Yowis Ben: Film Remaja yang Sangat Nyata

Wesiati Setyaningsih

 

Sejak liat trailer film Yowis Ben ini, saya langsung menggumam, “apik ki…”. Anak-anak menoleh, “Mama mau nonton film ini?”

Mungkin mereka memastikan apakah saya mau nonton film remaja yang biasanya receh. Tapi dari trailernya saya tahu ini film remaja yang nggak biasa.

Begitu muncul di bioskop, anak-anak langsung memberitahu dan kami segera menjadwalkan waktu. Kabarnya 90% dialog di film ini pake Bahasa Jawa. Wah ini surprise sekali. Sebuah tindakan yang berani, mengingat Indonesia yang beragam ini tidak semua bisa bahasa Jawa. Jangankan nonton film yang mesti bayar. Ngobrol sama temen yang pakai bahasa Jawa saja bisa diprotes, “pake bahasa Indonesia napa? Gue kaga paham!” Lha ini, film bioskop! Butuh biaya mahal bikinnya. Apa Starvision nggak takut kalo nggak laku?

Saya nggak akan cerita detil ceritanya. Secara plot, biasa aja lah kaya film-film Hollywood. Grup musik yang dibentuk karena kegelisahan masing-masing anggotanya.

Lalu setelah awalnya sempat malu karena gagal total di kompetisi band, mereka bikin video dan dipasang di youtube. Di’like banyak orang. Terkenal. Ada kompetisi lagi, ikutan lagi. Tapi pada saat yang sama persahabatan hampir pecah gara-gara cewek. Akhirnya hepi ending. Udah gitu aja, sederhana.

Yang membuatnya nggak sederhana adalah betapa film ini sangat berani mengambil kekayaan lokal dalam semua aspeknya. Saat film lain pake setting Paris, London, Swiss, Jepang atau Korea, film ini mengambil Malang! Itupun tokoh sentralnya di Bayu tinggal di Kampung Warna. Bukan rumah mewah ala2 sinetron yang tetangganya jarang keliatan. Di film ini isinya kampung banget.

Yang bikin saya seneeng banget, adalah waktu liat pemeran-pemerannya yang digambarkan sebagai anak SMA ini bajunya bener-bener kaya anak SMA kebanyakan. Baju putih abu-abu yang rapi dimasukkan. Mereka juga membahas bikin PR di salah satu adegannya. Konflik percintaan berhasil diselipkan, dan meski sedikit tapi mempengaruhi jalan cerita. Nggak kaya film lain yang malah terjebak dalam konflik percintaan mendayu-dayu hingga seolah anak SMA hidupnya cuma bahas pacaran doang. Di sini saya acung jempol karena film ini berhasil mengangkat kehidupan anak SMA dengan sangat nyata. Semua ada, cinta-cintaan, sekolah, bolos, PR, persahabatan, lengkap.

Film ini sangat menghibur buat saya yang paham bahasa Jawa. Dialognya keseharian banget. Guyonannya orisinil ala-ala anak muda daerah Malang di keseharian. Kita jadi kaya liat Malang beneran. Bukan Malang rasa Jakarta. Entah buat yang nggak paham bahasa Jawa, apakah akan sama menariknya.

Dan satu lagi yang bikin saya salut, film ini berhasil mengangkat keberagaman etnis dalam masyarakat untuk tokoh-tokohnya. Bayu yang anak penjual pecel mewakili rakyat menengah bawah. Yayan yang anak mesjid dan khas kaum ini digambarkan suka doa sebelum apa saja, termasuk percaya pada rukyah. Nando yang Cina dan non Muslim, saking merasa minoritas bapaknya nggak percaya dia punya teman. Dan Doni yang anak orang kaya tapi nggak bahagia. Anak-anak ini memang gambaran nyata masyarakat kita yang sebenarnya beragam dan bahagia dengan keberagaman kita. Ribut-ribut antar agama dan etnis memang sebenarnya hanya gembar-gembor kalangan tertentu dan dihembus-hembuskan di medsos saja.

Kalo anda butuh hiburan, film ini sangat recommended. Saya saja nggak habis-habis ketawa sejak film dimulai sampai subtitle selesai. Karena bahkan adegan dibuang sayang pun masih bisa bikin ketawa dan bikin enggan beranjak meski lampu sudah dinyalakan.

Oia, lagunya juga keren-keren meski berbahasa Jawa semua. Benar-benar orisinil.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Yowis Ben: Film Remaja yang Sangat Nyata"

  1. arifani  23 April, 2018 at 00:35

    awalnya liat film ini gr2 ajakan tmn, hahahhaa… pemutaran perdana uda nongkrong d bioskop.. lhaa yg nonton cuma seuprit ga sampe 10 org….

    tapi film ini g ngebosenin, bnyak ketawanya. meski banyak misuhnya. sya suka!

  2. Sumonggo  28 February, 2018 at 10:50

    Film ini menawarkan kesegaran, di tengah banjir sinetron yang hampir seluruhnya berlogat Betawi serba “Lu” dan “Gue”. Tapi kalau mengajak anak-anak nonton perlu hati-hati juga, banyak pisuhannya … Ha ha …. Jancok ….lambene kuwi …..

  3. Budi Margomuljo  27 February, 2018 at 18:06

    Tau film ini saat nonton video youtube dari LondoKampung.. sudah nonton trailernya, keliatannya memang bagus, Mbak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.