Tradisi Ganti Nama (2)

Mbilung Sarawita

 

Artikel sebelumnya:

Tradisi Ganti Nama

 

Tapi saya belum pernah ketemu daerah yang punya tradisi ganti nama untuk perempuan setelah menikah.
Kebanyakan yang terjadi hanyalah perubahan panggilan, dari dipanggil nama aslinya (atau nama “paraban”nya) menjadi dipanggil “Bu + nama suaminya”.

Perubahan panggilan itupun sifatnya “otomatis”, tanpa upacara sakral “jenang abang”, tanpa mengundang tetangga-sekitar. Mungkin upacara pernikahan dianggap sudah cukup untuk terjadinya perubahan panggilan bagi perempuan.

Ada pro-kontra mengenai fenomena tersebut.

Kelompok kontra menilai “penghilangan nama-diri” perempuan itu merupakan bukti dominasi laki-laki pada tradisi. Perempuan (istri) dianggap milik laki-laki (suami), tapi tidak sebaliknya. Katakanlah Pariyem menikah dengan Paimin. Panggilan “Pariyem” menjadi hilang, diganti “Bu Paimin”. Kalau memang perempuan sejajar dengan laki-laki, mestinya panggilan “Paimin” dihilangkan pula, diganti “Pak Pariyem”.

Atau, mestinya keduanya tetap dipanggil nama-aslinya saja, atau nama “paraban”-aslinya, bukan nama pasangan-hidupnya. Fenomena ini juga merugikan perempuan apabila bercerai. Timbul perasaan kikuk / sebel / marah ketika masih banyak orang (yang belum tahu bahwa dia sudah bercerai) memanggilnya dengan “Bu + nama mantan suaminya”. Ada “kerja ekstra” yang harus dilakukan untuk menjelaskan bahwa dia sudah bercerai dan tidak mau lagi dipanggil demikian.

Kelompok pro menilai “itu bukan penghilangan nama-diri”. Buktinya di KTP masih tertulis nama-aslinya. Panggilan “Bu + nama suami” justru memuliakan perempuan, karena menempatkannya sebagai manusia-perempuan yang sudah sempurna, yaitu “Ibu”. Bukan cuma “induk” bagi anak-anaknya, melainkan juga “pengganti-ibu” bagi suaminya. “Bu Paimin” bukan “perempuan milik Paimin”, melainkan “ibu-sambungnya Paimin”. Dialah yang kini memperhatikan apakah suaminya sudah mandi, sudah makan, kalau sakit apakah sudah minum obat, dan sebagainya dan seterusnya, kegiatan-kegiatan yang dulu dilakukan oleh ibunya Paimin.

Sebagai personifikasi “ibu pertiwi”, dialah tempat “penampungan” segala macam “sampah” dari anak-anaknya dan suaminya. Dialah “pusat kehidupan keluarga”, posisi yang tidak mampu diemban oleh mayoritas laki-laki. Perempuan bisa menjadi “ibu” bagi suaminya, tetapi laki-laki tidak bisa menjadi “bapak” bagi istrinya. Laki-laki bisa menjadi “bapak” bagi masyarakat luas, tetapi di dalam rumah dia hanyalah “anak tertua” dari sang ibu rumah tangga. Nama suami di belakang sebutan “Bu” hanyalah “merek” yang justru meneguhkan bahwa si pemilik nama itu sekarang hidupnya “nunut diopeni” oleh isterinya.

Saya tidak ingin berpihak pada yang kontra ataupun yang pro. Keduanya punya nalar masing-masing. Di muka bumi ini tidak ada yang 100% benar/baik, juga tidak ada yang 100% salah/buruk. Menilai segala sesuatu harus dilihat konteksnya satu per satu, “case by case”. Masing-masing orang punya latar belakang sosial-budaya, sejarah hidup dan pencerahan-pencerahan yang berbeda-beda. Itulah yang menyebabkan seseorang termasuk kelompok kontra ataukah kelompok pro terhadap fenomena sebutan “Bu + nama suami”.

Panjenengan bagaimana?

 

 

3 Comments to "Tradisi Ganti Nama (2)"

  1. Lani  2 May, 2018 at 07:20

    Aku sendiri setelah menikah tdk pernah ganti nama, maupun ditambah nama family suami dibelakang namaku. Aku tetap menggunakan namaku+nama bapakku dewe……….

    Karena ganti nama atau ditambah nama suami setelah menikah bukan suatu keharusan ditempat kami menikah di America

  2. Lani  2 May, 2018 at 07:19

    Aku setuju dgn James. Itu ganti nama secara dipaksa

  3. James  28 April, 2018 at 06:53

    ganti nama yang terparah adalah Nama Lahir Keturunan Tionghoa diharuskan dipaksa di ganti Nama Indonesia oleh yang namanya si Soeharto

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.