Sariyah (3)

Dian Nugraheni

 

Artikel sebelumnya:

Sariyah (1)

Sariyah (2)

 

Setelah satu demi satu teman-teman kerja di deli “ditladung’, alias kena attack sama Yani alias Sariyah, mulailah orang-orang bersikap sama denganku, pokoknya jangan ngomong sama dia deh, jangan..! Nggak usah bersentuhan, dan kalau ada apa-apa soal dia, diem aja, seolah dia nggak ada di antara kami.

Juga, sekaligus, setelah semua yang terjadi, hubunganku dengan mbak Yani, dalam status “biasa-biasa saja.”. Artinya, enggak karib, enggak benci, sedikit geli, agak kasihan, tapi masih diam, artinya, bicara dengan dia seperlunya saja.

Ya, sejak pertama kenal aku sudah panggil dia mbak, sebab itu kebiasaanku untuk menghormati perempuan lain yang berkomunikasi denganku.

Aku bilang, agak kasihan ke dia, kemudian akhirnya juga agak memaklumi dia, setelah aku dengar dia cerita banyak ke setiap orang di tempat kerja. Artinya, dia itu sukanya ngomooong mlulu, baik didengerin atau enggak, baik ditanggapin atau enggak.

Aku jadi tahu, seperti dari mana dia berasal, bagaimana kehidupannya yang susah ketika masih di Indonesia, ninggal anak bayi yang kemudian jadi anak susu Ibunya, suaminya yang ga tahan hidup kerja keras di Amrik, padahal, “kan belom balik modal to, saya sama suami utang itu, yang buat berangkat ke sini, kok sudah suruh pulang. Ya pas suami saya bilang, kalau kamu ga mau ikut saya pulang, kita cerai.., ya saya pilih cerai…”

Mbak Yani juga susah bilang huruf C sama J, suka kebalik-balik. Cold (sandwich) dibilang gold (sandwich), jadi kalau pas ngomong sama customer, mereka suka ga ngeh. Nah, yang lucu, dia suka bilang “bercanda’ jadi “berjanda”, hwakakakak, maka salah satu temen lelaki dari Indonesia bilang gini, “Mbak Yani, jangan bilang gitulah, saya jadi nggak enak sama mbak Dian lho…”

Hwakakak, aku ga marahlah…, malah ngekek dan ikutan guyon, “berjanda jangan berjanda..a..a.., kalau tiada artinya…, berjanda boleh saja..a…a.., kalau ada maunya…” *Rhoma Irama mode on…

Benar apa kata teman-teman, mbak Yani ini memang agaknya suka padaku, dia bilang, “Mbak Dian, besok sore habis pulang kerja, anterin saya ke TJ Maxx yuk, beli baju, saya kan summer ini mau vacation ke Indonesia. Dan aku bilang, “okay mbak…”

Nah, inilah, terjadi peristiwa yang demikian parah, aku sesali, dan rasanya aku pengen ngamuk pada diriku sendiri yang garang di dalem, lemah di luar dan super kampret ini. Aaarrrggghhhh!!

Gini ceritanya, deli setiap hari tutup jam enam sore. dan yang kerja sampai jam 6 sore itu separuh crew, shift ke 2, yang shift pertama sudah pulang. yang tinggal adalah, 2 lelaki, aku, dan mbak Yani. Dua lelaki urus banyak hal sana-sini, ngepel, cuci dan masukin jar kopi, jar teh, dan lain-lain. Yang di deli bar cuma aku dan mbak Yani.

Sore itu menjelang tutup, kurang 10 menitan, ketika ada customer datang dan aku yang bikinkan sandwich. Mbak Yani ada di sekitarku sambil cerita ini itu seperti biasa. Setelah selesai, JoeDeli si store manager yang koplak sudah matikan sebagian lampu, jadi ruangan agak remang. Tiba-tiba seseorang dengan jubah toga datang, “Diaaan…” Deli tempat kerja mbak Dian kan adanya di tengah kampus, dan aku lupa hari ini ada wisuda.

Dalam keremangan ruangan, aku tengok siapa panggil aku, ohh, ternyata boy friendku, wisuda hari ini. Boy friend itu bukan pacar kalau pengertian kami di deli, tapi pelanggan kesayangan kita dan mereka menyayangi kita juga.

Sebut saja namanya James, dengan senyum sumringah, dia memelukku tanpa malu-malu dan ragu, ga peduli mbak Dian bau bacon dan asap dapur. Ternyata dia sama Ibu dan Bapaknya. Kami berkenalan sejenak, tak lupa aku ucapkan selamat pada mereka semua. James berkali-kali bilang ke Ibu Bapaknya, “ini Dian yang selalu take care aku setiap aku beli sandwich, dia super nice, bikinkan aku kue (Nastar), bla..bla..bla..” Ibunya berterimakasih berkali-kali. James di depan Ibu Bapaknya peluk-peluk aku berkali-kali, cium pipiku, lagi dan lagi, sampai Ibunya nampak sedikit jealous, mungkin dia nggak serame itu kalau sama Ibunya..hehe..

Lalu, James dengan tatapan super cute as always, “Dian, please bikinkan aku my sandwich untuk terakhir kali sebelom aku pulang ke countryku, aku akan ke sini lagi, promise…, tapi ga bisa very soon, maybe next year, please…”

Wah, bar deli udah kubereskan dan kututup rapi, tapi demi my nice boy friend, akhirnya dengan senang hati kubuatkan, sambil ngobrol sama James yang nungguin aku di sebelahku.

Nahh, ini dia, tiba-tiba si mbak Yani nyrondol, ngobrol mantep banget sama Bapak Ibu dan James, nimpali sana-sini dengan bahasa Inggrisnya yang lumayan abrakadabra, dan dia ambil smartphonenya, dan bilang, “aku mau foto sama kalian…ayo, aku mau foto..”

Orang bule itu kebanyakan sopan, mereka ga bakalan nolak beginian, maka berfotolah mereka. Kulihat wajah James agak jengah. Dadaku gemuruh magma. Mentolo nguntal si mbak Yani aku saat itu. Aku tahan-tahan biar pisau di tanganku bekerja sesuai fungsinya, bukan terhambur melayang kemana..

Gua lagi sibuk bikin sandwich, lampu ruangan udah dimatikan, sebentar lagi JoeDeli akan teriak, “tutuuup, please…aku mau pulang, aku sakit niiih..” (kebiasaan JoeDeli kalau minta kami cepet-cepet tutup deli bar, karena dia buruan mau pulang), sementara meja masih berantakan karena aku harus bikinkan James sandwich, dan mbak Yani asyik-asyik ngajak mereka berfoto..? Can you imagine..? Itu adalah James, my James..! Kampreeetttt..!

Lebih kampret lagi, aku ga punya smarthphone…hwakakakak…Modyaaar..! Aku ga bisa minta mereka berfoto denganku pakai smartphoneku.

Setelah selesai bikin sandwich, James mengajakku berfoto dengan smartphonenya, “Mom, would you please, take picture for us..”

Bla..bla..bla.., James dan aku berfoto berkali-kali, juga dengan Bapak dan Ibunya, tapi kan foto itu ada sama mereka ya..? Dan si Yani malah memiliki foto dia sama James..? What the heck..?

Anehnya, sore itu aku masih anter mbak Yani ke toko TJ Maxx buat beli baju, karena aku sudah janji, meski barusan tadi dia bikin aku luar biasa pengen ngamuk berkaitan dengan soal James. Cuma sampai rumah, aku meraung-raung ga terima (meraung-raung dalam hati), dan mulai besok paginya, kembali aku mak cep klakep alias kembali nggak ngomong sama mbak Yani…Hixixixi, mbak Dian so silly, ya…

Sudah ah…, beneran sudah nih ngomongin Sariyah.., pleasee, jangan minta jilid 4…hwakakakak..

 

 

4 Comments to "Sariyah (3)"

  1. s.Goh  22 March, 2018 at 15:38

    Thank You for the story…..peace

  2. James  22 March, 2018 at 09:10

    si Yani end of the story akhirnya….bye bye Yani Yano

  3. ariffani  22 March, 2018 at 05:03

    TUNGGU JILID 4 #FIX

    *capslock made on

  4. s.Goh  21 March, 2018 at 17:21

    thank you for the story…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *