Memahami Rocky Gerung dan Beberapa tentang Rocky yang Bukan Fiksi

Juwandi Ahmad

 

~Tuhan, malaikat, setan, dosa, pahala, kehidupan sesudah mati, siksa kubur, surga, neraka itu fiksi, yang menuntun manusia untuk berpikir lebih imajinatif, memotivasi untuk berperilaku tertentu. Juga Iblis, Adam, Hawa, dan kejatuhannya di muka bumi. Semua itu ada dalam Quran, ada dalam diri individu secara subjektif, tapi tidak dapat diuji oleh realitas. Dengan begitu, jelas bahwa Quran mengandung fiksi, yakni ide-ide, gagasan, konsep-konsep, kisah-kisah yang menuntun manusia untuk berpikir lebih imajinatif, mencapi tujuan, atau membimbing perilaku menuju diri yang lengkap, utuh, sempurna. Dalam ranah psikologi kepribadian itu disebut sebagai fictional finalism, yang menjembatani dorongan akan kesempurnaan (perfection). Maknanya, to complete or to finish, menjadi diri yang utuh, penuh, yang unggul, yang semestinya, yang ideal. Dan rumusan tentang yang ideal itu secara sempurna dikembangkan oleh manusia melalui konsepsi tentang Tuhan dan atau agama. Jadi tak perlu heran bila agama terus bertahan, menyesaki nalar batin mereka yang dianggap paling bodoh sampai paling pintar. Tak ada gagasan yang begitu ramah untuk semua otak dan hati, kecuali agama~

~Seperti realitas yang juga dicipta, direka, fiksi juga dicipta, direka secara imajinatif. Dalam hal ini, suka-sukalah Tuhan ingin membuat fiksi seperti apa. Tapi fiksi tidak dapat disebut sebagai kebohongan. Itulah mengapa kita menikmati Lord of the Ring bukan sebagai kebohongan, melainkan fiksi. Ia hanya tidak dapat diuji, dan atau tak ditemukan dalam realitas. Maka, lawan dari fiksi adalah realitas~

~Justru karena tak dapat diuji, ditemukan dalam realitas itulah, penafsiran lahir, dan terutama imajinasi bertumbuh. Bila Kitab Suci berisi hanya fakta yang teruji, yang dapat dicapai dalam dunia nyata, maka orang tak akan berpikir, tak akan berimajinasi tentang yang nanti, yang kemudian, yang paling sempurna, yang paling puncak. Dari sisi itu, fiksi bukan hanya baik, tapi juga penting, mendasar bagi Kitab Suci. Kitab suci tanpa fiksi adalah kemustahilan~

~Jadi bila dikatakan bahwa Kitab suci itu fiksi, atau katakanlah mengandung fiksi maka barangkali itulah yang dimaksudkan oleh Rocky Gerung. Dan tentu saja, menurut saya, sama sekali bukan penistaan~

Bahwa kitab suci, atau lebih tepatnya sebagian isi kitab suci mengandung fiksi, saya kira sudah jelas. Apapun motifnya, yang dikatakan Rocky bukan penistaan. Boleh tidak setuju. Dan tidak setuju, menurut saya, sudah cukup. Tapi memperkarakannya itu berlebihan. Sekarang mari kita cermati beberapa hal tentang Rocky yang bukan fiksi. Ini mungkin menyakitkan, silahkan tidak setuju, dan pastinya saya tidak mau berdebat.

Pertama, jabaran Rocky yang membuat kening pemirsa ILC berkerut sejatinya sangat sederhana. Intinya Rocky hendak mengatakan “Hai kalian, yang mengolok-olok pernyataan Prabowo yang berbasis fiksi, sadar tidak kalian, kitab suci itu juga fiksi, dan kalian percaya, mengapresiasinya.” Ini tentang Prabowo, bukan agama, sastra, dan apalagi filsafat.

Kedua, yang sibuk memprotes peryataan Rocky itu umumnya Jokower dan Ahoker, bukan Prabower dan Anieser. Sebab orang tahu, Rocky adalah pengkritik dan penyinyir Jokowi. Protesnya lebih karena unsur balas dendam atas kasus Ahok dan Sukma ketimbang soal ke-fiksi-an kitab suci. Sejak kapan Jokower dan Ahoker sensitif soal agama? Jadi, ada semacam sikap mendadak ukhti dan akhi.

Ketiga, menarik bahwa Prabower dan Anieser, termasuk alumni 212 sejauh ini anteng, kalem-kalem saja menanggapi pernyataan Rocky soal kitab suci adalah fiksi. Sejak kapan Prabower dan Anieser, termasuk alumni 212 tidak senstitif soal agama? Anda tahu, Rocky adalah pengkritik dan penyinyir Jokowi. Coro jawane, “Kuwi bolone dewe Mbul.” Jadi, ini lebih soal Rocky itu teman kita ketimbang soal ke-fiksi-an-kitab suci, yang bisa dijadikan perkara sensitif, demo berjilid-jilid. Kalau yang mengatakan begitu Ganjar, protes dapat dipastikan akan bermunculan. Jadi, ada semacam sikap mendadak nyastra dan milsuf.

Jadi, protes tidak protes, apapun isinya, juga bergantung pada siapa yang ngomong, teman atau lawan. Salahnya teman masih berguna, tapi benarnya musuh merugikan. Maka, jangan heran bila seseorang bersetia membela teman yang salah, dan berkeras mengkritik musuh yang benar.

Dengan begitu, saya kira kita pantas untuk merasa malu secara berjamaah. Sibuk dengan tema-tema besar, yakni agama, sastra, dan filsafat, tapi sikap dan cara berpikir kita kita jauh dari agamis, nyastra, dan milsuf. Tidak. Kita tidak akrab dengan agama, dengan kitab suci. Dekat mungkin, tapi akrab tidak. Juga dengan sastra, apalagi filsafat.

 

 

2 Comments to "Memahami Rocky Gerung dan Beberapa tentang Rocky yang Bukan Fiksi"

  1. James  15 April, 2018 at 07:13

    Rocky Gerung = A t h e i s pro si Wowo, dapet berapa si Rocky ini (nama mantan anjingku Rocky)

  2. Lani  14 April, 2018 at 04:26

    Kang Djuwandi: Mblundernya sama saja ke soal agama lagi……..kesitu lagi……bikin garuk2 sirah yg ora gatel……….
    Apakabar kang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.