Wudangshan (2): Mencari Pendekar Pedang, Bertemu Dukun Wudang

Ary Hana

 

Artikel sebelumnya:

Wudangshan (1): Mengunjungi Kuil Tao

 

Gunung Wudang memiliki curah hujan lumayan tinggi, saat saya datang, pertengahan Oktober, nyaris tak ada matahari. Kalau tidak hujan seharian ya berkabut seharian.

1. Lapak cenderamata sebelum pintu keluar Gunung Wudang

2. Keterangan tentang istana di selatan tebing atau Kuil Nanyan

3. Puncak kuil, tempat para tetua Tao bersemayam

4. Sepintas mirip gerobak makanan, tapi ini tempat membakar dupa

5. Regimen Hall, papan ini di bawah tangga menuju ruang pengobatan

6. Salah satu bangunan tua tempat menyimpan berbagai peninggalan Tao masa lalu

7. Jalan menuju Gua Dewa Hujan

Seperti kebanyakan turis asing yang datang, saya juga ingin melihat sosok pendekar Wudang. Namun hingga keliling beberapa kuil, tak jua saya lihat sosok itu. Hingga saya memasuki kuil atau istana di Nanyan. Saat menuju puncak kuil, saya berpapasan dengan dua gadis berpakaian ala pendekar kungfu. Yang satu sibuk membuang sampah, satunya bergegas ke suatu tempat. Lalu datanglah lelaki tua, pendek, berhanggut putih panjang dan berambut panjang. Seorang gadis lalu berteriak, “Shifuuu..!” Lalu mereka terlibat dalam percakapan yang seru. Sayang saya tak paham bahasanya, jadi tak bisa menguping.

Saya menuju ruang dalam puncak kuil. Di sana terpampang tiga patung tetua Tao beserta bantal untuk persembahyangan. Mengikuti polah seorang pemuda, saya bersimpuh memberi hormat ala kepada Sang Buddha kepada ketiga patung itu, lalu memasukkan uang ke kotak donasi. Ruangan itu dijaga seorang perempuan paruh baya yang posturnya sigap, tinggi, tegap, dan wajahnya perpaduan cantik dan jantan. Matanya mirip serigala, awas pada ruangan namun bersikap cuek. Dia berjalan hilir mudik. Saya pikir, dia satu dari sekian pendekar itu walau bukan masternya 😛

Turun dari kuil puncak, di samping kanan, ada papan bertuliskan Regime Hall, balai pengobatan. Di situ dituliskan orang Wudang memanfaatkan tumbuhan sekitar sebagai obat. Saya teringat sebelum masuk Kuil Chang menemukan ceceran pekak dan kayu manis yang dibuang dari botol minuman kosong seorang penjual cendera mata. Sepintas mirip jamu di Jawa. Jadi dengan penasaran saya naiki tangga tersebut, dan bertemu sang dukun yang duduk menghadap dua kuali besar berisi penuh ramuan yang dipanaskan. Dukun lelaki bertubuh besar, berwajah halus dan penuh senyum. Dia memegang HP, memotret dirinya sendiri dalam pose selfie, lalu melakukan telepon ala wechat. Saat saya masuk, dia mengucapkan salam mirip ‘apa yang bisa saya bantu, silakan duduk’. Saya segera memberi isyarat bahwa saya orang asing dan tertarik dengan ramuan. Dia lalu mempersilakan saya masuk, melihat-lihat.

Balai Ramuan itu lumayan besar. Ada dua orang di sana, si dukun ramuan dan satunya lagi lelaki di bagian dalam, khusus refleksi atau akupunktur (?). Ada setengah jam saya berkeliling ruangan, hanya memandang jurnal-jurnal berhuruf han ji berisi rumus dan ramuan pengobatan, dan hanya memahami gambar simpul-simpul refleksi, titik-titik aliran darah dan pusat saraf otot. (Kalau Anda punya tenaga dalam cukup besar, Anda tinggal menotok, menutup aliran darah di simpul-simpul tertentu, yang bisa membuat lawan tak mampu bergerak 😛 ). Bagian inilah yang dirangsang dengan tusukan jarum, pemanasan menggunakan semacam perekat warna hitam, agar peredaran darah lancar dan tubuh yang sakit menjadi bugar. Ramuan di kuali besar itu mungkin bahan untuk membuat semacam perekat warna hitam tadi. Masih banyak lagi hal menarik di sana, termasuk kumpulan tanaman obat khas Wudangshan. Andai saya mampu berucap bahasa mandarin 😛

Ada dua bangunan saling berhadapan di bagian bawah ramuan, mirip toko yang menjual beragam bahan ramuan herbal, dan satunya mirip museum berisi peninggalan lama Wudangshan, seperti baju, pedang, dan lainnya. Saya tak sempat berlama-lama di kedua tempat tadi karena hari sudah menjelang sore.

Ketika menyusuri lagi jalan menuju pemberhentian bus, saya menyadari ada yang aneh. Para pedagang di sepanjang jalan masuk kuil ini bukan orang biasa. Ada beberapa lelaki yang berambut panjang dan berkumis tipis dengan pakaian khas Gunung Wudang ala pendekar. Ada yang menjual dan membakar ubi dan jagung, ada yang mengangkut akar lotus dari satu tempat ke tempat lain, atau berdagang suvenir seperti pedang kayu dan tongkat. Para pedagang perempuannya pun tak semua orang biasa. Banyak yang posturnya tegap mirip pendekar dengan mata awas dan wajah tanpa pupur. Bisa jadi, karena tak ada kompetisi, tak ada pertunjukan terbuka martial arts yang selalu diminati turis, kini mereka bekerja sebagai pedagang untuk mempertahankan hidup. Lagipula ini musim gugur, tak banyak tanaman tersisa di lahan pertanian. Berdagang dan menawarkannya kepada turis, menjadi alternatif pekerjaan saat ini, di samping menyewakan kamar-kamar rumah sebagai hostel. Jadi sebenarnya saat itu saya dikelilingi pendekar Gunung Wudang yang bersahaja.

Saat kembali di pemberhentian bus pertama -dekat Kuil Taizi Po- sudah pukul tiga petang. Tampaknya saya tak bisa mengejar bus menuju Kuil Emas. Apalagi perlu 4 jam untuk mendaki kuil di bagian utara itu. Akhirnya saya menyerah, mengambil bus menuju jalan pulang. Andai ke sini lagi -saya tak tahu kapan- saya akan menginap beberapa malam di dalam TN, cari penginapan milik warga setempat, sehingga puas menjelajah gunung ini dari sisi utara dan selatan dengan berjalan kaki. Memang untuk mendaki di satu sisi, saya harus berjalan sejauh 26 km, tapi dengan cara ini saya bisa mengunjungi beberapa perguruan Kungfu yang berada memencil di beberapa bagian gunung dan tak termasuk destinasi wisata bagi bus para turis ini.

Wudangshan kini memang sudah sangat komersil. Berkat beberapa film martial arts yang mengambil lokasi di gunung ini, juga membanjirnya orang dari manca yang hendak memperdalam beladiri tai chi, meditasi qi gong, maupun falun gong, serta kemampuan penduduk lokal mengelola kawasan ini sebagai kawasan suci ajaran Tao -hingga ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco- membuat pamor Gunung Wudang meningkat dan dibanjiri turis yang penasaran dengan gunung satu ini.

Komersialisasi ini tak hanya mendongkrak mahalnya harga penginapan di dalam gunung, tapi juga harga makanan, suvenir, bahkan tarif belajar martial arts di beberapa padepokan kungfu di sini. Sempat saya browsing untuk belajar sebulan, tarisnya mencapai Rp.20 juta hingga Rp.30 juta rupiah. Jika belajar seminggu atau dua minggu, tarifnya Rp.10 juta hingga Rp.15 juta rupiah. Itu sudah meliputi makan, penginapan, internet, dan pengajaran. Namun ada juga perguruan kungfu yang tak komersil, yang harus Anda datangi dan temukan sendiri saat berada di Gunung Wudang. Ini yang sulit jika Anda tak paham bahasa Mandarin. Perguruan kungfu yang tak komersil seperti ini biasanya bukan jenis abal-abal, dan shifunya juga sangat pemilih 😀

Bus yang saya tumpangi akhirnya berhenti di area mirip pertokoan yang dipenuhi toko suvenir dan sebuah hotel megah di pintu keluar Gunung Wudang. Tak ada tentara yang jaga di sana. Jadi andai Anda menginap di sana hari itu, keesokan harinya naik lagi ke Gunung Wudang tanpa tiket, tak masalah. Tiket masuk Gunung Wudang berlaku selama kita masih berada di dalam area TN. Tapi sekali keluar dari pintu gerbang TN, tiket pun hangus. Walau masih menyesal dengan singkatnya perjalanan hari itu, saya keluar juga dari pintu gerbang TN tanpa membeli satu suvenir pun. Saya berharap menemukan teh Gunung Wudang yang terkenal itu di Kota Wudang saja. Pasti harganya lebih murah.. Bonusnya, saya bisa berjalan keliling kota dan lebih memahami tentang kota kecil di lereng gunung propinsi Hubei ini.

 

Bisa juga dibaca di:

Wudangshan (2) : Mencari Pendekar Pedang, Bertemu Dukun Wudang

 

 

2 Comments to "Wudangshan (2): Mencari Pendekar Pedang, Bertemu Dukun Wudang"

  1. James  4 March, 2018 at 08:35

    mencari Pendekar dapatkan Dukun, mencari Kakap dapatkan Teri

  2. Sumonggo  2 March, 2018 at 17:13

    7 Pendekar Wudang dan Golok Pembunuh Naga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.