Lalu, aku pernah becanda-canda bilang, “mungkin aku hamil..(hamil sama kucing…hixixi)” Sebab saat itu beberapa hari bawaannya aku pengen makan yang asem-asem. Ehh, besoknya Yani bawa mangga mengkel, bilang, “kayaknya aku hamil…” (dan ga pernah hamil sampai saat ini).

Ketika setiap sore aku mencuci muka dengan susu murni sambil sedikit kukompres agar kulitku yang kena api grill seharian itu lebih rileks, dia ikutan juga.

Terakhir, ketika aku mau pulkam bulan Juni kemaren, dan akan pulang ke Amrik kembali sekitar bulan September, lewat inbox Facebook, aku dikabarin temen di tempat kerja, bahwa “Yani dibilangin Boss, sudah nggak usah datang lagi…”

Ketika kutanyakan kenapa, ternyata selama summer break, di mana warung sangat sepi, Yani bolos 3 hari tanpa bilang, tanpa nelpon. Sebagai informasi, bahwa si Boss itu orangnya diem banget, katanya hampir ga pernah mecat orang kecuali orangnya resign, dan sesepi-sepinya warung, boss lebih suka pegawainya semua masuk, meski resikonya dia mesti tekor bayar upah pegawainya. Lha kalau Yani menganggap, warung sepi, maka dia bisa bolos seenaknya tanpa pemberitahuan, dia salah…Boss merasa ga dihargai, ya lalu itu tadi, dia disuruh ga datang lagi.

Lha wong aku libur 3 bulan aja dikasih kok, ya asal ngomong dulu ke Boss, dia ngerti kok kalau diajak ngomong, dan selalu kasih kalau karyawannya ada keperluan dan ga masuk, atau telat masuk, dan seterusnya.

 

(Bersambung jilid ke 3)

 

 

2 Comments to "Sariyah (2)"

  1. s.Goh  5 March, 2018 at 14:04

    Mudah mudah part-3 segera ……

  2. James  28 February, 2018 at 09:43

    hua ha ha ha badai pasti berlalu namanya karena si Yani sudah disuruh gak perlu datang kembali oleh si Boss, bernafas lega deh gak ada yang ngerecokin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.