Tarakanita 60 Tahun: Cinta Tak Bersyarat

Djenar Lonthang Sumirang

 

Yang menderita, diselamatkan. Yang terkungkung, dibebaskan. Jalan terang kasih Tuhan

SEKOLAH Dasar Tarakanita 2, di bilangan Petogogan, Jakarta Selatan, siang itu (07/04) menunjukkan aktivitas keramaian lain. Biasanya, hanya anak-anak sekolah yang berhamburan keluar pagar sekolah saat jam sekolah usai. Namun kali ini, bukan hanya anak usia sekolah dasar saja yang ramai, namun juga orang dewasa yang riuh rendah.

Saling peluk. Saling sapa. Hingga akhirnya derai tawa bersama.

Benarlah, Sabtu 7 April 2018, SD Tarakanita 2 sedang menghelat kegiatan temu kangen bertepatan dengan 60 tahun usia sekolah dasar Katholik ini. Semua angkatan hadir, sedari leting pertama 1957, berurut hingga generasi bungsu 2017.

Beragam acara pun digelar, mulai dari bakti sosial berupa donor darah sampai gelar seni. Hingga pukul 11 siang, dari pantauan penulis, sudah terkumpul sekira 30 kantong darah.

Menurut salahsatu panitia yang standby di bagian aksi donor darah, target yang diharapkan sekira 100 kantong. Animo untuk turut menyumbang darah memang tinggi, namun dalam prosesnya, beberapa calon pendonor tak dapat menyumbang karena beberapa alasan medis.

“Udah tadi daftar, lalu pas dicek darah, ternyata kadar Hb (Hemoglobin, red) sedang rendah. Jadi ditunda dulu,” papar Julita Winayati, dari angkatan 1979, kepada penulis. “Tadi ada calon pendonor yang ternyata berkadar Hb tinggi, sekira 18. Padahal kalo laki-laki kan kadar Hb 17 untuk bisa donor kan,” sambung cucu leksikograf W.J.S Poerwadarminta ini kepada penulis.

Memang tak bisa sembarangan melaksanakan aksi donor darah. Kegiatan donor darah di Indonesia diatur oleh Peraturan Pemerintah No. 2/2011 tentang pelayanan donor darah yang diatur oleh Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai tujuan sosial dan kemanusiaan. Pelaksanaannya dijamin melalui UU No. 36/2009 tentang Kesehatan. Pada undang-undang itu disuratkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan donor darah yang aman, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Umumnya, memang gejala Hb tinggi hampir tidak ditemukan, justru baru diketahui saat dilakukan pemeriksaan laboratorium darah. Kadar Hb yang normal bagi pria umumnya sekitar 13,8 sampai 17,2 g/dL. Sedangkan untuk wanita adalah 12,1 sampai 15,1 g/dL, dan jika lebih dari itu, anda dinyatakan memiliki jumlah Hb tinggi,” ujar salahsatu petugas PMI yang bertugas di Tarakanita saat itu.

Aksi donor darah kali ini rupanya tidak hanya diikuti alumnus Taraknita saja, namun juga terbuka untuk umum. Seperti Suprapto, misalnya, siang itu nampak antusias mendaftarkan dirinya untuk turut andil menyumbangkan darahnya.

“Sudah berulangkali ada donor darah di sekolah ini. Setiap kali dihelat, saya selalu ikut. Ya sekalian membantu sumbang darah,” ujar Suprapto, staf keamanan SD Tarakanita 2 sejak 1997, kepada penulis.

Berapapun kantong darah yang diperoleh, temu kangen 60 tahun SD Tarakanita 2 tetap mewarisi pesan penting pendahulunya: cinta kasih ala kongregasi suster-suster naungan St. Carolus Borromeus.

 

Buah kerja, buah kasih

Eropa, penutup abad ke 18, kisruh. Revolusi Perancis menyisakan bara di seantero benua biru. Dalam situasi gaduh semacam itu, Maria Elisabeth Gruyters, putri dari pasangan Nicolaas Gruyters dan Maria Borde, gundah gulana. Dari kota Leut, Belgia, ia pergi mengelana. Tujuannya ke kota Maastricht, negeri Belanda. Di kota baru ini, situasi tak berubah. Pengungsi perang dimana-mana. Beruntung, ia diterima bekerja dirumah keluar Nijpels. Dalam setiap doa, ia selalu berharap untuk berdiri sebuah biara di kota tersebut.

Doa Elizabeth bersambut. Atas bantuan P. Antonius van Baer, ketika pesta St. Petrus Martir tanggal 29 April 1837, Elisabeth mengawali Kongregasi untuk melayani Allah melalui sesama yang menderita. Tanggal 29 April 1837, Kongregasi ini resmi berdiri di kota Maastricht, serta mendapat pengesahan dari Vatikan semasa Pus Pius IX -14 Desember 1856- sebagai kongregasi kerasulan di bawah naungan St. Carolus Borromeus.

26 Juni 1864 Elisabeth wafat. Pun demikian, semangat, inspirasi serta spiritualitasnya tetap hidup dan diwujudkan penerusnya.

Perlu sekira 4 dekade untuk mendapatkan buah kasih Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus (CB) di Hindia Belanda. Permulaan abad ke 20,  Edmundus Sybradus Luypen -vikaris apostolik Batavia- meminta kongregasi CB datang ke Hindia Belanda. Luypen menyatakan kesanggupan untuk menanggung biaya hidup selama 1 tahun  bagi para suster CB yang datang dari Belanda.

10 suster terpilih, seperti termuat di laman http://parokicitraraya.org, berangkat dalam suasana Perang Dunia I. Perlu 107 hari perjalanan melalui laut yang penuh ranjau dari samudra Atlantik, New York, mampir ke Yokohama, hingga berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, 7 Oktober 1918.

Dalam perjalanan sejarahnya, Suster-suster CB berhasil menarik minat para gadis Indonesia  untuk bergabung dalam kongregasi. Palagan karya mereka bukan hanya di lapangan kesehatan, namun juga di bidang pendidikan.

“Semula, para suster menangani rumah sakit. Seiring waktu mereka melayani bidang pendidikan, pastoral, dan sosial. Jumlah komunitas pun bertambah, berawal hanya satu kini sudah lebih dari 50,” tulis Yanuari Marwanto dalam Majalah Hidup, 30 April 2017.

Sekira  tahun 1953, muncul kebutuhan untuk  membuka Novisiat di Jakarta lagi. Novisiat II pun bisa berdiri di Jl. Sungai Sambas III/7 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menggunakan tanah milik Keuskupan Agung Jakarta.

Berbarengan dengan itu, 2 Novis mendapat tugas mengajar di SD Strada milik Paroki Blok B dan SD, SMP di Blok Q. Sekolah-sekolah tersebut, catat http://parokicitraraya.org, bernaung dibawah Yayasan Tarakanita, selanjutnya semua sekolah tersebut beralih nama menjadi Tarakanita yakni SD Tarakanita 1 & 2, SMP Tarakanita 1.

Sejak berdiri tahun 1957, mungkin, sudah ribuan alumnus lulus dari SD Tarakanita 2. Mereka tersebar ke seantero penjuru, tentu dengan jalan hidup masing-masing pula. Bahkan gedung sekolah itu pun sudah banyak berubah, hanya menyisakan beberapa bagian saja yang ajeg.

“Kalo gak salah ingat, yang tetap ada itu patung Bunda Maria yang dipojok, serta ruang kepala sekolah,” papar Julita.

Pun demikian, alumnus Tarakanita 2 tak lupa akar. Berbekal memori, mereka kembali.*

 

 

2 Comments to "Tarakanita 60 Tahun: Cinta Tak Bersyarat"

  1. James  16 April, 2018 at 09:16

    keren dan indahnya Tarakanita selewat 60 tahun masih berjaya terus

    aneh kok komen saya kemaren menghilang

  2. Lani  14 April, 2018 at 04:28

    Congratulation buat Tarakanita

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.