Makan Panas Jam 18:00 TENG!

Audry Djayasupena – Belanda

 

Ketika kali pertama menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, senangnya minta ampun. Aku tidak percaya sudah mendarat di Eropa. Ini adalah untuk pertama kalinya aku terbang ke luar negri di tahun 1990-an.

Sepanjang perjalanan dari Schiphol menuju kota Groningen, aku sempat terheran-heran melihat dari kaca jendela mobil, betapa sunyinya jalan tol yang aku lalui.

Pemandangan itu kontras dengan yang biasa aku lihat di Indonesia. Aku nyaris nggak melihat apa-apa selain pohon dan ladang para petani. Tidak ada satu pun orang yang aku temui. . Suasananya sepi dan sunyi, selain mobil yang berseliweran dengan kecepatan tinggi. Apalagi yang namanya warteg di sepanjang jalan raya nggak ada sama sekali. Hahaha…

Aku datang ke Belanda pada akhir April. Ketika itu iklim memasuki musim semi. Udara cukup cerah dan panas untuk ukuran orang Belanda. Tetapi tidak untuk aku yang terbiasa dengan suhu panas Jakarta. Karena sudah memasuki musim semi, banyak orang Belanda mengenakan celana pendek dan t-shirt. Sementara aku masih menggigil kedinginan walaupun tubuhku sudah dibalut jas winter kepunyaan calon mertuaku. Bagi mereka ketika itu udara cukup panas, tapi buatku tetap terasa dingin menggigit.

Calon suami dan mertua mengajakku berjalan-jalan melihat kota Groningen. Mungkin buat orang Belanda agak heran melihat aku masih menggigil walaupun sudah mengenakan jas winter. Sementara calon mertua dan suamiku memakai baju summer. Aku cuek ajah. Abis aku memang merasa kedinginan sih. Kalau tidak salah cuaca saat itu masih dibawah 20 derajat celcius. Sedangkan aku terbiasa dengan suhu udara panas diatas 38 derajat celcius.

Ketika itu pula aku baru mengetahui kalau toko-toko di Belanda setiap hari Senin buka mulai pukul 13. 00 siang. Sedangkan hari lainnya buka sejak pukul 09. 00 pagi hingga 18. 00 sore. Kecuali hari Kamis toko buka sampai pukul 21. 00. Untuk hari Sabtu, toko buka sampai pukul 17. 00 sore. Setelah semua toko tutup, suasana menjadi benar-benar sepi seperti kota mati. Terlebih pada pukul jam 18. 00, suasana di luar semakin sunyi. Maklum pada jam-jam itu adalah waktu makan orang Belanda, sehingga semua orang lebih suka berada di dalam rumah untuk makan malam.

Pertama kali tinggal di Belanda, aku sempat merasa bingung dan kelaparan, sampai-sampai sakit maag ku muncul. Sebagai orang Indonesia, aku terbiasa makan tiga kali sehari. Ternyata di Belanda makan panas cuma satu kali. Yaitu makan malam jam 18. 00 TENG!

Aku tadinya nggak tahu kalau cuma makan panas satu kali saja. Karena waktu aku datang ke Belanda tinggal dengan calon mertua. Aku malu dan nggak berani bertanya kapan dan jam berapa makan siangnya. Jadi aku menahan perut yang sudah bunyi kriuk. . . kriuk. . . . Jadilah aku merasa lapar setiap hari. . Ha ha ha. . .

Bangun tidur aku sarapan roti. Siangnya aku makan roti lagi. Karena belum mengerti, aku makan roti cuma selembar ajah. Tadinya aku pikir roti cuma makanan selingan. Dan bakal ada makan nasi lagi. Aku bertanya-tanya dalam hati, kok nggak makan-makan nih. Dalam batin aku bertanya, kapan makan siangnya? Tahu-tahu makan panasnya (makan nasi dan lauk-pauk disebut makan panas di Belanda) setiap sore pukul 18. 00, TENG! Semua berkumpul di meja makan untuk makan malam.

Lama kelamaan aku mulai mengerti kalau mereka makan panas hanya satu kali di malam hari, yaitu setiap jam 18. 00 TENG! Mereka semua makan malam dengan nasi dan lauk pauk serta sayuran. Kadang makan kentang ala Belanda. Yah sudah akhirnya aku tahu makan panas hanya satu kali.

Setelah itu barulah pada makan pagi dan siang, makan rotinya aku banyakin. Aku nggak pernah lagi hanya mengambil selembar roti. Aku mengambil tiga atau empat lembar roti setiap pagi dan siang. . Hahaha…Baru deh, perutku kenyang nggak kelaparan lagi.

Kadang kalau siang cuma makan bakmisoep (Indomie di Belanda disebut bakmisoep), di tambah makan buah-buahan. Sayangnya sejak kecil aku tidak suka buah-buahan. Waktu di Indonesia aku memang kurang suka makan buah dan sayur. Tetapi di Belanda ternyata mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran teramat penting, bahkan di makan setiap hari. Demikian halnya dengan susu. Susu dan sap (orange jus atau appel jus) adalah minuman wajib.

Selain makan panas hanya satu kali, ternyata orang Belanda belanja juga hanya satu kali seminggu. Mereka melenggang berbelanja keperluan satu minggu ke supermarket pada setiap hari Sabtu. Terkadang mereka juga membeli keperluan hidup untuk satu bulan. Jadi setiap hari Sabtu supermarket benar-benar sibuk dan ramai sampai antri bukan main di kassa. Aku paling sebel kalau ikut belanja hari Sabtu, karena aku harus membantu membereskan belanjaan mulai menaikkan hingga menurunkan belanjaan dari mobil.

Apalagi tempat parkir mobil dengan rumah lumayan jauh jaraknya. Karena rumah calon mertuaku di dalam bukan di jalan raya. Buat aku tentu tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Oleh karena itu aku merasakannya sangat merepotkan. Terlebih selama berada di Indonesia, aku selalu dibantu oleh pembantu.

Walau hari Sabtu sudah belanja kebutuhan pokok, tapi ada kalanya hari biasa pun mampir ke supermarket untuk beli sesuatu kalau ada yang terlupa. Atau kalau ada kekurangan seperti sayuran atau buah-buahan yang tiba-tiba habis tidak sesuai dengan kebutuhan satu minggu.

Lantas bagaimana pengalaman di saat weekend? Masa weekend di Belanda teramat sunyi. Untuk menghibur diriku, di saat weekend calon suami dan mertuaku suka mengajak pergi ke pasar loak di rommelmarkt. Pasar ini hanya buka setiap hari Minggu.

Untuk masuk ke rommelmarkt, kita harus membeli karcis. rommelmarktt biasa ada di sebuah bangunan yang disewakan. Aku sempat geleng-geleng kepala, karena setiap diajak pergi di akhir pekan, satu keluarga kita pergi ke rommelmarkt.

Bisa dibayangkan kan. Aku besar di Jakarta dengan banyak tempat hiburan, mana aku pernah pergi ke pasar loak. Lagipula ngapain beli barang loakan. Iya, kan?

Tetapi di Belanda beda banget. Mereka suka keluar masuk dan muter-muter di rommelmarkt mencari barang bekas dan barang antik. Dan itu dianggap sebagai suatu hiburan di weekend. Malah kadang nggak ada satu barang pun yang dibeli. Kita Cuma muter-muter dan lihat-lihat saja, sampai kakiku capek banget muterin dan mandangin barang bekas.

Buat pecinta barang bekas malah kadang bisa menemukan barang antik. Tetapi buat aku bener-bener tidak menarik masuk ke rommelmarkt. Yang ada mataku pusing melihat banyaknya orang yang berlalulalang di dalam rommelmarkt. Malah saking ramainya rommelmarkt sampai susah untuk mendapatkan tempat parkir.

rommelmarkt kadang tempatnya ganti-ganti. Ada juga tempat rommelmarkt yang buka setiap weekend seperti di Elde pada waktu itu di tahun 90-an. Nggak tahu deh, sekarang masih ada nggak romelmark di Elde. Aku sendiri sejak pindah dari Groningen nggak pernah lagi ke Elde.

Pokok hampir setiap kota di Belanda pasti ada tempat rommelmarktnya. Kita juga sebagai penduduk Belanda kalau punya barang bekas bisa juga sewa tempat buat jual barang-barang bekas di rommelmarkt. Atau di saat ulang tahun Ratu Belanda yang sekarang sudah berganti Raja untuk pertama kalinya dalam sejarah Belanda, kita juga bisa menjual barang-barang bekas untuk memeriahkan ulang tahun Raja dan biasanya pasti laku lho. Apalagi kalau jual makanan seperti sate atau lumpia dijamin laris manis tanjung kimpul deh.

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Makan Panas Jam 18:00 TENG!"

  1. Lani  14 April, 2018 at 04:39

    James: Setuju di LN mmg lebih sepi klu dibandingkan di Indonesia dimana-mana banyak orang kemruyuk tumpleg bleg………..hahaha

  2. James  12 April, 2018 at 17:21

    di LN memang begitu karena populasinya rendah jadi terlihat sepi sedangkan di Indonesia itu kan padat penduduknya ? maka di Indonesia gak ada waktu yang sepi jadi rame terus 24 jam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.