Untuk Apa Sekolah?

Wesiati Setyaningsih

 

Pertanyaan ini tak pernah berhenti menggema di kepala saya. Sebelum jadi guru saya tak begitu peduli. Anak saya harus sekolah dengan baik. Tapi ketika jadi guru, saya malah berubah pikiran. Saya nggak peduli anak saya pinter di kelas apa nggak, yang penting mereka bahagia dan (ini utama) mereka harus tetap berani menunjukkan jati diri.

Tujuan sekolah, sebagaimana diyakini banyak orang, adalah bikin pintar. Tapi nyatanya justru saat mulai sekolah anak-anak kehilangan keunikan mereka sedikit demi sedikit. Dan akhirnya takut menjadi diri sendiri.

 

Ketika di Indonesia ini pendidikan nggak jelas arahnya, saya cuma bisa berusaha agar murid-murid saya berani menjadi diri sendiri dan bahagia. Apalagi yang dimiliki kalo kedua hal itu mereka nggak punya?

Sekolah jaman saya masih santai. Pulang setengah satu, masih bisa tidur siang, sore dolan, malam bikin PR bentar, trus nonton tivi. Hidup masih asik. Masih bisa les sesuai yang dimaui. Sekarang sekolah sampai sore, hingga terpaksa di kelas digelar alas buat tidur siang, kali aja gurunya lalai bisa nyuri-nyuri tidur siang. Apakah lantas mereka jauh lebih pintat dari anak-anak angkatan saya? Saya nggak percaya. Jauh lebih tidak bahagia, itu pasti.

Maka ketika di satu kelas ada anak yang masuk kelas dari BK. Memang dia sering telat sekolah dan sering nggak masuk. Saya tanya, kenapa dia begitu? Jawabnya, “saya takut sekolah.” Saya tercenung. Jangan-jangan banyak anak Indonesia yang senasib sama dia. Tidak bahagia di sekolah tapi tak ada pilihan lain. Kebanyakan orang tua selalu menjejalkan apa yang mereka yakini tanpa bertanya apakah mereka suka. Saya salah satunya.

Saya jadi mikir, kalo sekolah nggak jaminan bikin mereka pintar, pula mereka tidak bahagia, buat apa sekolah?

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Untuk Apa Sekolah?"

  1. Wiwit  10 March, 2018 at 22:52

    Kasihan… memang masih banyak anak-anak yang tidak hepi di sekoalh karena mereka sekolah hanya nuruti ambisi orang tuanya.
    Ada temannya anakku “dipaksa” orang tuanya untuk menjadi dokter karena ibunya dokter dan pingin ada salah satu anaknya yang jadi dokter. Karena terpaksa, maka ikut tes 2x gagal, dan akhirnya tes yang ke 3 lolos, tapi gak tahu, lolos murni apa karena campur tangan orang tuanya. Karena saking kepinginnya, biasanya orang akan menggunakan segala cara agar keinginannya terwujud.

  2. James  4 March, 2018 at 08:29

    buat apa Sekolah ? agar gak jadi orang Oon saja

  3. Sumonggo  2 March, 2018 at 17:14

    Buat apa sekolah? Sekolah kok dibuat-buat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.