Tradisi Ganti Nama

Mbilung Sarawita

 

Dulu, di banyak daerah di Jawa Tengah, ada tradisi ganti nama setelah menikah. Ada yang ganti total, misalnya:
Marsudi, menjadi Kromosentono; Poniran, menjadi Atmo Widodo.

Ada yang cuma tambah kata, misalnya: Paimin, menjadi Karyo Paimin: Ngadino, menjadi Harjo Ngadino.

Proses penggantian nama tentu dengan upacara sakral, walaupun “kecil-kecilan” (bagi yang ekonominya lemah). Paling sedikit ya bikin “jenang abang”, mengundang tetangga sekitar, makan klubanan secara “kembulan”. Di acara itulah pergantian nama diumumkan, tentu dilambari doa-doa menurut keyakinan mayoritas warga setempat.

Tradisi ini memiliki nilai luhur. Dengan berganti nama, memiliki “nama tua”, yang bersangkutan harus mulai menempatkan-diri sebagai orang tua. Perilakunya harus berubah, dari perilaku “muda” menjadi perilaku “tua”. Mereka harus mulai bisa menjadi panutan bagi anak-anak muda. Kalau ada kegiatan rembug-dusun, mulai diajak / diundang / dilibatkan sebagai penyumbang pikiran.

Mungkin usia biologisnya masih muda. Jaman dulu lumrah laki-laki menikah di usia 17 tahun, apalagi kaum petani di desa-desa. Tapi sama-sama usia 17 tahun, petani desa jaman dulu “jiwanya jauh lebih tua” daripada pelajar kota jaman sekarang. Sejak kecil mereka sudah terlatih mengerjakan sawah-ladang, mencari rumput untuk ternak, mencari kayu untuk memasak, memandikan kerbau dan sapi, sampai membaktikan-diri dalam berbagai kegiatan lingkungan. Jadi, walau usia biologis masih muda, setelah menikah dan berganti nama, mereka bisa segera menyesuaikan-diri “menjadi tua”.

“Menjadi tua” artinya meninggalkan “perilaku muda”. Tidak lagi sering dolan-dolan, gelutan (berkelahi fisik), grusa-grusu, nongkrong-nongkrong di mulut gang, apalagi melakukan kegiatan yang mengganggu kamtibmas. Uniknya, rata-rata pelaku ganti nama bisa segera berubah menjadi demikian. Apakah itu faktor “sugesti”, mungkin saja. Uniknya lagi, sikap tetangga sekitar juga mendukung. Bahkan mantan teman bermainpun (yang usianya sebaya tapi belum menikah) segera bisa menyesuaikan-diri, memanggil “Pak”, dan tidak lagi berani “nranyak”.

Sayang sekali, tradisi luhur ini “tidak direspon positif” oleh sistem administrasi kependudukan moderen. Sekarang, untuk ganti nama harus menempuh proses pengadilan dan sederet prosedur administratif. Untuk orang berekonomi lemah, proses ganti nama dianggap mahal. Orang jaman sekarang juga cenderung ogah repot “urusan gitu-gitu”. Maka, lambat laun tradisi luhur inipun punah “dimakan jaman” …  :'(

Saya membayangkan andaikata di KTP ada kolom “alias”, mungkin tradisi ini bisa direvitalisasi, dihidupkan kembali. Jaman sekarang banyak pengantin-baru yang masih suka kebut-kebutan, pakai knalpot bobokan, mabuk-mabukan, nongkrong-nongkrong mengganggu kamtibmas. Andaikata di KTP ada kolom “alias”, mungkin tradisi itu bisa hidup kembali, bermanfaat “sugestif” agar para pengantin-baru yang “urakan” segera mengubah perilaku menjadi “tua”, menjadi bijak.

 

mBilung Sarawita, 22 Maret 2018, 20:36 WIB  ;)

=== Terima kasih Om Setiya Heru yang statusnya menginspirasi untuk menulis status ini, sekaligus menerbangkan ingatan ke tahun 1988, saat KKN di suatu desa di lereng Gunung Lawu, yang masyarakatnya saat itu masih melestarikan tradisi ganti nama setelah menikah…

 

 

6 Comments to "Tradisi Ganti Nama"

  1. Swan Liong Be  31 March, 2018 at 18:27

    Untung aku gak ganti nama, kalo ganti juga gak tau pake nama apa, mungkin Harjokepekso?? Sayang nama keturunan hilang samasekali , ibu waktu pindah keCanada kembali pake nama aslinya. Aku kira yang sudah ganti nama males ganti lagi berhubung prosedurnya sangat complicated dan ujung²nya duit lagi!

  2. Lani  31 March, 2018 at 03:19

    Al, James: Ganti nama? Hanya sekali itu saja dipaksa dan terpaksa pas zaman mbah Harto, nama Chinese di transfer ke nama Indonesia. Dan setelah itu tdk pernah gonta ganti lagi.

    Malah dpt untung ktk pindah ke Hawaii namaku sdh nama Hawaii jd disyukuri saja……….

    Nama pendek saja buat orang bule susah dilidah, jd disingkat saja spt yg aku gunakan disini kkkkkkkkk

  3. James  30 March, 2018 at 07:16

    AL, ho…oh itu sih pastinya, mbvak Lani rupanya tertahan di Imigrasi Soetta kali yah ?

  4. Alvina VB  29 March, 2018 at 14:53

    James bukan gitu, uang pelicinnya kurang, ha…ha……

  5. James  29 March, 2018 at 10:53

    kantor Imigrasi saja kalau kita menggunakan nama sesingkat sependek mungkin juga masih tetap ada Kesalahan mencetaknya, mood petugasnya gak stabil dalam pekerjaan dan tugasnya, itu bukan sedikit tapi sering sekali dengan kesalahan yang sama

  6. Sumonggo  28 March, 2018 at 09:37

    Kalau di Jawa ada istilah “kabotan jeneng”.
    Jaman sekarang nama yang trend seperti Keysha, Raysha, dan semacamnya.
    Tapi yang terpenting membuat nama jangan terlalu panjang, sukar ditulis, dan ambigu, dengan harapan kala si anak memperoleh ijazah atau membuat paspor tidak kesulitan karena salah tulis.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.