HAVENU SHALOM ALEICHEM…… ASSALAMUALLAIKUM

Osa Kurniawan Ilham

 

Saya memang tidak seberuntung mas Iwan Kamah yang berkesempatan masuk dan berbicara dengan penghuni sinagoga satu-satunya di Surabaya ini. Tapi bagi saya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri The Last Synagoge di bulan Desember 2008 sudah menjadi keberuntungan sendiri.

Masalahnya minggu ini saya mengalami ketidakberuntungan lagi: menyaksikan rumah bekas markas radio siaran Bung Tomo yang bisa bertahan terhadap serbuan tentara Sekutu tetapi tidak mampu bertahan terhadap serbuan buldoser dari persaudaraan antara saudagar dan pembesar kota. Rencana tinggal rencana, saya tidak bakal lagi bisa mengunjungi bangunan bersejarah itu.

Para pedagang Yahudi sudah mengunjungi Nusantara pada masa imperium Majapahit di abad 13. Namun upaya untuk membangun Yudaisme di Jawa baru berlangsung pada abad 19 dan 20, dimulai pertama kali oleh seorang Yahudi Saleh bernama Benjamin Joshua di Batavia tahun 1850-an. Perangkat-perangkat keagamaan seperti Rabbi, mohel dan sinagoga mulai tertata di Jawa sejak tahun 1930-an. Pada tahun 1940-an, agama Islam, Kristen, katolik, Yahudi sudah bersanding secara resmi dengan agama-agama lain di bawah kuasa Kolonial Hindia Belanda.

Surabaya di masa silam memang memiliki peran sentral dalam eksistensi Yudaisme. Tahun 1871 di Surabaya terdapat 3 keluarga Yahudi yang berasal dari Persia. Tahun 1930 di Jawa Timur sudah terdapat 332 orang Yahudi yang mana 190 laki-laki dan 142 perempuan. Pada tahun itu di Surabaya terdapat seorang Yahudi Bagdad yang bertugas sebagai tukang khitan bagi anak-anak Yahudi. Di Surabaya pula pada tahun-tahun itu berdiri Kursus Bahasa Ibrani yang didirikan oleh van Creveld.

Di Batavia tidak bakal ditemui adanya sinagoga karena walaupun berbagai upaya sudah dilakukan oleh komunitas Yahudi di Batavia, segala usaha membangun sinagoga selalu gagal. Karena itulah ibadah-ibadah dilakukan di rumah-rumah atau kalau memang memerlukan tempat yang luas mereka menyewa gedung atau hotel-hotel mewah atau gedung Masonik milik perkumpulan Theosofi Batavia.

Berbeda dengan Surabaya. Sebuah rumah di Jl. Kayoon 40 Surabaya, semula milik dokter Belanda bernama dr. I. Segall, berhasil dibeli oleh komunitas Yahudi Sephardim dan kemudian dialihfungsikan menjadi sinagoga sejak akhir 1930. Sinagoga di Surabaya ini dikenal sebagai sinagoga Sephardim, beraliran ortodox dan sangat ketat menerapkan hukum-hukum Yahudi. Dalam beribadah, tempat duduk jemaatnya dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Perangkat ibadat berupa mimbar, menorah, tabut gulungan Taurat, Bintang Daud dan perangkat ibadah lainnya tersedia lengkap di sinagoga ini.

The Last Synagoge di Surabaya ini masih berdiri kokoh melewati masa kelam pendudukan Jepang, masa revolusi 1945 dan bahkan saat melewati masa represif rejim Soeharto karena dijaga dan dirawat dengan baik oleh komunitas Yahudi di Surabaya.

Nomor alamat posisi sinagoge ini kemudian berubah dari yang semula Jalan Kayoon 40 menjadi Jalan Kayoon 4 Surabaya. Memasuki masa reformasi sinagoga ini mengalami masa senjakalanya. Tahun 2011 beberapa ormas Islam di Surabaya pernah menduduki rumah ibadah ini hanya karena merasa terganggu dengan keberadaan sinagoga berumur 81 tahun itu.

Seorang pengusaha kemudian membeli lahan beserta bangunan sinagoga ini. Bangunan Sinagoga yang telah masuk dalam daftar bangunan yang “Diduga Bangunan Cagar Budaya” sesuai SK Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya No. 646/1654/436.6.14/2009 tertanggal 16 April 2009 ini memasuki masa kehancurannya. Bulan Juni 2013, The Last Synagoge ini benar-benar dihancurkan rata dengan tanah. Tiada lagi jejak peradaban Yahudi di Surabaya yang berupa sinagoga itu.

Menariknya…tiada pejabat pemkot yang menangisi hancurnya bangunan bersejarah itu. Sama dengan minggu lalu…. tiada pula pejabat pemkot yang menangisi hancurnya markas Radio BPRI-nya Bung Tomo.

Besok kalau ada bangunan bersejarah yang dihancurkan lagi…kita akan menelannya lagi bak makan gado-gado Arjuna…tiada yang istimewa selain romantika masa lalu…begitu kata para pembesar itu.

 

Havenu shalom aleichem…kubawa damai sejahtera bagimu…..

 

Sumber pustaka: Romi Zarman, Yudaisme di Jawa: Abad ke 19 dan 20, Penerbit Ning, Yogyakarta, 2014.

 

 

3 Comments to "HAVENU SHALOM ALEICHEM…… ASSALAMUALLAIKUM"

  1. adi saputro  3 December, 2018 at 00:37

    Maturnuwun pak, ternyata ada orang Yahudi yang hidup di bumi nusantara

  2. Lani  9 May, 2018 at 09:46

    Waduh kenapa bangunan sejarah dihancurkan? Apakah akan dibangun mall?

  3. Gunawan Prajogo  8 May, 2018 at 15:30

    Saya pernah bertemu dengan 1 Keluarga Yahudi di Surabaya. Sambil berbincang santai, saya katakan how sorry l am for the fate of their sinagoge. Menurut mereka membangun lagi di Bali dan memindahkan semua kegiatan dan dan ibadahnya disana. Terima kasih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.