Cariin Gue Jodoh Dong!

Audry Djayasupena – Belanda

 

Kita pasti punya saudara dan teman perempuan yang masih jomblo. Ada yang secara langsung, tanpa malu-malu, meminta kita untuk mencarikan jodoh untuknya. Ada juga yang malu-malu kucing, tidak berani secara terus-terang, meminta kita untuk mencarikan jodoh agar teman dan saudara kita itu bisa segera menemukan tambatan hatinya.

Di Belanda, aku lihat orang-orang Indonesia ataupun orang Indo/Belanda yang suka menjodohkan orang Indonesia dengan orang Belanda. Tujuan utamanya, sih, agar lebih banyak orang Indonesia dan Belanda berkumpul jika mereka membawa teman atau saudara dari Indonesia ke Belanda. Disamping, pada umumnya, untuk membantu mengangkat ekonomi saudara atau teman kita di Indonesia agar kehidupannya lebih baik.

Tetapi, setelah kita dengan susah payah mencarikan dan menjodohkan teman atau saudara kita, akhirnya kurang menyenangkan. Kebanyakan, mereka nggak tahu diri dan nggak tahu berterima kasih. Padahal, mereka sebelumnya sangat baik pada kita ketika masih tinggal di Indonesia. Sebelum mereka mendapatkan jodoh. Sebelum mereka tinggal di Belanda. Tetapi, setelah menikah dan dibawa ke Belanda, ternyata kebaikan itu hanya karena mereka ada maunya.

Parahnya, kita baru tahu setelah kita menolongnya tinggal di Belanda. Tetapi, dengan kejadian itu, kita justru nggak pernah kapok. Kita justru tetap berniat baik, mencarikan jodoh untuk teman atau saudara kita di Indonesia agar mereka bisa tinggal di Belanda. Walaupun, kita pernah punya pengalaman dikecewakan atau dikhianati oleh teman atau saudara yang telah kita jodohkan.

Bukan hanya satu atau dua orang Indonesia yang berhasil dijodohkan tetapi kemudian menjadi sombong dan tidak mau kenal kita lagi setelah mereka tinggal di Belanda. Aku sendiri suka heran, lho, dengan ulah mereka itu. Kok, bisa begitu melupakan kebaikan orang. Padahal, orang yang sudah menjodohkannya tidak perlu diberi uang atau hadiah apapun.

Dengan tetap berhubungan baik atau sekali-sekali menelepon orang yang pernah menjadi mak comblangnya, sudah membuat mereka senang. Bisa juga, mereka berkunjung ke rumah mak comblangnya. Sebaliknya, mereka justru lama-lama menghindar bahkan kalau papasan di jalan pun pura-pura nggak melihat kita.

Ada kenalanku di Belanda suka banget  menjodohkan saudaranya di Indonesia dengan orang Belanda. Padahal, hampir semua yang dia jodohkan akhirnya malah memusuhinya, tetapi nggak pernah kapok-kapok. Tetap saja, satu per satu, saudara-saudaranya dijodohkan dan dibawa ke Belanda. Alasannya, sih, biar ramai karena mempunyai banyak saudara di Belanda, katanya. Akhirnya memang benar ramai. Tetapi ramai berantem! Mereka nggak akur.

Di tempat kerjaku, ada seorang kolega orang Indo/Belanda yang menikah dengan perempuan Indonesia. Sebut saja namanya Andre. Nah, Andre terkenal suka menjodohkan kolega cowoknya dengan perempuan Indonesia.

Ada koleganya (kolega aku juga, sih) yang dijodohkan dengan saudaranya. Ada juga koleganya yang dijodohnya dengan tetangga mertuanya di Indonesia. Pokoknya, hampir setiap tahun, nih, Andre pasti membawa orang Belanda liburan ke Indonesia untuk dijodohkan dengan perempuan Indonesia. Akhirnya, koleganya yang lain ngeledek Andre, kenapa nggak buka biro jodoh saja sekalian.

karena yang dijodohkan Andre adalah kolegaku juga, jadi aku tahu, dong, perkembangan mereka. Aku tahu karena kolegaku yang dijodohkan Andre ini suka bercerita kepadaku. Mereka telah menikah di Indonesia, bahkan disunat dan telah menjadi seorang muslim. Aku tertawa mendengar ceritanya. Sebab, ia sudah tergolong tua dan begitu bangga mengatakan ia sudah disunat dan masuk Islam abal-abal. Ia tidak masuk Islam secara sungguh-sungguh tetapi hanya karena mereka akan menikah di KUA. Kalau tidak menikah di KUA, si perempuan nggak mau.

Perempuan yang dijodohkan oleh Andre kebanyakan, sih, perempuan dari kampung karena istri Andre juga dari sebuah kota kecil di Indonesia. Mereka mau dijodohkan dengan bule Belanda yang umurnya sudah tua. Perbedaan umurnya antara 15-20 tahun. Soal perbedaan umur sebenarnya nggak masalah, sih. Aku mengerti mereka bersedia menikah dengan laki-laki yang usianya jauh lebih tua karena ingin kehidupannya lebih baik. Itu pasti tujuan utamanya, selain masalah jodoh.

Aku pernah bertanya alasan Andre suka sekali menjodohkan koleganya dengan perempuan Indonesia. Jawabannya sama seperti kenalanku. Ia jadi mempunyai banyak teman dan saudara di Belanda. Selain, katanya, membantu perekonomian dan masa depan saudara atau temannya di Indonesia. Lebih baik lagi, kalau mereka bisa menetap di Belanda.

Aku hanya manggut-manggut mendengar jawaban Andre. Karena pada akhirnya, mereka bukannya bersaudara tetapi justru bermusuhan. Orangtua mereka di Indonesia juga ikut-ikutan memusuhi Andre kalau ia dan istrinya ke Indonesia. Bahkan, ada yang tidak mau bertemu Andre lagi.

Yang aku tahu, orang-orang yang dijodohkan Andre itu hampir semuanya justru nggak pernah bicara lagi dengan Andre dan istrinya. Bukannya berteman baik dan bersaudara di Belanda, mereka malah bermusuhan dan saling bergunjing, deh.

Termasuk kolegaku yang dijodohkan oleh Andre. Ada satu-dua orang yang tidak bicara lagi dengan Andre. Paling tidak, nggak seakrab dulu. Kalaupun ngobrol hanya sekedar berkata “hai” kalau kebetulan mereka berpapasan. Atau, mereka ngobrol sebatas pekerjaan saja jika ada hal terkait pekerjaan yang perlu dibicarakan.

Penyebab ‘permusuhan’ ini karena hasutan istri barunya. Kolegaku nggak bisa Bahasa Indonesia. Si perempuan yang dijodohkannya juga masih belajar Bahasa Belanda.

Aku kadang bingung dengan pasangan yang menikah secara kilat. Bagaimana mereka berkomunikasi, sedangkan mereka saling kenal belum terlalu lama, dan langsung menikah. Lalu, pasangannya dibawa terbang ke Belanda, tinggal satu rumah, satu tempat tidur. Semua serba kilat.

Aku kerap iseng dan usil bertanya dengan kolegaku alasannya tidak akrab lagi dengan Andre. Jawabannya tentu saja karena istri kolegaku sudah bermasalah dengan Andre. Ada-ada saja alasannya. Namanya juga gosip. Pihak yang berbicara tentu selalu merasa benar. Dari sisi Andre, ia juga merasa di posisi yang benar. Aku menyarankan agar keduanya berbicara dari hati ke hati sehingga bisa kembali akur dan akrab.

Aku mengenal perempuan Indonesia yang dijodohkan dengan kolegaku oleh Andre. Perkenalan terjadi saat pesta karyawan di akhir tahun. Karena saat itu, istri kolegaku diajak serta ke pesta. Tetapi aku hanya sekadar kenal saat bertemu di pesta karyawan, nggak berteman.

Bagaimana dengan pembaca Baltyra apa pernah punya pengalaman menjodohkan orang?

 

Salam Bhinneka Tunggal Ika

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

One Response to "Cariin Gue Jodoh Dong!"

  1. James  26 April, 2018 at 10:14

    saya sih ogah menjodohkan orang lain karena tau tujuannya gak bener dan ya itulah secara umum orang Indonesia itu tidak menghargai usaha orang lain, suka kacang lupa kulitnya

    itu memang buktinya maka kalau dibanding dengan Bangsa lain yang lebih friendly dan appreciated

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.