Bahagianya, Bisa Datang Lagi ke Sibolangit

Wiwit Sri Arianti

 

Pagi itu, acaraku hanya tinggal satu yaitu diskusi dengan teman-teman Tim Program di Sumut tentang hasil monitoring sekolah, setelah itu sebelum ke airport aku akan menyempatkan ke Sibolangit, daerah yang pernah kukunjungi pada tahun 1977 ketika aku masih duduk di bangku SMP.

Pucuk dicinta ulam tiba, kak Yose menawarkan diri untuk menemaniku ke Sibolangit, kebetulan kerjaan beliau sudah beres sehingga ada waktu bersamaku. Maka tidak membuang-buang waktu, begitu selesai diskusi kami langsung meluncur ke Sibolangit dengan menggunakan mobil Kak Yose dan ternyata beliau pembalap lho. Perjalanan dari Medan ke Sibolangit yang jaraknya sekitar 75 km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam, dapat sampai lebih cepat. Begitu menjejakkan kaki di tanah lapang bumi perkemahan Sibolangit, dada ini bergemuruh, terucap syukur yang tak terhingga.

Aku tidak pernah menyangka akan sampai di tempat ini lagi setelah Jambore Nasional tahun 1977, aku menjadi salah seorang peserta dari kontingen Jawa Timur, tepatnya dari Karesidenan Malang. Waktu itu aku masih SMP, setelah melalui serangkaian seleksi sejak antar sekolah di Kecamatan Bululawang, sampai akhirnya terpilih dua orang, perempuan dan laki-laki, behagianya hatiku karena yang perempuan itu diriku dan yang laki-laki namanya Lutfi. Kami berdua mewakili Kabupaten Malang, namun perjuanganku belum selesai meskipun sudah terpilih berangkat ke Sibolangit.

Eyang Kakungku tidak bersedia menandatangani surat ijin dari sekolah kalau pembina pramuka dan kepala sekolahku tidak datang ke rumah dan bertemu beliau. Kakung bilang hal itu penting untuk memastikan ada yang menjamin keselamatanku selama aku mengikuti Jambore dan pulang ke rumah dengan selamat. Yaa…alasan yang masuk akal sih, maka aku berusaha menjelaskan kepada kepala sekolah dan kakak pembina, alhamdulillah beliau berdua memahami dan bersedia datang ke rumah bertemu dengan eyangku.

Mari kita mulai cerita hasil kunjunganku ke tempat yang bersejarah dalam dunia kepramukaan. Di bawah ini foto pintu gerbang Bumi Perkemahan Sibolangit.

Pintu gerbang Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit

Bumi Perkemahan Sibolangit ini berada di ‎kaki Gunung Sibayak, Sibolangit merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Karo. Jarak dari Kota Medan sekitar 75 km, di tempat ini aku pernah berkegiatan selama hampir tiga minggu dalam acara Jambore Nasional ke 2 tahun 1977, tepatnya pada tanggal 1-20 Juli 1977.

Sibolangit terpilih menjadi tempat berlangsungnya acara Pramuka skala nasional ini oleh Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Daerah ini memiliki topografi alam  yang berbukit-bukit, yang memiliki pemandangan alam yang indah dan berhawa sejuk. Yuk kita nikmati foto-fotonya…

Sayang sekali penanda yang berupa patung pramuka ini dan beberapa tempat seperti tidak terawat dan sudah waktunya diperbarui, sehingga mengganggu kenikmatan pandangan.

Ketiga foto bangunan rumah di atas merupakan tempat kegiatan yang dapat disewa untuk menginap pengunjung

Lapangan tempat kami dulu berkegiatan

Oh ya, selain udara yang sejuk dan panorama yang indah, ada lagi daya tarik di bumi perkemahan Sibolangit ini, Air Terjun Dua Warna yang terletak sekitar 3 jam jalan kaki dari  area perkemahan. Menurut informasinya, dua warna air yang mengalir ini disebabkan oleh satu aliran yang mengandung belerang (sulfur) dari Gunung Sibayak dan sumber air di hutan yang berwarna biru muda. Air yang di hasilkan dari air terjun ini unik, selain karena terdapat dua warna pada kolam air terjun, suhu air di tiap warna juga berbeda. Kita akan merasakan suhu dingin bila berada pada air yang berwarna biru dan suhu hangat dapat terasa bila kita berada pada air yang berwarna putih ke abu-abuan. Air di sini mengandung fosfor dan belerang, sehingga pengunjung dilarang minum air dari air terjun dua warna ini. Untuk menikmati aura airnya, kita dapat mendirikan kemah di dekat air terjun.

Air terjun dua warna

Ada cerita mistis di balik keindahan Air Terjun Dua Warna ini, konon katanya di sini menjadi tempat pemandian para bidadari. Wah…seru banget, seperti apa ya cantiknya para bidadari yang mandi di air terjun ini? Gak kebayang deh, hehe…

Di bawah ini foto gunung Sibayak, gunung yang pernah kudaki tahun 1977 ketika aku mengikuti Jambore Nasional di Sibolangit.

Gunung Sibayak yang gagah dan indah

Pendakian tersebut merupakan salah satu kegitatan yang harus diikuti oleh peserta Jambore dan aku menjadi peserta perempuan pertama Jawa Timur yang mendaki karena aku menjadi anggota regu yang mendapat urutan pertama pendakian. Ketika mendaki dalam keadaan hujan, jalan pendakian menjadi licin, aku sempet terpeleset dan ditolong oleh peserta dari negara lain.

Gunung Sibayak ini terletak di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketinggian Gunung mencapai 2.094 meter dpl dan sering menjadi objek pendakian. Gunung Sibayak merupakan gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Secara administratif, hutan alam pegunungan ini masuk dalam kategori Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan.

Nama dari puncak tertinggi Gunung Sibayak adalah “Takal Kuda”, dari bahasa Karo yang berarti “Kepala Kuda”. Waktu acara penjelajahan, di hutan alam aku bersama anggota satu regu sempat tersesat di tengah hutan dan kehilangan jalan menuju kembali ke pos di luar hutan. Kami sempat bingung dan khawatir sekali ketika senja semakin gelap, namun karena sudah terlatih sehingga kami menggunakan media komunikasi dalam bentuk morse (cahaya) untuk memberi tanda pembina tentang keberadaan kami. Alhamdulillah…akhirnya kami bertemu dengan pembina dan kembali ke tenda dengan selamat.

Bagiku, pengalaman selama mengikuti Jambore Nasional sangat berharga dan tidak mungkin terlupakan. Kami berangkat dari Surabaya tidak melalui Lanud Juanda, namun melalui pelabuhan Tanjung Perak dengan menggunakan moda transportasi kapal laut. Perjalanan menuju Sibolangit dengan Kapal Laut dari Tanjung Perak ditempuh selama satu Minggu bersamaan dengan kontingen dari Indonesia Timur dan Kalimantan.  Perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, namun menyenangkan karena selama perjalanan di kapal laut diisi dengan berbagai lomba dan aku sempat menjadi juara baca puisi dan bermain sepak bola kayu.

Selama mengikuti Jambore, aku berusaha mengikuti setiap kegiatan yang diadakan agar dapat meraih bintang penghargaan seperti foto di bawah ini. Oh ya, seragam pramuka yang kupakai di Sibolangit juga masih tersimpan baik lho, sebagai kenang-kenangan dan menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidupku. Fotonya ada di bawah ini. Hehehe….

Seragamku di Jambore Nasional di Sibolangit

Capaianku di Jambore Nasional 77 di Sibolangit

Bulatan warna merah dan hijau yang nempel di lengan baju tersebut ada maknanya, juga simbul dari setiap capaian tersebut. Ketika peserta dapat meraih semua aktifitas maka akan mendapatkan bintang penghargaan.

Bersama teman-teman satu regu

Berikut ini beberapa fotoku di Sibolangit, berada di tanah lapang ini membuat anganku melayang.

Merasakan denyut nadi Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit

Merasakan denyut nadi Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit

Di antara pohon palm dan Gunung Sibayak yang indah

Di antara pohon palm dan Gunung Sibayak yang indah

Bersama Kak Yos yang baik hati hehe…

Menikmati suasana di sini sambil mengenang perjalananku selama ini jadi teringat pesan eyang, “Jalani hidup ini seperti air mengalir, karena semua sudah tertulis di buku kehidupan kita masing-masing. Tetap berusaha sungguh-sungguh dan berdoa untuk setiap niat baik, in shaa Allah jalan akan terbuka dan langkah kita akan sampai pada tujuan yang kita harapkan.” Bersyukur banget akhirnya aku bisa berkunjung kembali ke Sibolangit, menyaksikan keindahan alam negeriku. Tepat sekali jika para sastrawan menyebut keindahan Republik tercinta ini dengan istilah “laksana untaian ratna mutu manikam” Sampai di sini dulu teman-teman, tunggu ceritaku lagi dalam jelajah Nusantara ya…

 

Salam Pramuka..!

 

 

7 Comments to "Bahagianya, Bisa Datang Lagi ke Sibolangit"

  1. Wiwit  4 April, 2018 at 22:42

    Makasih Pak James n Bu Lani hadirnya, dua minggu lalu waktu saya ke Kab. Situbondo ketemu teman satu regu waktu Jmbore di Sibolangit. Serasa jadi muda lagi hehe…

  2. Wiwit  4 April, 2018 at 22:39

    Iya mbak Vina, seneng banget, ikutan Pramuka itu banyak banget manfaatnya.

  3. Wiwit  4 April, 2018 at 22:38

    Makasih Hasan… hayuk kita mendaki gunung SIbayak sama2 hehe…

  4. Lani  31 March, 2018 at 03:16

    Al, James: zaman duluuuuuuuu ktk msh SMP dan SMA ikut pramuka tp tdk pernah ke Jambore tp aktif disekolah krn sering diajak jalan2, juga berbagai macam kegiatan

  5. James  30 March, 2018 at 07:12

    AL, gak pernah gabung juga, kalo ci Lani rupanya gabung Pramuka di Kona sono, kan lambangnya banyak Kepala eh Kelapa deng

  6. Alvina VB  29 March, 2018 at 14:51

    Wah seneng ya mbak Wit…inget Jambore di Sibolangit. Adik2 saya semua ikut pramuka, lupa gak tahu kenapa kok saya gak pernah gabung ya, kayanya procrastination….he…he….
    James dan mbakyu Lani jadul ikutan pramuka gak?

  7. Hasan  29 March, 2018 at 14:17

    Wuih keren banget prestasinya dan jadi kepingin mendaki gunung Sibayak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *