Bila Usia Senja Tiba (5)

Erna Manurung

 

Artikel sebelumnya:

Bila Usia Senja Tiba (1)

Bila Usia Senja Tiba (2)

Bila Usia Senja Tiba (3)

Bila Usia Senja Tiba (4)

 

Lestari mengurungkan niatnya masuk ke ruangan ibu Yani demi dilihatnya siapa yang sedang berada di dalam. Pak Djoko pagi-pagi sudah menghadap pihak yayasan. Ada apa ya? Ia kembali ke ruangannya, tepatnya kantor admin, daerah kekuasaan Astry.

“As, ngapain Pak Djoko masuk ruangan ibu Yani?” tanyanya pada Astry.

“Memangnya nggak boleh? Belum tahu ya, Pak Djoko mau pulang ke Jakarta dulu. Katanya mau menjenguk keluarganya.”

Lestari hanya mengangguk. Ia merenung, baru kemarin ia menyaksikan Pak Djoko sudah mau go public, eh sekarang mau pergi lagi. Mengikuti jejak Pak Situmeang dan Pak Sinuraya. Awalnya ia merasa tidak enak. Apakah Pak Djoko pergi karena merasa tidak enak diperhatikan berlebihan olehnya? Salahkah memberi perhatian, lebih tepatnya kepedulian, kepada orang lain? Yang aku beri perhatian bukan hanya satu orang, lho? protes Lestari. Namun ia ingat begaimana seriusnya ibu Yani soal sikap yang satu ini. Bahwa tidak semua penghuni asrama suka diperhatikan berlebihan.

“Cuma sebentar mbak,” Astry seakan tahu apa yang dipikirkan Lestari.

Meski tinggal di asrama lansia, sebetulnya seluruh keluarga besar Pak Djoko ada di Jakarta. Ketika istrinya meninggal, Pak Djoko memutuskan tinggal secara mandiri karena tidak mau merepotkan keluarga besarnya, apalagi kelima anaknya. Pilihan ini awalnya ditentang oleh banyak pihak, terutama adik-adik perempuannya. Mereka menawarkan agar abangnya tinggal saja bersama mereka.

Toh, anak-anak juga sudah besar dan umumnya mereka semua sudah kembali menjadi ‘pasangan tanpa anak’. Tapi yang tidak diketahui orang adalah kalau tinggal dalam satu rumah besar bersama-sama itu tidak mudah. Banyak hal yang harus disesuaikan dan mereka bukan orang muda yang masih bisa berubah. Pak Djoko tidak bisa membayangkan harus bersinggungan prinsip dan gaya hidup. Ia tetap pada keputusannya.

Rumah pribadinya sengaja ia kosongkan, dan bersama sesama pensiunan lainnya, ia menyewa kamar di asrama lansia di Yogjakarta. Kota ini menjadi pilihan karena keluarga besar istrinya tinggal di sini.

Meski demikian, ia melewati hari tua dengan penuh pergulatan. Ia kini sulit mendapatkan perhatian yang besar dari anak-anaknya. Mereka semua sudah mandiri dan hidup terpisah di kota lain. Lelaki itu sepertinya agak menyesali cara mendidik anak-anaknya yang kelewat mandiri. Sejak kecil, ia mengajarkan mereka jangan terlalu bergantung pada orang lain, dalam hal apapun.

Hasilnya memang terlihat, bahkan kepada orangtuanya pun anak paling besar sampai yang  bungsu tidak lagi menunjukkan ketergantungannya. Ia di sini, di tengah para lansia seusianya juga tetap menjadi pribadi yang tidak ingin bergantung. Lihatlah, ketika dua sobat diskusinya pergi ia tidak sedikitpun menahan agar mereka berdua tetap tinggal. Setidaknya meminta agar mereka sesekali berkunjung ke sini, melanjutkan obrolan sana-sini yang sempat terhenti. Begitu juga ketika ada pegawai baik hati yang memberinya perhatian tulus, ia tepis secara halus. Bukankah itu sikap independen? Ya, independen yang berujung pada rasa sepi karena tidak ada pertukaran rasa dengan orang lain.

***

Sarweni pagi ini tampak sibuk memilai-milah pakaian di koper. Tak ia sadari sejak semenit yang lalu Lestari mengamati tingkahnya dari pintu kamar.

“Sibuk mbak?” tanya Lestari.

Yang ditanya sedikit terkejut, lalu menoleh sambil tersenyum. “Enggak terlalu. Ini lagi siapin pakaian.”

“Mau balik?” Lestari bertanya kembali.

Pertanyaan aneh. Gadis muda di hadapannya baru seminggu berada di asrama lansia ini. Kontrak prakteknya dengan yayasan dua bulan.

“Iya, tapi sebentar mbak. Cuma week end saja. Di kampus ada family day, semua mahasiswa wajib ikut.”

“Wah berarti orangtuamu dari Sulawesi datang dong,” tebak Lestari.

“Ah, tidak. Tidak mbak. Ayah ibu saya sibuk mengajar di sana. Saya hanya sendiri. Sudah biasa kok kalau mahasiswa tidak didampingi orangtuanya di acara ini.”

“Oooh, jadi keluargamu tidak ada yang tinggal di kota ini ya?”

Sarweni mengangguk.

Lestari sudah tahu bahwa keluarga besar Sarweni ada di Sulawesi. Sejak kecil diasuh neneknya yang sudah berusia 70 tahun. Bukan tanpa sebab ayah ibunya tidak membawa serta anak semata wayang itu ke tempat tugas. Selain medan menuju ke tempat mengajar tidak mudah; harus menempuh perjalanan darat berjam-jam, disambung dengan kapal cepat yang jadwalnya hanya sekali seminggu kala itu; juga ada semacam kebiasaan untuk menitipkan anak pada orangtua (nenek). Jadi, kedua orangtua Sarweni akan datang sebulan sekali ke rumah untuk menengok keadaan rumah, yang waktunya hanya beberapa hari saja.

Sarweni punya tante yang belum punya anak. Namanya tante Rine. Beberapa kerabat menawarkan pada si tante untuk mengangkatnya sebagai anak. Tapi tante Rine menolak keras. Bukan tidak mau mengasuh dan merawat anak. Apalagi si nenek sudah tua. Maunya dia, Sarweni kecil diasuh sendiri oleh ayah ibunya, apalagi keduanya bekerja sebagai guru. Tante Rine mempertanyakan tanggung jawab Pak Ridwan dan istrinya dalam mengasuh dan membesarkan anak mereka. Masak pengasuhan anak diserahkan kepada orang lain? Kasihan si nenek, sudah tua masih harus mengurusi anak kecil.

Entah bagaimana ceritanya kemudian, akhirnya Sarweni tetap diasuh neneknya sampai lulus SMA, dan ayah ibu gadis itu tetap bekerja sebagai guru PNS di luar pulau. Tante Rinepun akhirnya tetap pada keadaan semula. Tidak memiliki anak. Atas kemurahan Tuhan, sang nenek dikaruniakan umur panjang hingga 80 tahun lebih dan menyaksikan pertumbuhan Sarweni hingga lulus SMA. Gadis itupun akhirnya menjadi anak nenek, bukan anak ayah ibunya.

Masalah timbul ketika momen kelulusan SMA, Sarweni minta izin untuk ikut camping dan mengisi liburan bersama teman-temannya selama satu minggu. Neneknya memberi izin. Ia mengerti bahwa cucu tersayangnya sudah menjadi gadis dewasa dan akan pergi sementara waktu untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi.

Tetapi lewat dari seminggu, Sarweni belum datang juga.

Sembilan hari …. Sepuluh hari … sebelas hari ….

Cucunya belum muncul-muncul juga. Akhirnya si nenek jatuh sakit karena memikirkan Sarweni. Semakin hari penyakit ibu tua itu semakin parah. Ibu Murniati tetangganya yang memasak dan mencucikan pakaian nenek turut khawatir, manakala kedua orangtua Sarweni belum jadwalnya datang. Apalagi si nenek tidak mau dibawa ke Puskesmas. Untunglah anak lelakinya mau mendatangkan dokter ke rumah si nenek. Dokter merekomendasikan agar si nenek dirawat saja di rumah sakit, tapi ia tidak mau. Ia hanya ingin menunggu cucunya pulang.

Karena sulit membujuk si nenek, akhirnya ibu Murniati bersama beberapa tetangga yang lain, juga atas sepengetahuan Pak RT, bergantian mengurus si nenek. Semakin hari kesehatannya semakin menurun. Tepat di hari ke-12 kepergian cucunya, akhirnya nenek Sarweni berpulang. Pak RT dan para tetangga dekatlah yang mengurus segala sesuatunya termasuk mengirim orang untuk menjemput kedua orangtua Sarweni.

Dua hari usai kematian sang nenek menjadi hari paling sibuk dan menguras emosi bagi keluarga itu. Sarweni akhirnya muncul sehari setelah neneknya meninggal dengan penyesalan yang mendalam. Rasa bersalahnya tidak berkurang sedikitpun meski ayah dan ibunya tidak pernah menuduh ia lalai. Mereka malah menguatkan hatinya agar tabah dan menerima takdir dari Allah. Nenek memang sudah waktunya berpulang. Usianya sudah sangat lanjut.

Tetapi bukan itu yang disesalkan Sarweni. Ia menyesal karena ingkar janji pada neneknya untuk pulang tepat waktu. Ia terlalu asyik menghabiskan waktu bersama teman-temannya, menikmati dunia baru di luar rumahnya. Kalau saja ia tidak digempur firasat buruk saat asyik berenang di laut, mungkin ia akan meneruskan liburannya sampai puas.

Tapi kini orang yang telah merawatnya sejak kecil sudah pergi. Ia merasa tidak punya orangtua lagi. Ayah ibunya bukanlah orangtuanya. Sebaik apapun perlakuan mereka, Sarweni tidak merasakan kehangatan seperti yang ia dapatkan dari neneknya.

Entah kebetulan atau memang sudah diatur, kedua orangtua Sarweni akhirnya dipindahtugaskan di kota asal mereka dimana mereka sekarang tinggal. Hari-hari setelah sang nenek pergi, kehidupan Sarweni hanya dilalui bersama ayah dan ibunya. Ia batal kuliah dan memilih bekerja.

Nasib baik berpihak padanya. Tidak lama setelah masa berkabung, Sarweni ditawari bekerja di panti wreda tidak jauh dari rumahnya. Kata orang panti, ia diminta bekerja di bagian administrasi. Tapi sesekali membantu bagian dapur dan mengurus kebersihan rumah. Tak mengapalah, pikir Sarweni. Yang penting aku sibuk.

Sarweni bekerja dengan senang hati. Di kantor ini ada asrama besar berisi orang-orang yang sudah tua. Malah ada yang setua neneknya. Ketika melihat mereka berjalan tertatih-tatih dan begitu bergantung pada orang-orang di sekitarnya, Sarweni tergerak untuk menjadi perawat bagi mereka.

Kepala panti mengizinkan, asalkan Sarweni bersedia mengikuti pelatihan. Namun sampai 6 bulan berganti tugas, ia tidak sekalipun dipanggil untuk mengikti pelatihan. Sarweni mengerjakan tugas-tugasnya secara otodidak saja. Mengikuti naluri. Toh seumur hidupnya, ia hidup bersama seorang nenek.

Tetapi Sarweni hanya dua tahun saja bekerja di sana sebagai tenaga honorer.

“Saya kehilangan kestabilan mbak,” Sarweni kembali bercerita.

“Kenapa? Kamu tidak betah bekerja di situ?” tanya Lestari. Ia dan Sarweni masih duduk-duduk di kamar itu.

“Bukan, saya senang melayani orang-orang tua. Tapi saya tidak tahan setiap kali mendengar kakek dan nenek di sana mengeluh karena keluaganya tidak ada yang menjenguk. Panti itu milik pemerintah. Fasilitas dan tenaganya saagat terbatas. Maklumlah, karena biayanya juga murah. Malah banyak lansia yang ditanggung sepenuhnya oleh panti. Tapi jadinya, yaaa dilayani seadanya.”

Sarweni melanjutkan cerita …

“Saya sering tidak tahan kalau melihat ada nenek yang tidak bisa membersihkan kotorannya, lalu tidak ada orang yang membantu. Sering saya saksikan, orang-orang tua itu keluar dalam keadaan bau semerbak dan diomeli oleh teman-temanya. Ada juga yang sepanjang hari terbaring di tempat tidur dan menunggu berjam-jam untuk dibersihkan. “

Lestari dengan sabar menyimak …

“Saya memang lelah karena kurang istirahat. Tapi lebih menyakitkan kalau ada nenek-nenek jompo yang sudah tidak bisa mengurus dirinya sendiri, diabaikan keluarga, plus tidak punya uang sama sekali untuk membayar fasilitas panti.

“Lima bulan sebelum saya keluar, hampir setiap hari saya menunggui orang-orang yang meninggal karena sakit. Kebanyakan mereka itu tidak pernah dijenguk keluarganya. Syukurlah kepala panti di sana peka dengan kesedihan yang dialami para penghuni. Setiap kali ada yang meninggal, besoknya kami berkumpul dan mengadakan acara khusus. Maksudnya, mau menghibur orang-orangtua yang kehilangan sahabat-sahabat mereka. Tapi kadang itupun menimbulkan rasa takut pada beberapa orangtua. Setiap kali ada yang meninggal, mereka menangis karena takut bahwa esok hari giliran mereka yang pergi.”

“Saya tidak tahan. Ibu saya juga khawatir dengan keadaan saya. Ia minta saya keluar dan segera kuliah lalu bekerja sebaai guru seperti mereka. Tapi saya tidak pernah ingin menjadi guru. Saya tetap ingin menjadi perawat. Tapi jangan menjadi perawat yang cengeng. Saya ingin menjadi perawat yang kuat dan tegar.”

Lestari terharu mendengar kerinduan gadis ini. Rasa-rasanya, setiap profesi memiliki kerapuhannya sendiri. Yang akan membawa kita pada kepedihan dan keterhilangan.

***

Sarweni kemudian bertemu teman masa kecilnya yang liburan ke Sulawesi. Namanya Endah. Endah kuliah di Yogjakarta, mengambil sekolah keperawatan. Sarweni tertarik kuliah di tempat yang sama karena kampus itu menyediakan beasiswa bagi calon mahasiswa yang nilai akademiknya tinggi, sehat, dan punya jiwa melayani.

“Kamu coba saja ikut tes di Makasar. Siapa tahu lolos. Nilai raportmu kan tinggi?” usul Endah.

Makassar adalah kota yang ditetapkan sebagai lokasi ujian bagi calon mahasiswa yang berdomisili di Indonesia Timur.

Setelah diizinkan oleh kedua orangtuanya, Sarweni mengikuti saran Endah. Mengikuti tes di Makassar untuk mendapat beasiswa. Keberuntungan berpihak padanya. Sarweni lolos tes dan mendapatkan beasiswa 75 persen selama kuliah 8 semester. Memasuki tahun ajaran baru, ia diantar ayahnya ke Jogja untuk memulai kuliah di kota pelajar ini.

Ini adalah tahun ke-3 bagi Sarweni. Sesuai kurikulum, ia diwajibkan mengikuti kerja praktek di salah satu panti lansia selama 2 bulan.

“Kamu senang ya kuliah di keperawatan?” tanya Lestari lagi.

“Hmmm, iya, suka mbak. Pada dasarnya saya suka melayani orang. Apalagi orang yang sudah tua,” jawab gadis itu dengan jujur.

“Tapi saya sedih dengan banyaknya panti lansia yang kurang diurus dengan baik. Terutama yang dihuni orang-orang tua tidak mampu, yang tidak punya tunjangan pensiun, dan yang dibuang keluarganya karena tidak sanggup merawat orangtua mereka. Lagipula, kenapa banyak orang yang tidak mempersiapkan diri ketika memasuki hari tua ya, mbak?”

(bersambung)

 

 

2 Comments to "Bila Usia Senja Tiba (5)"

  1. Erna  31 March, 2018 at 06:26

    Betul pak James …
    Wah, sy br ingat blm meneruskan cerbung ini ya

  2. James  30 March, 2018 at 07:14

    Bila usia senja tiba maka semakin banyak penyakit berdatangan saling bergantian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *