Surat Terbuka untuk Sukmawati Soekarnoputri

Asrida Ulinnuha

 

Ibu Sukmawati yang baik dan sangat cantik, ada begitu banyak teori dan teknik untuk membuat puisi. Rasa dan diksi atau pemilihan kata menjadi unsur yang begitu penting dalam semua teori yang tersedia.

Fyi, saya ini cenderung lucu dan lambat dalam hal marah. Tapi bukan berarti tidak bisa mengungkapkan ketidaksukaan saya. Saya tidak suka orang rasis. Catat itu baik-baik.

Saya kira, apa yang ibu ungkapkan itu menunjukan kedalaman rasa ibu, namun sekaligus menunjukan kurang dalamnya pemahaman teologikal ibu. Ini tidak hendak gugat menggugat keimanan, tolong dipahami.

Sebagai informasi, dentuman lonceng di gereja Katedral juga tak kalah bikin jantungan dari suara adzan yang terkadang muazinnya orang catutan yang baru belajar apa itu shalat. Keduanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan suara hembusan angin atau apalah suara alam.

Atau mau membandingkan kerudung-kerudung dengan yang tidak berkerudung? Wah kalimat ibu ngga cocok blass. Itu menyinggung baik yang kerudungan, bahkan yang tidak kerudungan. Ya…lain waktu saya bisa bantu bikinkan puisi yang memuja keanggunan perempuan Indonesia tanpa harus menyinggung penganut agama atau kepercayaan apapun. Jangan sungkan kontak saya.

Saran saya:

1. Ibu diam selamanya, membiarkan waktu melibas ingatan orang tentang perkataan ibu yang rasis dan sarkastik.

2. Ajukan permintaan maaf secara terbuka, lalu sudah tidak perlu menambahi alasan atau perkataan apapun daripada jadi semakin salah.

3. Lain kali kalau merasa gemas atau heran dengan kondisi keberagamaan orang lain, bila tidak bisa berkata baik, alangkah elok kalau ibu hanya sebatas ‘ngrasani’ dengan tetangga sebelah atau diam sekalian. Bukan berkata yang tidak menyenangkan di forum besar atau di depan wartawan. Bahaya, bu.

Tulisan ini sudah saya tunjukkan pada personil dari Ibu Anne Avantie, karena puisi ibu Sukma dibacakan dalam acara Ibu Anne Avantie. Saya mengenal ibu Anne sebagai orang baik, tolonglah jangan merusak itu.

 

[Ulin] April 2018

 

 

16 Comments to "Surat Terbuka untuk Sukmawati Soekarnoputri"

  1. djasMerahputih  9 April, 2018 at 21:37

    Tji Lani:
    Dan yg paling utama masih kenthir anjriiiiiiiiit………kkkk sama tdk berubah spt yg di Kona
    ————–
    KENTHIR bersatu tak terkalahkan..!!

  2. djasMerahputih  9 April, 2018 at 11:02

    (((PLEASE SPEAK UP!!! STAND UP BEFORE IT’S TOO LATE!!!)))

    Negara hancur bukan karena bejatnya para penjahat, tapi oleh diamnya orang2 baik.

    Alm Harry Roesli pernah diminta diam dengan iming2 Milliaran Rupiah. Berapa banyak yg bisa tetap bertahan spt beliau..??

  3. Alvina VB  8 April, 2018 at 15:09

    Mbakyu Lani, se7777, sebetulnya….yg sebagian besar yg masih anut grubyug itu, yg gampang diprovokasi adl minoritas tadinya….ttp mereka ditunggangin para poliTIKUS, jadi semakin menjadi. Org yg punya pikiran spt Djas buanyak ttp pada diemmmm wae…. For the good ones: PLEASE SPEAK UP!!! STAND UP BEFORE IT’S TOO LATE!!!

  4. Lani  8 April, 2018 at 01:15

    AL: Tidak heran bin kaget mmg begitulah situasi dan kondisi di tanah kelahiran ini kalau ada kata2 yg menyinggung Islam semuanya jd berdiri rambutnya……….

    Tidak semuanya (orang Islam) begitu tapi sgt disayangkan sebagian besar masih anut grubyug, gampang diprovokasi spt api disiram bensin jd semakin berkobar apalagi menjelang pilkada dan Pemilu semakin melebar, meluas semakin ngawur……….

  5. Lani  8 April, 2018 at 01:10

    DJAS: Seperti Al senang akhirnya dirimu mencungul disini lagi, aku kira ngilang nggeblas kemana dikau?

    Dan yg paling utama masih kenthir anjriiiiiiiiit………kkkk sama tdk berubah spt yg di Kona

  6. djasMerahputih  7 April, 2018 at 08:07

    Thanks mba Avi,
    Masih di Makassar. Tapi lagi ada tugas ke Merauke..

    Soal kegaduhan di medsos, Biasalah.. Efek pilkada dan menjelang pilpres. Hari2 kedepan akan semakin panas.

    Tugas untuk menjaga kewarasan semakin berat..

    Salam Kenthir dari Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *