Brasil é assim, Indonesia é assim

Dewi Aichi – Brazil

 

Tau kan kalau sudah bersangkutan dengan kartu kredit yang pembayarannya telat, wah-wah urusannya bisa panjang. Debt collector bisa hadir sebagai teror dalam kehidupan sehari-hari. Pemegang kartu kredit bisa stress tiap saat ditilpon. Masih mending kalau tanpa ancaman, kalau sudah ancaman mental dan fisik?

Debt Collector itu pihak yang dikasih wewenang oleh bank yang mengeluarkan kartu kredit untuk menagih pemegang kartu kredit yang telat mbayar. Sebenarnya aturannya tidak seperti itu. Kalau telat, berarti pihak pemegang kartu kredit masih akan membayar cicilan.

Kalau menurut aturan, debt collector itu menagih kredit yang macet. Tidak membayar cicilan dalam jangka waktu yang lama dan pemilik kartu tidak memberikan informasi kapan akan melunasi.

Makanya pemegang kartu kredit juga harusnya mengetahui peraturan yang ada. Pihak bank yang mengeluarkan kartu kredit juga harus memberikan wewenang kepada debt collector yang jelas identitasnya , bukan sebagai teroris. Bagaimanapun juga memanusiakan manusia itu penting dalam segala urusan.

Debt collector yang tidak jelas identitasnya jangan dilayani, tapi dilaporkan ke bank penerbit.Jika mendapatkan ancaman dari debt collector, hadapi dengan tenang, dan ingatkan agar mereka tidak melanggar etika dalam menagih.Catat semua apa yang terjadi, catat identitasnya si debt collector.

Sebaliknya juga, apabila ada debt collector yang menagih dengan cara yang baik dan profesional, maka jangan segan kita apresiasi juga. Dan jaga komunikasi tetap baik, karena dengan demikian, kepercayaan untuk masing-masing tetap terjaga.

Kalau di Brasil, apabila terjadi kredit macet, paling ditilpon oleh pihak debt collector. Sebatas di tilpon saja. Biasanya mereka akan adakan negosiasi untuk meringankan pihak yang membayar utang. Pihak bank juga akan mengirimkan semacam surat yang menawarkan solusi, perincian utang, dan pilihan untuk membayar utang disesuaikan dengan kemampuan si pemilik utang.

Tidak ada ancaman atau bahkan sampai didatangi rumahnya. Tidak ada. Ada juga beberapa cara yang dilakukan oleh debt collector melakukan pendekatan kepada masyarakat yang pembayaran kartu kreditnya macet, sehingga beranak pinak hingga kadang nilainya bisa seharga rumah. Padahal jumlah awal mungkin hanya pembelian sabun, minyak, atau hal remeh temeh lainnya.Tapi karena tidak bisa membayar cicilan, maka jumlahnya membengkak.

Caranya misalnya, mengadakan pelayanan di tempat umum, di mall, atau di stasiun, menawarkan solusi untuk mereka, bernegosiasi sampai mencapai kata sepakat dari kedua belah pihak, sehingga sama-sama tidak rugi. Sebaliknya, masyarakat bisa membayar utangnya sesuai kemampuan, dana mengalir lagi ke pihak pemberi utang.

Sekali lagi, tidak pernah ada ancaman fisik maupun mental. Paling buruk yang terjadi bagi mereka yang mengabaikan kredit macet adalah black list atau disebut dengan “nome sujo”, bagi mereka yang tidak membayar, tidak akan ditagih-tagih lagi oleh pihak bank, tetapi mereka akan kesulitan misalnya: membeli properti, mobil, etc…..bahkan untuk melamar pekerjaan juga tidak bisa jika namanya sudah tercatat.

Untuk urusan melamar pekerjaan, pihak yang akan meperkerjakan sudah pasti punya infonya. solusinya juga sangat mudah, bernegosiasi dengan pihak bank, bisa dicicil utangnya. Begitu melakukan angsuran pertama kali, namanya bisa dibersihkan.

Gampang ya? Sangat manusiawi caranya.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

3 Comments to "Brasil é assim, Indonesia é assim"

  1. Sumonggo  5 April, 2018 at 10:57

    Brasil é assim
    Indonesia é assim
    Jawa Asyem tenan ….. makanya ojo kakean ngutang …… kecuali kutang-e bojone dhewe ….

  2. Lani  5 April, 2018 at 01:27

    DA: Mungkin hanya di Indonesia ada debt collector yg galak-serem spt dikatakan oleh James. Klu di America sama dgn di Brazil di telpon bisa negosiasi sama Bank utk mengangsur atau mungkin jalan lain aku belum pernah ngemplang utang jd ora ngerti, ora mudeng.

    Kalau tetap ora bayar akan masuk didlm history dunia per-kreditan dan menyulitkan diri sendiri klu ingin pinjam/loan duit ke bank apapun dimanapun

    Menurutku nasehat paling jozzzzzzzzz…….klu utang ya bayar, dan utk aku pribadi tdk suka bayar minimum dr total utang krn akan terbebani dgn bunga dan berbunga

    Jadi tiap bulan aku lunasi 100%, krn credit history bagus dan credit score ku sll tinggi 800 banyak Bank yg mengontak utk memberikan pinjaman dgn bunga sgt rendah/ringan tapi aku emoh buat apa utang klu tdk perlu utang????

    Menurutku hal itu spt menggali liang kuburan sendiri, stress, ora iso turu nyenyak krn terbeban utang………..wis pokok-e ora

  3. James  4 April, 2018 at 09:20

    yang paling baik adalah Tidak Memiliki Kartu Kredit , kalau di Indonesia Debt Collector nya galak dan petantang petenteng dikarenakan Debt Collector adalah Preman Jalanan yang diperkerjakan oleh pihak Bank asal Kartu Kredit itu, supaya kelihatan Serem menakutkan bisa sampai Menggorok Leher gitu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.