Jadi Keberatannya Di Mana?

Dian Nugraheni

 

Aku memanggilnya dengan nama lengkap, ketika menulis email balasan untuk si Bapak, dengan sebutan Mr. dan masih kutambahi dengan kata Sir, di belakangnya. Rupanya si Bapak merasa aku terlalu formal, maka, kembali dia menulis email kepadaku,

Hello Dian,

Please call me by my first name.

I understand your reticence but I find you so charming and your smile wins me over, that I must politely insist that we should get to know each other.

Idiiih, Bapak nih…Itu kan kata Bapak, “we should get to know each other…”

Si Bapak juga menulis, “Please tell me about your job and your writing in your native language…”

Ini karena aku ditanya sama dia, “hobbymu apa..?”

Sampai kemudian aku sempat menjelaskan bahwa aku menulis, sesuatu yang ringan saja, dan sudah menjadi 2 buku yang diterbitkan di Indonesia.

Bla..bla..bla…Akhirnya, aku merasa bahwa menyambut ajakan makan malam dari si Bapak itu, ternyata too complicated buatku. Aku nggak bisa ber-easy going dalam kasus ini.

Itu setelah aku tanyakan berkali-kali, pada diri sendiri, sampai ke lubuk hati yang paling dalam, dan jawabnya tetap, “tidak usah….”

Ya iyalah, tidak usah. Emang ngapain coba, buang-buang waktu, enerji, dan mungkin emosi, hanya untuk ngobrol-ngobrol yang aku merasa, itu tidak perlu.

Ya, nggak perlu lah. Taruhlah aku ge er gitu ya, bilang bahwa si Bapak itu ada “maksud” ke aku. Lha padahal aku kan sudah nggak mau menikah, nggak mau pacaran juga. Maka si Bapak itu tau aku, atau nggak tau aku, nggak ada bedanya kan..? Apalagi aku ke si Bapak, sungguh-sungguh tidak tertarik untuk mengetahui apa pun soal dia.

Setelah semua yang terjadi, bercerai, lalu ketepu laki-laki yang katanya bla..bla..bla.., jebulnya cuma bla..bla..bla.., ya sudah, itu menjadi pelajaran buatku. Mosok ya mau ketepu berkali-kali.., mosok ya mau mengulangi berumah tangga yang belom tentu juga lebih bagus dari yang pertama kujalani dulu..?

Enough is enough, wes tuwo…hixixixi… Kalau orang bilang bahwa setiap makhluk itu diciptakan berpasangan, ya memang benar, aku pun begitu.

Aku, berpasangan dengan diriku sendiri…

But, really, Mak..?

Gimana kalau yang ngajak makan malam, si dia yang muda belia cemerlang bermata indah, yang mampu membuatmu lupa ini dan lupa itu, yang membuatmu berasa kembali menjadi dara usia delapanbelas..?

Awww….!! Kayaknya kalau si dia yang ngajak makan malam, aku nggak perlu banyak alasan..

Let’s go, baby..!!

_Dan itu, tak mungkin akan terjadi_ 😜 😥 😅 🤣

Foto: Bunga Sakura

 

 

4 Comments to "Jadi Keberatannya Di Mana?"

  1. s.Goh  8 May, 2018 at 09:13

    THE STORY I ALWAYS WANT TO WAIT….

  2. James  3 May, 2018 at 09:21

    tidak mungkin ? …..no body knows days to come, who knows you will experience it as a reality in life, then what you can say….just do it

  3. Tri  2 May, 2018 at 15:05

    Semoga one day ketemu yang cocok.Masih muda mbak Di

  4. Lani  2 May, 2018 at 07:27

    Wakakakak urun ngakak waelah…………mmgnya benar udah kaga mau menikah lagi???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.